Hati-Hati dengan Doamu!

Standard

Alkisah seorang terdahulu bertutur dalam doanya, ‘Ya Rabb, aku memohon rezeki yang kuperoleh tanpa perlu bekerja. Aku mohon beri aku dua potong roti dan segelas susu setiap hari tanpa perlu aku mengusahakannya. Agar dengan demikian aku bisa leluasa beribadah kepadaMu.’

Beberapa waktu kemudian ia difitnah, lantas dipenjarakan. Di dalam penjara setiap harinya ia mendapat dua potong roti dan segelas susu tanpa perlu bekerja. Terwujudlah isi doanya.

Tapi nyatanya ia menyesal. ‘semestinya dahulu aku tidak perlu berdoa demikian.’

Ia tidak menyangka jalan Tuhan untuk mengabulkan doanya adalah dengan memenjarakannya.

Ibarat perjalanan,

Ada tempat yang kita tuju, dan ada kendaraan.

Seringkali kita ingin pergi ke suatu tempat, katakanlah ke Pulau Matahari.

Kita sadar kita tidak mungkin sampai sendiri, maka kita pun berdoa, karena hanya Tuhan yang berkuasa menyampaikan kita ke sana.

‘Tuhan, beri aku angkot a,b,c, lalu naikkan aku ke kapal x,y,z, beri aku tumpangan pesawat t,u,v,w, dan sesampai aku di pulau aku mohon beri aku sepeda motor untuk mengitari pulau itu dengan leluasa’

Hanya berpikir,

Nun jauh sebelum kita meminta sesuatu (kendaraan dalam ilustrasi di atas) tidakkah semestinya kita berpikir ‘untuk apa kita meminta’

Jika jawabannya adalah ‘agar kita bisa sampai ke tujuan kita’

Pertanyaannya, ‘memang jalan menuju ke sana hanya dengan itu?’

Ketika sudah kita temukan jawabannya, bisa iya bisa tidak. Apapun boleh. Tapi, sebelum benar-benar berangkat tidakkah ada baiknya kita kembali memikirkan, ‘kenapa kita ingin ke Pulau Matahari?’

‘kenapa harus Pulau Matahari?’

‘apa yang kita cari di sana?’

‘memangnya apa yang sebenarnya ingin kita temukan?’

Kadang kita mencari bukan apa yang ingin kita temui.

Kita mencari sedotan untuk dapat menegak isi air mineral kemasan gelas.

Kita mencari piring untuk alas makan.

Kita mencari tisu untuk mengelap sesuatu.

Memang harus dengan itu? Tidakkah mungkin menggunakan yang lain? Jika tidak ada kita akan bagaimana?

Bukankah esensinya adalah minum dan makan.

Kita meminta sarana. Bukan meminta apa yang kita tuju.

Kita memutuskan menuju, tanpa mendalami ‘kenapa harus itu yang kita tuju’

Hemmm… Tidak.

Aku hanya sedang berpikir,

Adakah kemarin hari aku salah berdoa?

———

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s