Yang Sempurna Itu Tidak Ada

Standard

Dunia itu bukan tempat bagi kesempurnaan,

Ia hanya rumah bagi upaya paling baik yang bisa kita persembahkan pada Dia yang paling kita cinta…

Hanya upaya, bukan hasil yang sempurna.

Karena selamanya, sempurna hanya melekat pada diriNya.

“Kelemahan kalian adalah kalian menginginkan kesempurnaan.” (Pak Deddy)

Kita lemah, justru karena kita mencari sesuatu yang sempurna di antara yang tidak mungkin jadi sempurna. Benar. Itu benar. Mestinya bukan untuk sempurna kita berusah, tapi berusaha untuk menjalankan seluruh amanah Allah dengan segala yang terbaik yang bisa kita upayakan.

Hidup itu satu paket. Manis asin pahit asam hambar. Susah senang, duka dan suka.

Semua satu paket. Biner. Ada baik ada yang kita suka. Ada buruk dan ada yang kita benci darinya. Adakah satu orang atau satu rangkai peristiwa yang seluruhnya kita nikmati tanpa cela? Jika iya, mungkin itu besar rasa syukurnya, bukan karena sempurna kejadiannya.

Seorang suami telah lebih dari 60 kali diminta sang istri untuk cerai. Dan si suami hanya memaklumkan, cerai sekalipun, menikah lagi sekalipun, memang siapa yang jamin segala ketidaksempurnaan ini tidak akan terulang? Bukankah tetap ada peluang untuk ribut2? Tetap ada juga yang membuat kita saling tidak senang? Sama saja kan? Bertahan atau memilih ganti pasangan, masalah rumah tangga tetap saja akan datang. Entah dari luar dari dalam, entah dalam bentuk seperti apa dan kapan.

Sama saja seperti teman sekamar, teman sekosan, teman sepermainan, teman kerja kelompok, teman kerja, teman belajar, dan teman-teman lainnya. Orang selain diri kita. Sama persis seperti kita. Sama-sama menyimpan cela sekaligus potensi untuk dicintai.

Adakalanya kita saling cemberut, enggan bertegur sapa, berucap dengan nada yang ketus. Adakalanya kita saling bersungut-sungut, menghitung kebaikan kita padanya dan menghitung salahnya pada kita. Adakalanya kita lupa bersyukur karena habis sudah kesadaran kita untuk bersabar, bahwa sejatinya sesama kita adalah ladang amal untuk menyemai akhlak terbaik, sparing partner yang dinamis untuk latihan pengembangan karakter kita, lifeskill, terutama urusan manajemen konflik. Seandainya semua aman dan damai, akankah pintar, kreatif, bijaksana, dan sejenisnya itu jadi istimewa. Tidak. Karena surga tidak butuh orang pintar. Semua ada, segalanya diciptakan untuk memudahkan kita. Surga tidak butuh orang bijak, karena di sana tidak ada orang culas, tidak ada konflik, hanya diisi orang-orang baik yang bernaung di payung nama Allah yang maha baik.

Kita harus terus belajar.

Memahami jika pagi atau malam ini kita dapati wajah teman kita masam. Muram. Enggan.

Mendengarkan cerita-ceritanya meski tak puas lantaran hanya diceritakan sebagian.

Menghormati kebiasaan, ia sepenuh dirinya. Menerimanya, meneladani penerimaan Tuhan akan hamba-hambaNya yang dungu sekalipun.

Kita harus memberikan upaya terbaik diri ini. Memberi semua yang terbaik. Sekalipun yang hasil yang kita capai tidak nampak sebaik impian yang kita panahkan ke bintang.

Tak mengapa, karena hasil adalah urusan Tuhan, urusan manusia adalah soal kesungguhan.

Ini tentang skripsi, anggun…

Kita lambat mestinya bukan karena kita menyiapkan sesuatu yang sempurna. Tanpa cacat.

Tapi karena waktu sebanyak itulah yang memang kita habiskan untuk berusaha sampai akhir.

Tidak menyerah. Tidak mengulur. Tidak malas. Tidak mengalah pada rasa lemah dan pongah.

Skripsi itu amanah, anggun.

Sama seperti InVol, sama seperti hidup, sama seperti BQ, sama seperti duduk-duduk di sini dan di situ.

Sama. Sama-sama datang dengan izinNya. Sama-sama amanahNya. Sama-sama tidak akan pernah berhasil sempurna, tapi harus diupayakan dengan sesungguh-sungguhnya.

Yang sedang menyaksikan bukan bos kita. Juga bukan rektor atau kepala sekolah. Apalagi pengawas ujian.

Yang selalu menyaksikan itu Dia yang tidak pernah berkedip dan melewatkan.

Yang akan menilai itu bukan juri. Bukan guru bahasa asing atau tentor matematika.

Yang menilai itu Dia yang Maha Bijaksana.

Jika benar yang kita tuju adalah Dia, bagaimana bisa kita mengendurkan upaya. Sementara kita tidak ingin Dia mempersempit jalan rahmatNya.

Tidak benar anggun, orientasi kita selama ini tidak benar.

Itu mungkin kenapa, semua ini tidak kunjung selesai.

Karena memang tidak benar.

Kita harus berhenti mengangankan kesempurnaan karya. Menggantinya dengan seesungguhnya usaha.

Berhenti menginginkan skripsi yang tanpa cacat cela. Mengedepankan perjuangan yang tak kenal kata tunda, tak dapat alasan untuk lelah kemudian menyerah.

Tujuan yang benar menghadirkan energi yang besar, langsung kita terima dari sumbernya. Yang Maha Benar, Maha Besar.

Meluruskan niat, dan menyungguhkan semangat, totalitas daya.

Ayo! Anggun nadia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s