Tangga Cekat Seribu

Standard

Aku menanjak, jalan ini mendaki

Aku berteriak.

Seribu kata mendesak lidah, menunggu diluncur, tapi tau, mungkin saja tak kan pernah terluncur.

Seribu sesak menjangkau nafas,

Menggigit senja, menghabiskan panjang sabar

Menelantarkanku di peron stasiun bisu, di pagi-pagi buta

Gelap menyingkir,

Bintang membuyar.

Dingin fajar menelusup, menangkupku pada tungku yang menyala di atas es

Hatiku beku

Lantas mencair

Lalu luber, entah kemana menuju

Matahari pagi berbisik pada rumpun-rumpun bambu,

Ssssttt….’sebentar lagi, sayang. Aku akan datang’

Tapi bagaimanalah,

Nyatanya matahari dan rerumpun bambu tak pernah bersepakat dalam kata yang satu.

Tidak saling paham.

Bahkan mungkin tidak saling mengatakan.

Hanya lelakon dalam panggung kesepian yang kita cipta diantara dayu dawai-dawai waktu.

Aku pernah cerita, tentang kisahku di malam gelap itu

Dan ini kelanjutannya

Potongan-potongan,

Karena bukan tempatnya, untuk menampilkan semua

Segini saja.

Terima saja.

Aku tertidur dalam gelap, sesaat

Cukup untuk mengibaskan kantuk dari jantungku

Aku terbangun, embun jatuh menembus retina nadiku

Banyak cahaya, menyembul dari altar-altar hari

Dari awan, dari dangau-dangau, dari sela dedaunan

Aku silau

Mataku belum sempurna menangkap matahari

Menyipit, merundukkanku di pagi yang dingin

Mengerjap-ngerjap

Di depanku kumpulan daun mulai terpisah, lepas dari gelap menyeruput terang

Menyisipkan berkas pulasan hijau,

Penanda dirinya, daun.

Batu-batu mulai tersibak.

Kabut malam terangkat.

Tanah aneka gradasi menghampar, dijatuhi daun dan ranting yang jatuh tanpa malu

Bersama embun, meluncur, menelusur garis-garis tanah yang keriput.

Aneka warna, merebak mengikut sinar yang turun makin detik

Aku terpana sesaat,

Tersadar bahwa aku terjebak dalam realitas waktu

Malam untuk menangis

Pagi untuk menangis

Siang untuk menangis

Sore untuk menangis.

-hujan kamu di mana? Aku merindukanmu-

Aku belajar banyak semalam tadi

Menangkup reguk, untaian hikmah yang meregang di balik lipatan halaman ceritera

Tapi di pagi pun, ternyata sama menakutkan dengan malam.

Ah, tidak.

Ini hanyalah bahwa, hari ini aku saja yang sedang lemah

Aku yang sedang takut

Aku yang sedang gamang dengan bayanganku sendiri.

Rembulan terbentang, memudar menjauhi matahari.

Langit semakin biru, dan awan-awan berarak putih.

Dunia menukil cerah, menghimpun warna dalam satu wadah. Dirinya. Jagad semesta.

Ingat tidak, semalam aku bilang pada kalian, bintang-bintang.

Aku bingung. Takut. Terbenam dalam ketidaktahuan, ketidakpastian.

Pagi ini aku duduk menyela rumput,

Menjatuhkan embun yang memang sudah rindu berpulang ke pangkuan bumi.

Mengatakan hal yang sama.

Bingung. Takut. Tidak mengerti. Tidak tau mau kemana, mau bagaimana.

Sama saja ternyata.

Petang, malam, pagi, dan siang, realiitas waktu

Takdir yang tidak terbantahkan.

Dan aku tetap,

Di sudutku, berpikir untuk bergerak.

Namun, berdiri limbung pada sebatang kayu, jembatan dua jurang, bukan hal yang mudah

Atau aku yang terlalu menganggapnya susah.

Tuhan, sebentar lagi aku jatuh

Dan aku sudah ingin jatuh.

Tangkap aku Tuhan,

Sebelum tubuhku berdebam, beradu bentur dengan tanah kecokelat-cokelatan.

Dan aku sudah ingin menyerah,

Tuhan, hentikan aku.

Karena aku sangat-sangat cemas,

Kali ini, aku ingin kalah.

=,(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s