…Memang Segitu

Standard

Ini cerita tentang jatah makanan di sebuah asrama. Asrama ini adalah tempat buat orang-orang melarikan diri dari hidup yang serba ganas. Namanya Rumah Qur’an. Judulnya sih asrama tahsin (memperbaiki bacaan) dan tahfidz (menghafal qur’an), tapi tenang, ‘nggak seeksklusif’ itu kok.

Kami menamainya BQ (Bengkel Qur’an), karena sebelum di vermak jadi hunian nyaman (terhitung paling nyaman diantara RQ-RQ lainnya) tempat ini digunakan sebagai kosan pria dan bagian bawahnya untuk bengkel. RQ memang tidak hanya di tempat kami, ada beberapa lokal di antaranya di Bintaro (kampus STAN), bogor (IPB), pasar minggu (takhassus — program khusus hafalan), dan di depok (UI, ada tiga lokal akhwat di sini). Ini cerita tentang RQ akhwat ya, soal yang ikhwan sih,,, monggo diwawancara sendiri. :p

Secara kultur, BQ kami agak berbeda. Rumah qur’an yang lain diisi akhwat2 kalem dan polos, masuk sini lantaran keinginan menghafal al qur’an. Sementara BQ diisi orang2 yang banyak tingkah, cerewet, banyak tertawa, dan masuk (sebagian) lantaran pernah atau sedang mengalam tamparan dalam hidupnya.

BQ dihuni (hingga tulisan ini selesai) oleh 22 orang santriwati. Oohh, tidaaakk,, jangan bayangkan format pesantren yang serba tertutup. Asrama kami persis kosan di daerah UI pada umumnya. Dan nyaman kok, tenang, tenang…

Untuk menangani urusan makan, beres2, dan imam shalat, kami punya jadwal piket. Yang lain tidak akan dibahas,di sini kita hanya akan mengobrol soal MAKANAN,, sluuurrrppp… Kami berasal dari latar budaya, sosial, dan ekonomi yang berbeda. Urusan makanan juga tentunya beda. Jadilah ada yang vegetarian, sementara makanan tidak selaluada sayurnya. Ada juga yang nggak suka jenis sayur tertentu, ya sudah, giliran yang masak bikinnya sayur itu, apa boleh buat, diikhlaskan saja.

Kami itu sebagian besar nggak bisa masak. Kalo pas kejatahan piket, ada yang nelpon ke Padang (ibunya di Padang), ada yang nelpon ke Solo (ibunya di Solo), ada yang googling di internet, ada juga yang ‘berkreasi sesuka hatinya’ (— aka sembarangan aja masaknya — hahahaha, itu saya, cup!). Soal rasa, yaa bismillah aja. =,D

Di BQ, kehabisan makanan adalah fenomena yang lumrah. Konsumennya banyak, sementara jumlah makanan tidak selalu ‘mencukupi’. Kenapa mencukupinya pakai tanda petik? Ya karena barakah mampu membuat sesuatu yang sedikit jadi cukup. Jadi konsep cukup pada akhirnya tergantung perspektif, ya tho?

Aku termasuk orang yang berangkat sebelum makan pagi siap dan pulang setelah makanan tinggal remah-remah atau bahkan tinggal piring kotornya. Jatah makannya tiga kali, dan aku beberapa kali melewatkannya sama sekali. Sama sekali.

Suatu hari aku minta tolong pada temanku :

‘eh, ntar makanannya boleh ditaroin di kotak aja nggak?’

(kami punya sejenis wadah catering. Tempat makan bundar yang ada sekat-sekatnya, untuk nasi dan lauk pauk — tapi jarang dipake =C )

‘soalnya aku suka nggak kebagian makanan nih. Kalo pagi makanannya belom mateng, kalo siang aku di kantor, kalo pulang makanannya juga abis..hufff’

‘yaaahh kakak,,, itu sih emang rejeki kakak segitu…’, kata seorang temanku. Kita panggil dia Faradiba. Nama belakangnya memang Faradiba.

