Terima Kasih!

Standard

Pernah bertanya syukur itu bagaimana caranya, lalu dijawab, yang paling mudah adalah mengucap hamdallah.

Pernah bertanya syukur lainnya memang apa kabarnya. Datang jawaban, berbuat baik saja, sebarkan kebaikan, dan jangan berhenti berbuat baik sekalipun hajatmu telah Allah penuhi.

Lantas suatu kali menemukan, bahwa sejatinya “tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia atas kebaikannya.” (HR. Ahmad)

Lantas di kali berikutnya juga menemukan, secarik ungkapan yang  sejatinya dulu pernah kubaca di majalah anak-anak Aku Anak Sholeh. Yang juga diperdengarkan padaku demikian sering begitu aku memasuki dunia ROHIS SMA.

Jazakillah/jazakallah/jazakumullah khairan katsira – semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak.

Tapi waktu itu belum tau apa bedanya ia dengan kata terima kasih pada umumnya. Selain karena ia adalah doa.

Dan masih menganggap ah, terima kasih itu lebih universal. Ah, thanks itu kedengaran lebih ringan dan ringkas.

Hingga di kali lain bertahun setelahnya, di sebuah halaman Allah melanggengkan risalah nabiNya,

“Siapa yang menerima kebaikan lalu berkata kepada orang yang memberinya, jazakallahu khairan katsira, berarti ia telah sangat berterima kasih padanya.” (HR. Tirmidzi)

Bahwa carik ungkapan itu tidak hanya sebaris kalimat. Ia juga doa. Pun tanda terima kasih tertinggi yang mengikuti tata ajar Nabi SAW. Alias, insya Allah yang mengucapkannya berpeluang mengunduh pahala silaturahim, pahala syukur, pahala doa, pahala nyunnah juga iya. Dan pahala lain yang hanya Dia Yang Maha Teliti yang bisa menghitungnya.

” … Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, sesungguhnya ia seperti menghidupkan aku. Dan barangsiapa menghidupkanku kelak ia akan bersamaku di dalam surga.”

(HR. Tirmidzi)

Dan dalam pemahaman yang lebih menarik kita akan menemukan, bahwa sejatinya ungkapan ini juga menandakan pengakuan seorang hamba yang  memang tidaklah mampu mengusahakan sesuatu tanpa dititahi kuasa oleh Rabbnya. Laa haula wala quwwata  illa billah – tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan seizin Allah.  Jika berbuat saja tidak mampu bagaimanalah bisa kemudian diri ini membalas jasa orang yang berbuat baik pada diri. Karena itu benarlah sudah, bahwa sejatinya hanya Allahlah yang bisa membalas semua kebaikan orang-orang yang berbuat kebajikan.

“…Dan jika ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah. Jika tidak mampu maka doakanlah dia hingga kalian merasa yakin telah membalasnya.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Lampung, Rumah Papah Mamah,

7 Agustus 2011 / 7 Ramadhan 1432 H

17.03 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s