The Mathematic of Marriage

Standard

Pernah berpikir tentang matematika cinta? Lebih konkretnya matematika pernikahan?

Manusia belajar dari pengalaman. Dan aku mengalaminya sejak lama, tapi baru terilhami untuk memikirkannya.

 

Matematika cinta adalah pengurangan

Mengurangi sifat negatif dan rasa egois untuk lebih toleran menghadapi cinta yang kompleks

 

Matematika cinta adalah perkalian

Meningkatkan rasa peka dan peduli hingga berkali-kali lipat untuk menghasilkan kemanfaatan yang lebih banyak

 

Matematika cinta adalah pembagian

Membagi cinta sejati tanpa pernah akan kehabisan

Karena cinta sejati itu energinya dari langit

Berbuah layaknya sedekah

Makin banyak dibagi, makin banyak barakah

Dan cinta tidak melulu antara kita dan kekasih kan?

Juga tentang mencintai orang-orang yang dikasihi dan mengasihi kita, juga yang dikasih dan mengasihi kekasih kita

 

Tapi taukah kau?

Awalnya aku hanya ingin bicara tentang matematika pernikahan

Satu saja, dari sekian banyak operasi hitungnya

 

Tidakkah menikah itu adalah pertambahan, penjumlahan

Setidaknya itulah yang aku harapkan

 

Bagi orang tua pernikahan anaknya adalah menambahkan menantu dalam pohon keluarganya

Menantu = anak. Maka bertambahlah anaknya

 

Bagi yang menikah pernikahan adalah menambah

Menambah komitmen dan kesungguhan cinta cita

Menambah jumlah bayangan yang berjalan di samping bayangan kita

Untuk jangka waktu yang intens dan lama

 

Bagi seorang kakak pernikahan adiknya memberinya tambahan adik

Tambahan masalah untuk dibantu selesaikan

Tambahan jiwa untuk dilimpahi cinta

Tambahan teman untuk berbincang dalam segala pengertiannya

 

Dan bagi seorang adik pernikahan kakaknya adalah menambah jumlah kakak

Memberinya tambahan kakak untuk berbagi

Memberinya tambahan kakak untuk bersama-sama kakak kandungnya nya menjadi kakaknya

 

Hanya saja,

Hidup tak selalu satu warna dengan mimpi-mimpi kita

 

Dalam banyak kasus operasi pengurangan terjadi justru pada konteks operasi yang mestinya penambahan

 

Orang tua kehilangan anaknya

Tak ada yang mengunjungi untuk sekian lama

Tak ada yang seperhatian dulu

Yang menikah mengemukakan begitu banyak alasan untuk menghindar. Membawa-bawa pernikahan dan keluarga kecilnya sebagai alasan : kenapa ia tidak datang berkunjung, tidak bisa mengirimkan bunga-bunga perhatian, menjadi jarang telepon, dan entah sadar atau tidak membiarkan orang tuanya kesepian – kehilangan anaknya pelan-pelan.

 

Bagi pasangan yang dinikahi pernikahan juga bisa jadi realita pengurangan.

Pengurangan rasa hormat pada mertua. Rasa sayang yang masih sama kurangnya pada ipar-iparnya. Semoga bukan karena apa yang dia inginkan sudah didapatkannya.

 

Kakak kehilangan adiknya. Dan adik kehilangan kakaknya. Waktu untuk bersama dan berbincang hal yang tidak kita ingin orang lain dengan terpangkas drastis. Penambahan justru terjadi pada telinga, padahal untuk konteks ini yang kami butuh hanya kami berdua. Sebentar kan, sungguh tak kan lama. Pernikahan kakak bagi adik, tak selamanya menambah jumlah kakak bagi adik. Adakalanya justru kakak de facto nya, berkurang. De jure tentu masih. Tapi de facto?

 

Tak ada yang salah bahwa dunia kita masing-masing berubah.

Bahwa suatu perubahan menuntut adanya penyesuaian. Itu dia! Penyesuaian!

Bagaimana mewujudkan cinta yang sama dengan cara yang berbeda.

Bagaimana mengendalikan waktu agar semua hak tetap tertunaikan.

Pernikahan itu menambah. Menambah kewajiban. Tapi juga pendewasaan untuk lebih bijak mengambil siasat untuk menunaikan kewajiban.

Pernikahan itu pilihan sekaligus takdir bagi yang sudah menjalaninya.

Tapi selamanya bukan alasan untuk tidak menunaikan kewajiban lain yang telah lebih dulu, atau kemudian akan datang, melekat pada kita sebagai bagian dari entitas yang lebih besar dari keluarga kecil kita. Lebih besar dari soal ‘aku dan kamu’.

 

Realita itu membuatku berpikir, aku tidak ingin membiarkan diriku tega mengambil.

Jika ada yang harus berkurang bukan pada konteks pengurangan yang tepat, semoga bukan aku faktor pengambilnya.

Tidak ingin mengambil anak dari ibunya.

Tidak ingin mengurangi kewajiban adik terhadap kakaknya.

Tidak ingin mengambil cinta kakak dari adiknya.

Dan tidak ingin menambah masalah bagi keluarganya.

Tidak akan pernah bisa jadi sempurna. Tapi setidaknya aku pernah bercita-cita.

 

Aku ingin menjadi segala elemen hitung yang akar operasionalisasi konsepnya berlaku tepat pada konteksnya.

Semoga tak akan pernah ada yang mengeluh pada Tuhannya : alangkah baiknya jika aku tidak pernah ada dalam takdir hidup mereka.

 

Kamar Az Zukhruf, RQ2 Depok,

08.20 WIB

4 Juni 2012

Advertisements

3 responses »

    • perasaan baru di naekin. cepet amat balesnya.haha. makasih alfi. amin. semoga ber +, bukan ber – kemanfaatannya. =,) have a beautiful life, alf!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s