Tentang Belajar dan Mengajarkan

Standard

Sudah seringkali mendengar, membaca, tapi baru hari ini tersentak.

Sebuah hadist yang bercerita tentang orang yang terbaik, ‘yang terbaik di antara kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an’.

 

Aku adalah aku yang me(nye)mbunyikan banyak tanya. Tidak kunjung memahami juga. Aku memang lambat. Kau tau? Aku mirip siput.
Dalam banyak kasus, aku melambat lantaran belum memahami secara utuh. Maka aku lambat sepakat. Hadist itu membuatku berpikir,

‘buat apa hafal tapi suka ghibah. Bukankah pahalanya terbakar?’

‘tidakkah ironis, mereka yang sudah setor 30 juz hafalan itu masih juga lemah dalam husnudzhan pada saudara sendiri. Pikirannya sibuk dengan curiga. Lisannya berganti agenda antara qur’an dan membincangkan seorang demi seorang.’ kenapa ya, nun di dalam hatiku, aku yakin, sejatinya ironi ini tidak perlu. Jika sampai terjadi, aku berpikir ada yang salah di perjalanannya. Bukan tentang qur’annya, bukan tentangnya belajarnya, tapi tentang diri kita sendiri. Tentang pemaknaan yang mampu kita bagikan dengan seluruh sel dalam inch per inch tubuh kita.

 

Di asrama kami dalam banyak kesempatan, terbukalah mimpi-mimpi kita. istri shalihahlah, bidadari surgalah.

Bagus.

Sangat bagus malah.

Hanya saja, aku masih berpikir. Ironi itu tidak perlu.

 

Di asrama kami, ada banyak piring kotor bertumpuk.

Ironis. Bidadari surga mana yang rela istananya kotor?

Malas mencuci piring mungkin memang bukan indikator kegagalan seorang wanita untuk masuk ke dalam surga.

Tapi, bukankah ada baiknya, jika punya cita-cita yang tinggi, hasrat untuk melakukan lebih dan lebih baik lagi – ihsan, itu mengimbanginya.

Hemmhh… Maaf ya, sepersil hidup kami. Kecil. Aku hanya berpikir, ini kecil dan karenya banyak mata yang lalai darinya. Tapi menarik. Seperti debu di mata. Ada baiknya diangkat.

 

Kembali ke topik.

Kita sedang berbicara tentang belajar dan mengajarkan.

Aku baru saja terpahamkan. Aku setidaknya mulai tercerahkan.

Belajar dan mengajarkan al qur’an itu bukan sekadar membicarakan tajwid, huruf-huruf hijaiyah, hukum-hukum bacaan, atau setoran hafalan qur’an.

Nun, lebih jauh dari itu. Dengan makna yang lebih dalam. Disertai lebih banyak kewajiban. Dijanjikan dengan lebih beragam balasan. Dahsyat. Jauh lebih dari apa yang dahulu aku perkarakan.

 

Ini tentang belajar dan mengajarkan segala hal ideal dalam hidup. Tentu mencuri, memfitnah, dan kawan-kawannya tidak dapat tempat di sini. Ini tentang belajar dan mengajarkan segala sesuatu yang bajik. Yang bijak. Ini kebenaran universal.

 

Ingatkah kita, akhlak Rasul Saw itu adalah al qur’an.

Beliau adalah al qur’an berjalan.

Maka seluruh hidupnya adalah implementasi konsepsi qur’ani.

Dan karenanya, hidupnya brilian.

 

Maka, bicara al qur’an jelas bukan soal tahsin atau tahfidz semata-mata.

Tapi lebih luas dari itu. Kita bicara soal akhlak, soal unit-unit waktu, soal kehidupan, soal rasa dan pemikiran, soal pemaknaan, soal ibadah, soal syariat hingga hakikat, soal iman, soal pemerintahan, soal kita, soal peradaban,soal zaman. Soal segala hal yang mungkin tercipta sebagai penyerta penciptaan segala ciptaan.

 

Maka konteks belajar dan mengajar itu juga meluas hingga batasnya tak terceriterakan.

Di mana tiap ajakan kebajikan akan termasuk dalam konteks ini.

Bukankah senyum dalam islam juga ibadah. Sederhana. Karena sejatinya islam adalah satu dengan kehidupan. Bahwa apa-apa yang kita jalani, kita lakukan, semestinya satu akar dalam islam.

 

Aku enggan menjabarkannya. Ini akan jadi sangat panjang.

Biar ini jadi bahan dialektika pikiran kita masing-masing.

Dialektika itu seni, teman.

Seni berpikir secara runut, logis, untuk menemukan kebenaran.

Karena ini seni, maka ekspresinya kembali pada masing-masing diri.

Kita dengan pencarian kita sendiri.

 

Aku adalah aku seperti yang sebelumnya aku bilang.

‘aku me(nye)mbunyikan banyak hal.’

Aku membunyikan. Aku ribut. Aku bertanya.

Tapi sungguh, aku menyembunyikan jauh lebih banyak.

Sekawanan tanya yang aku hambat untuk keluar dari lidah.

Memilih merenungkannya. Dialektika dengan aku sebagai aku. Bicara dengan pikiranku, dengan hatiku. Menghabiskan bisa jadi banyak sekali waktu. Untuk sekedar menyepakati, sesuatu untuk disepakati.

Kawanan tanya yang mondar-mandir di dalam batinku sendiri.

Menunggu lebih banyak hari, lebih banyak halaman terbaca, lebih banyak hikmah dipelajari, hingga nanti tanya itu mendapatkan ruang untuk didiskusikan lagi dengan lebih matang. Bersiap menyambut jawaban yang boleh jadi tak mudah. Menyisakan banyak amanat di belakang pemahaman.

 

Dan aku mulai bisa memaknai.

‘yang terbaik adalah yang belajar dan mengajarkan al qur’an’

Karena semestinya hidup kita adalah islam. Hidup kita adalah al qur’an. Maka segenap kebaikan dalam hidup, juga adalah kebaikan qur’ani.

Esensi.nya.(hidup-kita-itu).adalah.alqur’an.itu.sendiri.

 

Itu kenapa, istilahnya adalah ‘menghidupkan’ quran, ‘menghidupkan’ sunnah.

Hidup

adalah

tentang

menghidupkan

segala

bentuk

kebaikan

dalam

hidup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s