Kapan Kamu Cemburu?

Standard

Orang bilang cemburu itu tandanya cinta.

Aku berpikir, ‘memang iya?’

Mungkin iya juga. Tapi belum penuh aku menyepakatinya.

Bukankah cemburu juga posesivitas ya?

Bukankah Rasulullah saw memencet hidung ‘aisyah ketika beliau ra. cemburu, dan malah mengajarkan doa (yang sayangnya saya lupa) untuk berlindung dari setan yang sedang merundung.

Jadi cemburu itu bisa jadi nafsu ya? Ditambah gangguan setan jugakah?

Ah, aku sedang mengeja.

Belum paham-paham juga.

Biarlah.

Nanti, dengan seizinNya, akan sampai kita pada hari di mana kita menjadi paham.

Menyepakati satu perspektif yang selama bertahun mungkin kita mencari-cari. Sampai ingat sampai lupa sampai ingat sampai lupa lagi.

…………..

Tidak ingin berdebat. Karena poin tulisan ini memang bukan di situ.

…………..

Suatu hari, di kitaran minggu yang lalu (minggu ketiga november 2011), aku membongkar file yang belum sempat aku baca.

Gerimis menyapa gurun.

Tiga paragraf dalam kotak bingkai, di halaman 177 Hati Sebening Mata Air.

Allah pun Cemburu. Itu rata tengahnya.

Bahwa cemburunya Allah muncul ketika hati yang dicintaiNya disesaki oleh selain diriNya.

Ketika cinta yang lain itu memenuhi hati yang dikasihiNya, bisa jadi Ia memutuskan untuk mengambil yang dicintai oleh orang yang dicintaiNya itu. Agar kembali, hati itu bernaung pada keteduhanNya. Bertawakkal, menyendiri, menangis menyandar padaNya.

Seperti Nabi Ibrahim yang mencintai Ismail puteranya, Allah memerintahkan beliau as. untuk menyembelihnya.

Seperti Nabi Ya’qub yang mencintai Yusuf puteranya, Allah memisahkan keduanya hingga 20 tahun lamanya.

Hanya untuk menguji dan menghadirkan hikmah.

Menumbuhkan cinta yang lebih sempurna.

Bukan. Sama sekali bukan untuk membuat kekasih menderita, menghalanginya dari apa yang dicintainya.

Karena sampai saat ini aku masih percaya. Bahwa cinta dan cemburu yang benar semestinya menghantar kita pada kebenaran yang terang. Konstruktif. Tidak destruktif. Tidak untuk menghalangi, mengambil, menghancurkan, membuat yang lain menderita asalkan sendirinya bahagia. Bukan.

Konstruktif. Tidak destruktif.

Kalau destruktif jangan-jangan ada campur tangan setan dan nafsu di sana.

Entah.

Aku masih mengeja.

Dan sangat mudah bagiku untuk tergelincir menjadi salah dalam ejaan.

Semoga tidak.

……………

Tuhan ‘meminta’ Ismail, meminta Yusuf.

Bukan untuk diriNya.

Tapi untuk menguatkan hati-hati yang dicintaiNya. Justru.

Mengajar sabar, mengajar ikhlas, mengajar tawakkal, mengajar ridha, mengajar taat, mengajar cinta sejatinya harus berjalan ke mana, dan seterusnya.

Tuhan tidak mengambil.

Hanya memberi waktu untuk kesabaran hingga matang berbuah.

Hingga syukur terasa demikian manis.

Hingga penghambaan menjadi mulia karena pemahaman tertinggi kepada siapa kita menghamba telah hadir memenuhi jiwa.

Hingga takdir pertemuan kembali, menghantarkan kita pada pengabdian yang lebih murni sejati.

Mengaku bahwa kita hanyalah abdi.

Tuhan tidak berbuat jahat.

Mungkin, Dia hanya ingin menemani kita, berdua saja, menetapi kesabaran menempuh kebenaran hingga akhir.

Nanti juga Dia akan mengembalikan pada kita, apa yang untuk sementara waktu Ia simpankan untuk kita.

Karena Dia memang tidak membutuhkannya.

Dia hanya butuh tau, di hati kita Dirinya selalu jadi nomor satu.

Itu untuk kita, bukan untuk Dia.

Bukti.

Nyata. Bukan kata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s