—–

Aku tidak ingat persis reaksiku waktu itu. Tapi yang jelas, kalimat itu menyentak pikiranku di kemudian-kemudiannya.

Sampai saat ini aku ingat, bahwa benar, sejatinya apa yang kita dapat adalah rezeki.

Maka sikap kita semestinya mensyukuri.

Benar, Faradiba. ‘rejeki kakak memang segitu.’

Mungkin memang segitu dari jalan yang itu.

Tapi insya Allah, Tuhan menyiapkan jalan rezeki yang lain.

Yang meminta kita berusaha lebih tulus dan sungguh-sungguh untuk mengunduhnya dari awan.

Untuk lebih banyak memberi ketimbang berharap menerima dari orang.

Benar, Faradiba. Jazakillah khairan jaza’ untuk pelajarannya.

Bahwa ‘rejeki kakak memang segitu’

Bahwa ‘semua yang kita dapat sejatinya turun dari penguasa langit’

Bahwa ‘barakahlah yang mencukupkan sedikit atau banyak’

Bahwa ‘kita semestinya bertanya dan bukan mengeluh.’ Bertanya “apakah kita sudah bersyukur?” alih-alih mengeluh “kok aku nggak kebagiaann siiihh…!” Terima kasih Faradiba.

Advertisements

2 responses »

  1. wah… jadi pengen ngambil cermin, tuk melihat diriku sendiri (*introspeksi)… jadi terfikir satu sudut pandag lain… “bukankah seyogyanya…kita perlu menjemput rezeki? setelah berikhitar, baru kita bisa bilang : “jatahku memang segitu..” 😀 eh, gtu ga ya? hehe ^^

    • betul. cuma kalo dalam konteks yang ini agak berbeda kondisinya.

      itu kan kalo urusan ‘sesuatu yang harus diusahakan’ bener.

      cuma kalo konteks aku dan Faradiba itu, tentang jatah makanan yang tiga kali sehari udah ada di situ. konteksnya di asrama. yang faradiba bilang, itu makanan asrama. yang udah ada. nah, kalo ditambah konteksnya mba ndi maksud, justru insya Allah bisa digabungkan. aku gak kebagian makanan (peristiwa) aku ngeluh (sebab munculnya komentar Faradiba) ‘kakak rejekinya memang segitu’ (komen Faradiba itu keluar untuk mengingatkanku untuk bersyukur, bukan mengeluh. jadi kalimat Faradiba itu ‘konsep’ yang keluar pada ‘konteks’ itu. perspektif tentang sebuah konteks. bukan tentang keumuman konteks. itu maksudnya Faradiba) dan ndi bilang ‘kita harus usaha dulu’ (solusinya. karena jalan untuk ‘dapet makanan’ kan nggak satu pintu doank. itu kenapa aku bilang

      “Mungkin memang segitu dari jalan yang itu. Tapi insya Allah, Tuhan menyiapkan jalan rezeki yang lain.”

      gitu mba ndi… insya Allah dapet kan pointernya.

      bukan bermaksud menyerah dengan keadaan. tapi menghentikan keluhan – mensyukuri yang Tuhan berikan – baru kemudian berjuang untuk mengubah keadaan. karena, kebanyakan orang menjadi lelah lantaran setelah mereka memutuskan berhenti mengeluh mereka lompat berjuang. tapi mengabaikan rasa syukur. di sini Faradiba menekankan itu….

      wah subhanallah… ini obrolan yang menyenangkan. jazakillah khairan katsira mba ndi. kalo diikau nggak komen model ini, mungkin satu dua orang akan tergelincir memahami poin utama tulisan ini. jazakillah. anggun harus banya belajar untuk lebih teliti membahasakan. n_n

      ayo mba ndi, periksa tulisan lainnya. jangan2 saya menyelipkan logika yang salah di situ juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s