Memangnya Mau Kemana?

Standard

Rasanya seperti baru pertama kali datang ke walimah dan akad nikah seseorang…

Pelajaran itu ada di tiap hal. Di mana saja kita bisa menemukannya. What next, itu pertanyaannya…

Kemarin 15 oktober 2011, Ratu Gifani Mantika, mantan teman sekosan, K2N UI 2010 Sabang (Iboih), menikah. Setelah sebelumnya Yulita, Merauke, di kebumen.

Sebuah pelajaran ketika sambutan akad :

Bahwa cinta dinyatakan dengan cara yang syar’i. Nyata itu tidak sekedar kata. Tapi tanggung jawab atas ‘jatuh’ yang kita alami.

Pelajaran ketika tausiyah sebelum akad :

Bahwa tujuan utama menikah bukan untuk menggenapkan setengah dien, bukan  soal keturunan, bukan untuk menyambung cinta, bukan untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Itu juga, tapi bukan tujuan utama dan bukan tujuan akhirnya.

Sesuatu yang agaknya tanpa sadar aku pertanyakan, terjawab sudah.

Bahwa tujuan menikah adalah untuk mengenal Allah. Ma’rifatullah dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang selama ini sesadar-sadarnya mampu aku mengerti. Ma’rifatullah. Menuju Allah. Berdua-dua atau sendiri-sendiri.

Bahwa sesungguhnya seluruh pertemuan kita dengan manusia, dengan makhluk, dengan peristiwa, adalah cara yang Tuhan tunjuk atas kita untuk mengenalkan diriNya kepada manusia. Dan menikah adalah salah satunya. Yang melalui hari panjang setelahnya, yang melalui diri yang Tuhan titipkan sepanjang usia pertalian kita dengannya, dengan apa-apa yang menyertainya — sebelum dan setelahnya — adalah juga untuk mengenalkan diri dan keagunganNya pada kita.

Maka tidakkah sepantasnya kita bercermin.

Mungkin ini juga sama seperti segala sesuatunya — tidak terjadi tanpa seizinNya.

Jika pernah diri bersentuhan dengan cinta, sudahkah dalam cinta itu kita menemukan jalan yang benar untuk mengais cintaNya? Sudahkah dengan cinta itu pula kita mendekatinya hasta demi hasta, meraba hakikat pengenalan manusia atas penciptaNya? Adakah cinta itu menjadi pelajaran bagi kita? Membuat kita jadi lebih baik, lebih insyaf, lebih dewasa, lebih dan lebih dalam semua hal yang bisa menyampaikan kita pada hakikat pengenalan seorang hamba akan Tuhannya. Adakah? Sudahkah?

Karena Tuhan menganugerahkan akal dan hati. Tidakkah sepantasnya kita berpikir dan memperbaiki diri?

Belajar anggun, belajar.

Belajar untuk menjadi hamba yang layak ‘dijatuhi’ cintaNya…

Sebelum memutuskan untuk berangkat, pastikan dulu, di mana kita ingin berakhir.

Pondok Natasha, 16 Oktober 2011

Advertisements

4 responses »

  1. Ehm. I like..

    Saya suka dengan tulisan penulis yang seperti ini. Ada beberapa tulisan antum juga yang ‘nada’nya seperti ini. Beberapa saya download dari FB.

    Sudut pandang ke-aku-an, bahasanya ringan, ada candanya, tapi tetep bisa saya dapet intinya. Pas ngebacanya, saya jadi teringat ketika antum menceritakan sesuatu ke saya pas di kelas (SMA) dulu. Mungkin ‘gaya’ yang antum tampilkan, juga tampil di tulisan-tulisan yag antum buat.

    Cocok ni buat bahan ngisi mentoring di SMA-SMA. Tidak terlalu banyak menggunakan ayat, tapi tetep intinya tersampaikan, melalui penalaran logika sederhana.

    ^_^d

    Saya tunggu lagi tulisan yang lain..

    • seettt dah!
      ni bocah formal amat yak?
      hayo2 rajin2 mampir ya…semoga rejekinya lapang. amin. 🙂
      terima kasih sudi mampir….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s