Kaktus dari Tuan

Standard

Pernah suatu kali seorang hamba meminta bunga pada tuannya.

Tuan tidak mengiyakan.

Esok harinya datanglah sepohon kaktus di depan kamar sang hamba.

‘dari tuan’ begitu pesan yang tertera.

Hamba tidak mengerti. Bukankah kemarin ia meminta bunga?

Kenapa tuan memberinya kaktus?

Gerutu. Lama sekali. Untungnya kaktus tidak meminta macam-macam untuk tumbuh.

Diletakkan saja dihalaman oleh sang hamba.

Masih merutuk sesekali manakala lewat.

Si kaktus terus tumbuh. Akarnya memanjang, mencari air di sela-sela tanah.

Tumbuh dan terus tumbuh, meski memang tak signifikan secara ukuran.

Tapi kaktus bertahan dan terus tumbuh.

Hingga suatu kali, nuuun, jauh setelah berlalu hari demi hari.

Kaktus masih di sana. Dan sang hamba keluar seperti biasa.

Oiya, belakangan si hamba ini tidak lagi memperhatikan kaktus.

Toh itu-itu juga pikirnya, sama, sama tidak istimewanya.

Tapi hari ini dia terpana.

Kaktus tidak lagi kukuh sendirian.

Di pucuk bunganya kupu demi kupu mampir.

Bunga? Ya. Kaktus terus tumbuh hingga menghasilkan bunga.

Hamba tergugu. Benar ternyata, level sorang hamba dengan tuannya memanglah beda.

Picik sekali dia merutuk si kaktus, lebih-lebih tuannya.

Butuh waktu.

Bunga jadi indah justru karena ia makan waktu untuk tumbuh dan kembang.

Tidak instan.

Apalah artinya jika bunga dijual seperti mie instan.

Diguyur air lantas mekar seketika. Mengembang.

Apa bagusnya?

Dan kaktus itupun berbunga.

Si hamba terharu.

Nuuun,,lama sekali hari itu. Setelah ia menyisihkan pemberian tuannya, meletakkannya di halaman lantas berpaling dan lupa.

Setelah si kaktus bahkan tak lagi berharga untuk dirutuksesali.

Ia mekar. Menunjukkan keasliannya yang juga sama-sama hamba.

Dengan Tuhan sebagai tuannya.

Dan semakin banyak bilangan waktu yang habis untuk berjuang mengembangkan kuncup, semakin istimewa pula dirinya.

Tuhan.

Hamba itu aku.

Dan Kaulah tuannya.

Pernah aku meminta bunga.

Kau beri aku kaktus.

Pernah kuminta pula bibit kembang setaman.

Kau tunjukkan padaku batang alang-alang tanpa bunga.

Hingga ketika selesai Kau utus waktu untuk membuka mataku.

Setelah habis lupa diriku pada segala pinta yang pernah kuajukan padaMu.

Rombong ilalang memutih.

Terbang ditiup angin. Syahdu.

Setelah bengkak mataku menangisi kaktus yang Kau beri.

Kaktus pun mekar. Haru.

Kau memang begitu tuan,,

Selalu punya caraMu sendiri tuan…

Dan aku hanya bisa menunggu.

Menunggu saatnya tergugu menatapi keajaiban-keajaiban jalan takdirMu.

Depok, 1 juni 2011

17.15 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s