Isyarat Penghujan : mungkin memang harus demikian

Standard

 

Isyarat Penghujan : mungkin memang harus demikian

 

 

Menelusur pagi,

Jingga dan putih mengapit.

Ooohh,,,gumamku sebaruku sadar,

Matahari dan bulan bertemu di kala pagi dan petang.

 

Langit cerah. Leluasa menikmat aura matahari dan bulan pucat pasi.

Hadiah kerontang semusim,

Yang girang menyesapi jejak-jejak hujan kemarin hari.

———————————

 

Lamaaa sekali….

Jiwa-jiwa menanti,

Berteman debu yang menyisir muka pepohonan sepanjang musim.

 

Angin kering. Melayukan bebungaan.

Rumput-rumput beristirahat, terhenti meriap, setidaknya terkaku-kaku tumbuh sebelum terinjak.

Awan terus saja putih,

Hingga langit tak lagi biru, saru dengan gundukan uap air itu.

 

Lamaaa sekali….

Orang-orang berkali-kali tanya soal ‘kapan’,

Tak ada air di sumur.

Tak ada burung putih di sawah.

 

Lelagu musim makin lama makin melengking.

Liriknya adalah kering.

Bersaksi atas debit air yang turun, beberapa hingga nol.

————————————–

 

Menengok teratak lahan saudara

Di sana riakan air mulai gemericik.

Tambal menambal rindu akan ricik di dalam jiwa-jiwa kami.

Makin dan makin kering menanti.

————————————–

 

Di hatiku musim kering yang parau itu pernah juga bertandang.

Kering hingga retak menyapa altar danau,

 menganga terluka.

Air yang tinggal hanyalah air mata.

Dan basah peluh, hadiah penantian yang mengacak-acak rambut sutera.

 

Lama mungkin.

Mungkin juga tak lama. Hanya karena terlalu gersang, lengkingan parau menggema menyayat-nyayat. Lebih dan lebih tercekat.

——————————-

 

Petak demi petak yang terpisah bentangan langit

Setapak demi setapak membasah

Menikmati helaian hujan yang gugur dari reranting bintang-bintang

Hingar bingar

Di sana

 

Menengadahkan wajah ke arah langit

Menanti rambahan kelam mengikatkan janji kehidupan pada petak bumi kita

Belum.

Mendung masih enggan memeluk awan.

——————————-

 

Kering

Masih juga kering

Menantikan gerimis

————————

 

Ada kalanya manusia lelah berharap

Menarik nafas sekeping-sekeping, memilin nadi kesabaran

 

Tapi Tuhan selalu begitu

Selalu Tau dan Sekehendaknya mewujudkan labirin takdir

Melatih anak adam-hawa mengeja butir demi butir kebijaksanaan hidup

Baru kemudian setelah lelah itu lelah menyertai diri

Baru kemudian sehabis kesabaran itu habis diwacanakan

Baru kemudian setelah kegersangan diterima sebagai satu isyarat lain kehidupan

Barulah

Hujan.

———————————-

 

Mungkin memang harus demikian

Harus kering hingga kerontang,

Tanah, hati, kehidupan…

Agar sanggup kemudian manusia mengupas lapis kesantunan

Menemukan kesejatian makna dibalik kemunculan tiap penanda

Takdir ada untuk menyampaikan kita pada mata rantai takdir selanjutnya

 

Mungkinkah sama,

Ayat peristiwa, ceritera sepanjang nafas itu

Dengan bunyi ayat langit dalam terjemahan kitab.

 

Tentang awan hitam

Tentang hujan

Tentang bumi yang tandus. Mati.

Tentang rahmat yang kemudian Tuhan turunkan

Tentang bumi yang hidup kembali

Tentang tanam-tanaman

Tentang pelajaran kehidupan.

 

Mungkin sama

Harus rasakan kering hingga kerontang

Agar sabar dan syukur menyublim dalam keluhuran penerimaan

Agar tawa dan duka menemukan bentuk teranggunnya

 

 Sekali nanti Tuhan pertemukan takdir kehidupan kita dengan hujan,

Sadarlah diri akan kesahajaan penuturan,

‘Sejatinya kita sedang mengeja, makna kata bahagia.

 

 

Jikasaja kemarau tak datang, akankah berarti musim penghujan…

 

Anggun Nadia Fatimah

Pondok Natasha, Margonda Raya

23 September 2011

18.13 WIB

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s