KOTAK SAMPAH DI DEPAN KAMAR MANDI

Standard

Suatu sore aku bertemu nila rahma, yang ternyata sedang bertigaan dengan ijonk dan isnaini fadilah. Melalui sore dengan mengobrol, lebih banyak dengan inay. Obrolan panjang pertamaku dengan inay.

Jam shalat maghrib, kami ke pelataran wudhu.

Ada kamar mandi di situ. Inay duluan, antrianku berselang satu orang dengan inay yang sudah di dalam.

Nona itu, yang mengantri di depanku bilang, ‘ini (kotak sampah) kok ada di sini ya (depan pintu kamar mandi pas)?’

Aku tidak tau, tidak memikirkan itu. Aku hanya bilang, ‘mungkin sudah sejak tadi di situ.’ asal.

 

Selang beberapa waktu inay keluar, nona itu masuk.

Selang beberapa waktu nona itu keluar, sembari tersenyum.

Aku tetap tidak memikirkan kotak sampah itu. Yang kotor itu. Hingga memindahkannya kembali ke dalam pun aku enggan.

Hingga aku yang masuk.

Hingga aku yang memandanginya dari dalam, dari sudut yang berbeda dengan sudut awalan.

Ternyata kotak itu dikeluarkan untuk menutup celah di bawah pintu kamar mandi yang lebar menganga. Sangat tidak nyaman jika anda di dalam sedang celah itu terbelah tanpa penutup.

 

Hm.

Tak ada.

Ini hanya satu peristiwa. Kecil. Tapi menyegarkan ingatan tentang pentingnya sudut pandang.

 

Kita mungkin tidak memikirkan, kenapa suatu penghalang terentang di jalan kita. Bahkan kita melupakan jika itu sejatinya sebuah penghalang yang menghalangi atau merintangi kita dari sesuatu.  Penghalang itu mungkin kecil, tidak signifikan, kotor mungkin, hingga kita enggan memandang dan memikirkan. Tapi mungkin. Suatu waktu nanti, ketika kita menghadapinya dari sudut yang berlainan,  kita akan paham, kenapa Tuhan meletakkan sesuatu itu di situ.

 

Mungkin bukan penghalang.

Mungkin bentuknya orang atau peristiwa.

Tidakkah sejatinya segala hal yang Tuhan pertemukan dengan kita punya pertalian yang lebih panjang dari apa yang mampu kita bayangkan?

Mungkin bukan sekarang.

Mungkin beberapa saat setelah ini, atau bahkan bertahun-tahun setelah semua orang lupa, kita akan menyaksikan.

Babak lanjutan dari pertemuan yang dulu Tuhan letakkan dalam maket kehidupan kita.

Orang, atau peristiwa, atau ceritera.

Semua jadi bagian hidup kita.

Sadar atau tidak. Hidup adalah kumpulan pertalian dengan makhluk dan peristiwa.

 

Menghadap belantara langit, lantai 2,

Bengkel ‘Q’ abu-abu

20.39 WIB

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s