Sebuah Cerita Tentang Perawan Tua

Standard

Pernah punya kenalan seorang gadis dengan usia yang sudah lewat masa lumrah untuk hitungan pertama kali menikah?

Aku punya.

Sejauh yang aku ingat ada dua. Yang usianya lebih dari 30 tahun. Mungkin sekitar 40 malah.

 

Sehari-harinya ada saja orang yang suka menganggap jelek perawan tua. Atau setidaknya orang yang memilih menikah agak ‘siangan’. Pemilihlah. Nggak laku-lakulah. Judeslah. Macam-macam.

 

Dua wanita ini adalah dua orang yang saya kagumi. Mereka orang-orang hebat. No matter how public criticize them.

Yang pertama adalah guru matematika kami ketika di sekolah menengah. Cantik. Berjilbab. Berkarakter. Cerdas.  Favorit murid-murid. Waktu itu aku masih belasan awal. Dan dia mungkin sekitar 36 tahunan. Beliau orang baik. Sederhana. Belum menikah hingga beberapa tahun selepas aku lulus smp. Sekarang alhamdulillah sudah.

 

Yang kedua tipikal orang hebat yang agak beda tampilan dengan yang pertama. Guruku juga. Guru yang menginspirasi beberapa tindakan dalam hidupku. Dia terkesan arogan. Pintar memang, tapi orang cenderung menjauhinya. Sebetulnya beliau adalah tipikal essential thinker, hanya saja budaya berpikir anak didiknya yang masih muda-muda ini cenderung dominan dengan letupan emosi yang jauh dari objektif. Orang-orang mengutuknya lantaran perfeksionis. Tapi sejauh aku bisa memandang, ‘kalau memang standarnya segitu dan anda kemudian di bawah standar, wajar donk kena kritik atau batal dapat nilai perfect’. Iya kan?

 

Perawakannya lebih kecil dari postur guru saya yang pertama. Tapi kinerjanya luar biasa. Dia menggagas sebuah perhelatan besar, annual, diakui nasional, dengan banyak stake holder diantaranya satu kementerian besar, dan direktorat jenderal. Lobbying. Dedication. Trustability. She does a (wo)man. Bisa dibilang stands alone, lantaran selain dirinya, kru yang lain bisa ganti2. Menjabat posisi utama dalam perhelatan tadi, tahun demi tahun. Terlalu riskan bagi penyelenggara perhelatan ini untuk menggantikan dirinya dengan yang lain. Bukan tidak mau. Mungkin yang bersangkutan sejatinya pun sudah ingin istirahat. Pertanyaan berkisar tentang, ‘siapa yang mampu menggantikan dia dengan segenap kapabilitasnya?’

 

Nona yang kedua cenderung mudah jadi public enemy. Standarnya memang tinggi. Tapi mungkin memang semestinya segitu, hanya saja budaya kita terlampau banyak memaklumi ketidaksanggupan memenuhi kualifikasi sejati dalam begitu banyak sisi hidup.

Entahlah. Mungkin karena kepalanya penuh dengan urusan serba rumit. Komunikasi interpersonalnya sepertinya agak kurang terpelihara. Banyak pihak salah paham dengan tindakan dan keputusannya. Sampai ada saja orang yang memanggil dirinya ‘ibu suri’ di balik punggungnya. Saking bencinya.  Sering diremehkan dan dibilang tidak punya teman. Dan kalau orang-orang mulai kesal, statusnya yang masih lajang sering jadi bahan ejekan. Secara pribadi aku menyayangkan kondisi ini. Ibarat dua kamar terpisah oleh sebuah tirai. Sebelah sisi personal dan sebelah urusan profesional. Kemudaan kiita dalam menilai seringkali secara paksa mengangkat tirai ini dan menyingkirkan segala sikap hormat yang idealnya kita junjung, sebagai orang terpelajar, atau bahkan sebagai sesama manusia.

 

Seringkali kita mengkritik, menilai, memandang jelek, bahkan sampai menjelek-jelekkan seseorang lantaran dia (maaf) perawan tua. Manusia memang tidak sempurna. Tapi itu bukan legitimasi untuk menyerang sisi-sisi privat orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan kita. Menyinggung.

