G.A.L.A.U

Standard

22 November 2011, sebuah nasehat singkat…

Hari itu pikiranku sedang random.

Loncat sana-sini.

Sebenarnya memikirkan skripsi. Yang dipikirkan temanya cuma skripsi. Tapi judul pikirannya jadi banyak : tentang wisuda, tentang lulus, tentang pilihan dan konsekuensi, tentang bab per bab yang hari ini aku kerjakan serabutan – lompat dari satu sub bab ke sub bab lain di lain bab – tidak terstruktur, tentang orang-orang, tentang pertanyaan-pertanyaan, tentang jawaban yang melelahkan, tentang interpretasi, tentang perfeksionisme yang terlanggar sendiri oleh kerjaku yang random tadi, sampai aku lelah melanjutkan pikiran-pikiran itu.

Aku tidak suka kata galau sebenarnya.

Bukan pilihan kata yang menarik buatku.

Lagipula galau itu konteksnya tidak jelas. Itu istilah yang penggunaannya jadi sangat kontekstual dan intepretasinya bisa kemana-mana.

Tapi baiklah. Hari itu, agar lebih mudah aku menjelaskannya, aku menyebut diriku, GALAU.

Seorang teman sakit, sore itu berdua teman aku berencana menjenguknya.

Janjian di FISIP. Aku di lantai dua mushalla waktu itu persis bersama pikiranku yang random dan wajahku yang sedang tidak jernih.

Nona itu datang, teman yang janjian denganku.

Aku dulu pernah menyebutkan dirinya di salah satu tulisanku.

Kita akan menyebutnya sama dengan waktu itu, kakak kembang sepatu.

Pagi itu dia baru kembali dari Kebumen-Jogja.

‘Silaturahim ke tempat teman, ke tempat bulek,’ itu ungkapnya.

 aku mendekat ke sisinya, bertanya Jogja-Jogja, ini-itu, lalu bilang, ‘kakak… Pikiranku lagi randommm..’

‘random kenapa?’

……………..

Maaf ya, percakapannya kita potong-potong saja.

…………….

‘kakak… Kamu alergi nggak aku tanyain soal skripsi?’

‘Nggak.. Nggak papa,,, alergi? Gatel-gatel tiba-tiba. Hahahaha…’

‘kakak… Aku galau nih…’

……………

Sudah.

Buatku tidak terlalu penting percakapan selanjutnya.

Di situ, di potongan kalimat terakhir itu, salah satu hikmah terbaik 22 november 2011 hadir.

…………..

Mengulang,

‘kakak…aku galau nih.’

‘nggak boleh tau galau. Tau nggak kamu, galau itu artinya God’s Always Listening, Always Understanding!’

Sudut hatiku tergugu…

………….

Kakak kembang sepatu benar. Mereka -entah siapa- yang pertama kali meyakini akronim kata ‘galau’ ini.

Kalau setiap kita memahami kalimat ini dengan baik, untuk apa galau (merujuk pada istilah galau yang sedang trend itu).

Bahwa sejatinya Allah selalu mendengar, dan selalu memahami.

Maka jikapun galau (alias hatinya sedang tidak tenang) kemana lagi harus menyampaikan, kalau bukan pada telinga yang tak pernah absen mendengarkan. Kalau bukan pada Dia yang tak henti-hentinya mengirimkan pengertian.

Aku sedang mengeja.

Mengeja makna kalimat itu.

Belum sempurna.

Hari ini pun aku belum paham. Belum meresap airnya ke dalam celah tanah hatiku.

Tapi aku sungguh ingin mengeja itu.

Sampai mampu mengalirkan maknanya dalam nadi hidupku.

Jazakillah khairan katsira, untukmu, kakak kembang sepatu

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s