Hidup adalah Belajar

Standard

Belajar.

Sebuah term yang belakang  semakin menyenangkan untuk dilafalkan.

 Ini adalah cerita tentang cara belajar beberapa kenalan.

Yang terakhir kali berbincang, kita namai saja, Daponi.

Daponi bilang, ‘aku ngurban sama temen2 kosan.’

‘ngurban? Kamu ngurban?’

‘iya, sama temen-temen kosan.’

‘KAMU ngurban???’

‘IYA… Sama temen-temen kosan!’

‘ngurban sama temen2 kosan???’

‘iya. Kan buat latian…’

Aku menegaskan pertanyaan itu berkali-kali, tentu saja, untuk ukuran kantong anak kosan selevel kami, sapi tentunya barang amat sangat mahal. Maka pilihannya mungkin kambing. Tapi kambing kan cuma buat orang per-orang, mana bisa buat barengan. Kalo sapi kan buat bertujuh…

Tapi cerdas. Ini namanya belajar. Hari ini, anak-anak kosan itu ngurban patungan satu kambing. Terserah orang mau bilang apa, tapi Allah pasti tau, mereka sejatinya sedang berlatih untuk peka, untuk peduli, untuk berbagi, berkurban dengan apa yang mereka punya. Mereka tidak menunggu. Mereka menjemput. Membuktikan bahwa uang bukan alasan untuk menunda amal. Mungkin tidak penuh oleh Allah diterima selayaknya kurban2 lain. Tapi tidakkah husnudzhan pada Allah itu indah, bahwa bagi mereka Allah sediakan ganjaran sedekah, belajar, kesungguhan, juga pahala berkurban (bukankah sedekah ketika uang sedang pas-pasan itu lebih berat daripada sedang dalam keadaan longgar?) dan semoga saja berkah sebagai inspirasi untuk lebih banyak orang. Belajar kurban.

————-

Dulu sekali, sekitar kelas dua atau kelas tiga SMA.

Sebut saja Badhya.

Sekali waktu aku mendapatinya menitipkan amplop ke seorang mentor ROHIS di sekolah kami.

‘buat apa?’

’emmmhhh,,, zakat.’

‘zakat?’

‘iya.’

‘oooohhh…’

Lain waktu, Badhya kembali menyerahkan amplop pada kakak mentornya.

‘zakat lagi?’

‘iya, bareng yang lainnya?’

‘yang lain?’

‘iya, ada yang mau ikutan nitip. Minat juga?’

‘oh. Bukannya zakat ada nishab, haul, dan blablablanya…?’

‘(senyum tipis), kan belajar.’

Badhya benar. Di banyak kesempatan aku mendengar orang suka bilang, ‘aku lagi nggak punya duit’, mudah sekali bilang nggak punya uang. Padahal maksudnya itu nggak punya anggaran untuk satu hal, tapi untuk lain hal ada. Nggak apa. Hanya khawatir kita agak kurang bersyukur dengan memangkas kalimat (mungkin niatnya basa-basi atau merendah) menjadi ‘nggak punya uang.’

Badhya benar.

Ibadah itu belajar. Tidakkah kita lebih optimis pada orang yang sejak belum wajib suatu amalan atasnya ia mulai berjuang membiasakan dirinya, bahwa nanti ketika kewajiban itu datang, rasa enggan akibat belum terbiasa tidak lagi jadi alasan. Belajar. Belajar zakat.

———–

Sekitar dua minggu lalu, dalam sebuah obrolan kecil-kecilan…

Yang ini mari kita panggil Lampion.

Lampion bertanya pada orang tertua di antara kami,

‘kak, aku boleh nggak belajar pake jilbab? Seharian gitu pake, tapi besok masih lepas lagi.’

‘boleh aja.’

‘kan biasanya aku pake jilbabnya Cuma pas pelajaran agama aja. Pingin gitu sekali-kali pakenya seharian penuh.’

‘pake aja.’

‘kalo aku keluar-keluar pake jilbab, tapi ke kampus masih lepas gimana?’

‘coba aja. Sekali-kali kan dateng ke pengajian pake jilbab, ato pergi kemana pake jilbab.’

‘nggak papa kan ya kak? Pingin coba, tapi takut belum kuat..’

‘nggak apa. Kan belajar. Semoga makin lama makin biasa. Asal dijelasin aja kalo kamu lagi belajar, takut aja ada yang ngirain kamu menganggap jilbab kamu mainan. Tapi yaudahlah, itu kan kata orang. Asal niatnya lurus, Allah Maha Tau kan?’

Lampion.

Mungkin nyalanya tidak begitu terang, tapi biarlah jangan sampai padam. Agaknya itu yang ada di pikiran sang kakak ketika menjawab pertanyaan nona Lampion. Benar. Belajar. Bukankah niat saja sudah dihitung kebaikan. Apalagi kerja nyata sekalipun baru percobaan. Husnudzhan. Bahwa Allah lah yang sejatinya akan membimbing pada lebih banyak kebaikan. Kebaikan demi kebaikan. Dimulai dengan niat dan kesungguhan belajar. Belajar pake jilbab.

————-

Belajar.

Kata yang sangat menyengat untuk membarakan semangat.

Belajar.

Tidak menjamin kita tidak melakukan kesalahan, tapi memberi kita ruang untuk terus melakukan perbaikan.

Belajar.

Bukan serta-merta. Tapi kesabaran dan kontinuitas amal.

Ini tentang belajar.

Belajar bahwa hidup dipenuhi dengan belajar dan belajar. Dari belajar bicara, merangkak, sampai belajar ikhlas dalam berbagi.

Terus belajar.

Menapak amal setelah ilmu.

Mengeja makna setelah ilmu dan amal.

Membagi, mengajak lebih banyak orang untuk bersama-sama belajar. Rombong belajar boleh beda, semua instrumen bisa jadi tak sama. Yang penting. Kita semua. Sama-sama belajar. Belajar untuk hidup. Belajar untuk jadi lebih baik. Belajar untuk semakin dewasa dan bijak. Belajar untuk belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s