 

Aku pribadi tidak benar2 tau. Siapalah kiranya yang sungguh-sungguh tau, kenapa juga takdir seseorang berjalan demikian. Selain bahwa semua itu sudah kehendak Tuhan.  Kita tidak pernah mengunjungi secara intens, ruang-ruang alasan mengapa seseorang (dengan izin Tuhan) mengambil pilihan atas jalan hidupnya. Tapi mudah sekali bagi kita, untuk ikut-ikutan berperan dalam proses penghakiman. Benar-salah. Pantas-tidak pantas. Baik-tidak baik.

 

Sekedar berkisah. Membagi ceritera riil yang semoga saja bisa kita petik hikmahnya bersama-sama.

Wanita yang pertama, guru kami di masa sekolah menengah itu, adalah wanita yang cantik. Relatif memang. Tapi bahwa aura kecerdasan, good interpersonal, karakter, dan kemampuan manajerialnya jelas menyumbang poin-poin tersendiri yang membuatnya semakin berkilauan. Entahlah sudah berapa pria melamarnya. Entah dia menolak atau tidak. Yang jelas belum ada yang ‘deal’ hingga aku lulus dari sekolah itu.

 

Tau kenapa? Cerita yang aku dengar adalah, ibu guru kami ini mengidap sebuah penyakit yang aku tidak tau pasti namanya apa. Yang jelas, sejauh yang mampu dijangkau oleh keterbatasan pengetahuan kesehatan para dokter yang ditemuinya, sulit baginya (baca : divonis tidak bisa) memiliki keturunan.

Adalah ternyata, ketulusan dan keberaniannya untuk jujur, yang menjadi penyebab dirinya belum memiliki pendamping. Dia jujur teman, sejujur itu. Mengatakan hal yang sebenarnya bisa saja secara egois ia simpan dari hadapan sekian lelaki yang datang memintanya dahulu. Tapi dia memilih jujur. Dan memberikan kesabaran sepanjang nafas sebagai konsekuensi kejujurannya tadi. Cantik kan? Itu baru wanita sejati.

 

Guru kami yang kedua belum kunjung Tuhan hadiahi pendamping hingga ceritera ini aku tulis. Mari kita doakan sama-sama. Tidak juga tau alasannya kenapa. Tapi buatku dia tetap perempuan hebat. Dicaci maki sekalipun tetap saja tegar. Wanita lain menikah dan melahirkan anak. Banyak, bisa jadi. Tapi belum tentu mampu menghadirkan cita-cita dalam jiwa anak-anaknya. Tapi buatku dia itu, melahirkan generasi dengan caranya. Dengan cinta dan cita-cita yang mungkin terlampau abstrak dan luar biasa untuk dicerna oleh orang kebanyakan. Dia melahirkan kesempatan bagi generasi demi generasi untuk melihat dunia yang lebih luas lagi. Dia membukakan peluang dengan segenap daya yang Tuhan titip padanya, memungkinkan lebih banyak orang punya lebih banyak cita-cita soal negeri ini. Diakui atau tidak. Orang lain bilang dia ibu suri. Perintah-perintah sana-sini. Marah-marah saban hari. Tapi menurutku dia mirip ratu lebah. Besar. Digdaya. Semua (mau tidak mau) ‘tunduk’ padanya.  Tapi riil. Jika tanpa dirinya, jutaan lebah pekerja berkumpul sekalipun, apalah artinya.

 

Wanita sejati itu hidup dengan definisi cantik yang tidak berhenti di marka batas fisik. Tapi lebih dalam lagi. Lebih luas lagi. Tidak memudar dimakan keriput.

 

Wanita sejati itu hidup dengan definisi sukses yang maknanya lebih esensial ketimbang hitung-hitungan uang, keturunan, hektar tanah, atau kekuasaan. Mereka memilih memaknai kata sukses dengan perenungannya sendiri. Mengejar kesuksesan yang dalam banyak kasus tidak senada dengan arti kata sukses dalam pandangan orang-orang. Mereka menghadapi risiko menjadi beda. Tapi dewasa.

 

Wanita sejati tidak patah arang oleh cobaan. Semua datang dari Tuhan. Mereka berjalan dengan kesadaran penuh akan penghayatan sebuah pandangan, ‘bahwa segala yang sehat bisa sakit. Dan segala yang sakit berhak atas harapan kesembuhan.’ mereka memilih secara ksatria, menghadapi rasa sakitnya.  Menarik nafas dalam-dalam, teruus berjalan. Setia pada apa yang hatinya percaya.

 

Wanita sejati menanak gagasan. Menanam nilai. Menjiwai proses ‘melahirkan’ jauh lebih ideologis, bukan semata-mata agenda biologis.

