Pas!

Standard

Dulu sekali di hari sepanjang SMP, SMA, dan sampai kitaran 2011 tengah, aku hampir selalu punya persediaan uang di kantong.

Persediaan yang jumlah nominalnya membiarkanku merasa ‘aman’.

Dan berbulan-bulan kemudian, Tuhan menempatkanku pada posisi yang mengajarku lebih tawakkal dalam hal uang.

Adalah dulu, nominal uang di atm hampir selalu lebih dari kebutuhanku bulan itu.

Adalah beberapa bulan ini, nominal di atm tidak lebih dari porsi uang untuk sebulan.

Pas. Lebih atau kurang sebagian.

Beberapa kali persediaannya sangat tipis.

Tuhan mengajarku untuk mengeja aman yang berbeda diantara rasa tidak amanku soal uang.

Aku tidak punya, tapi mungkin Tuhan ingin aku ingat, bahwa Ia memiliki segalanya.

Pernah suatu kali, di hari-hari ketika aku baru pindah kosan.

Banyak kebutuhan. Aku beli lemari buku, aku bayar kosan baru, dan kirimanku belum datang. Orang tuaku memang suka melebihi awal bulan.

Biasanya mereka boleh mengirim kapan pun mereka lapang.

Karena Tuhan membiarkanku selalu punya persediaan.

Tapi kali itu, tidak demikian.

Kiriman terlambat, dan uangku menipis.

Hari ketika aku pindah kosan, aku mengantarkan printerku untuk diservis.

Tidak tau mananya yang rusak, cartridge tidak terbaca, begitu notesnya di laptopku.

Waktu itu aku belum tau, kalau uang di atmku hanya pas untuk kebutuhan di luar servis printer.

Baru besok-besoknya aku sadar, tapi si printer terlanjur diopname.

Aku tidak tau, bagaimana aku bisa menebusnya.

Perkaranya bukan di ‘aah, kan tinggal telepon papah mamah minta kirimin uang.’

Aku tidak suka meminta. Tidak terbiasa meminta.

Dan aku berusaha menahan diriku untuk tidak meminta. Aku mau Tuhan saja yang beri.

Dan Dia datang.

Siang itu, di sebuah ruangan di lantai 4 sebuah gedung, telepon genggamku berdering.

Printernya sudah sehat, bisa dibawa pulang.

Total Rp. 205.000,00

Katanya cartridge warnanya perlu diganti, ditambah biaya servis. Total segitu.

Aku belum bisa ambil.

Selain karena pulang beberapa hari ini agak malam, aku belum punya uang untuk bayar tagihan.

Tapi siang itu juga, uangnya datang.

Bukan lewat kiriman orang tua.

Jalannya tidak perlu disebutkan.

Pernah di waktu sebelum itu, aku pergi ke daerah Cakung, untuk survey. Keharusan kami sebagai relawan di Indonesia Volunteer (di bawah payung LAGZIS) kala itu.

Aku belum sempat cek uang di tasku hari itu.

Ternyata yang kubawa hanya sekitar  20-30an ribu.

Ongkos, makan, dan kawan-kawannya jelas mendekati nominal itu.

Bahaya sekali kalau aku terlambat sadar, misalnya, menggunakan 2/3 uang di tas dan baru ngeh kalau cuma itu yang kubawa hari itu.

Alhamdulillahnya sadar lebih cepat.

Ini bukan perkara, ‘ah, kan bisa pinjam uang teman’

Aku masih berusaha dengan yang dititipkan padaku hari itu. Tanpa bilang ini itu soal neraca keuanganku hari itu. Jalan saja. Bismillah.

Nanti kalau memang sudah nampak tak mungkin ditangani sendiri, barulah boleh menyikut teman sebelah, ‘neng, boleh pinjem uang nggak?’

Malamnya aku ditraktir, oleh kakak yang aku pergi bersamanya untuk survey itu.

Aku pergi bersamanya. Bukan dia pergi bersamaku. Atau kami pergi bersama-sama.

Waktu itu aku anak baru di InVol (Indonesia Volunteer), sementara yang lain sudah dapat tugas ini itu, aku si bocah baru, hari itu diberi kesempatan untuk ikut survey bersama kakak-kakak InVol yang lain.

Dan jodohku hari itu adalah menemani dia, kak Fatma.

Aku jarang ditraktir orang.

Sampai kuliah, kalaupun ada traktiran itu biasanya terjadwal.

Traktiran ulang tahun, traktiran wisuda, semacamnya, yang jelas biasanya aku tau aku akan ditraktir hari itu.

Dan aku senang malam itu.

Karena aku tidak tau, dan traktiran justru datang persis ketika aku mulai lapar dan uangku pas-pasan.

Dan rasanya menyenangkan.

Di bulan yang sama juga, selepas urusan Cakung dan printer…

Aku kira uangku tidak lagi sampai 50 ribu yang cash dan tertera 18 ribu di atm.

Kiriman belum datang.

Dan aku menahan diri untuk tidak meminta pada orang-orang.

Aku bilang pada Tuhan dalam beragam versi, ‘Tuhan,,, aku nggak punya uang,boleh nggak kalo aku nggak minta ke orang-orang?’

Di hari uang itu sudah semakin tipis,,,

Pagi itu orang tuaku telepon, dan ibuku bilang, ‘semalem mamah mimpiin kamu…’ yang aku lupa  mimpinya apa. Intinya ibuku jadi terdorong untuk mengecek kondisi keuangan anaknya. Dan aku bisa bilang,’tinggal 18 ribu di atm, dan nggak sampe 50 ribu di kantong’

Dan seterusnya =,)

Yang jelas hari-hari belakangan aku seperti sedang diajari.

Tuhan tidak pernah absen memastikan hamba-hambaNya hidup mendapat rezeki.

=,)

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s