Wanita sejati tidak gila tepuk tangan. Belajar hal yang benar untuk kemudian menjadikannya standar, untuk kemudian memenuhinya sebisa-bisanya.

 

 

Advertisements

10 responses »

  1. yup,,, Tuhan telah menuliskan jalan hidup manusia. jika sampai saat ini Tuhan belum memberikan pasangan hidup, untuk apa menjadi takut dan minder. toh, dalam kesendirian sampai saat ini, mereka yang belum menikah tetap melihat segala kebaikan dan mujizat Tuhan bahkan mungkin lebih besar dari mereka yang telah menikah. belum menikah sampai di usia yang tua bukanlah suatu penyakit yang tidak akan pernah sembuh bagi sebuah keluarga. so, ubah paradigma yang salah sehingga kita dapat menyadari betapa kecilnya kita dihadapan Tuhan dan tidak seenaknya menghakimi mereka yang belum juga Tuhan kirimkan pasangan hidupnya.

  2. Ketinggian hati akan menjadi halangan untuk bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan lugas. Lebih baik jika batasan tersebut dihilangkan dan menjadi yang melayani dengan kesederhanaan sehingga kagum dan hormat akan datang.

  3. Pingback: Sepenggal Cerita Perawan Tua | Cep5's Blog

  4. Pingback: Sepenggal Cerita Perawan Tua | asopi's Blog

  5. Sebenarnya menjadi perawan tua bs jadi krn kepribadiannya. Kalau kasus yg divonis tdk bs punya keturunan itu berarti sdh jalannya. Ada kasus perawan tua dr keluarga besar, dia memiliki perangai kasar, suka memaki meskipun itu ipar/keponakannya sendiri. Pernah ‎​♏ªªàÛ dilamar tp si calon mundur duluan. Si calon pun pernah dimaki-maki selama pendekatan. Sifatnya galak dan suka mencampuri rumah tangga iparnya. Sayangnya dia tidak ‎​♏ªªàÛ menyadari perangainya, jika diingatkn malah balik mencari kesalahan org yg mengingatkannya. Bukan rahasia lagi, suka mengadu domba para ipar dg suami mereka (kakak2nya). Usianya sdh diatas 30, sebaya dg saya. Ada jg org yg berperangai ‘bossy’, cenderung menilai org scr subyektif,sekehendak hatinya. Saya pun nyaris jd perawan tua dan dilangkahi adik saya, jk tidak membenahi diri. Rupanya, hati saya memiliki rasa dengki pd sesama, namun dimata teman2, saya adalh orang baik…dan 2 org contoh yang sy kemukakan, dilihat dr ucapan perbuatan memang nampak ada kedengkian. Saran saya, cobalh instropeksi. Kembangkan pikiran positif terhadap diri sendiri dan org yg kita dengki, dekatkan diri pd Tuhan. Pasti ada jalan utk mengubah nasib td.

  6. Sebenarnya menjadi perawan tua bs jadi krn kepribadiannya. Kalau kasus yg divonis tdk bs punya keturunan itu berarti sdh jalannya. Ada kasus perawan tua dr keluarga besar, dia memiliki perangai kasar, suka memaki meskipun yg dimaki itu ipar/keponakannya sendiri. Angkuh dan mudah merendahkn org walaupun itu ipar dan keponakannya sendiri. Pernah ‎​♏ªªàÛ dilamar tp si calon mundur duluan. Si calon pun pernah dimaki-maki selama pendekatan. Sifatnya galak dan suka mencampuri rumah tangga iparnya. Sayangnya dia tidak ‎​♏ªªàÛ menyadari perangainya, jika diingatkn malah balik mencari kesalahan org yg mengingatkannya. Bukan rahasia lagi, suka mengadu domba para ipar dg suami mereka (kakak2nya)agar bertengkar. Usianya sdh diatas 30, sebaya dg saya. Ada jg org yg berperangai ‘bossy’, cenderung menilai org scr subyektif,sekehendak hatinya. Saya pun nyaris jd perawan tua dan dilangkahi adik saya, jk tidak segera membenahi diri. Rupanya, hati saya memiliki rasa dengki pd sesama, namun dimata teman2, saya adalh orang baik…dan 2 org contoh yang sy kemukakan, dilihat dr ucapan dan perbuatan memang nampak ada kedengkian. Saran saya, cobalh instropeksi. Kembangkan pikiran positif terhadap diri sendiri dan org yg kita dengki, dekatkan diri pd Tuhan. Pasti ada jalan utk mengubah nasib td.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s