Isyarat Gulita : Perempat Pertama

Standard

Karena ada gelap, maka kita mensyukuri cahaya

 

Isyarat Gulita : Perempat Pertama

Gelap ini, pelan-pelan mendaki fajar.

Menyunggingkan sabit di cakrawala timur, menyanding bintang kejora kuning.

—————-

Dahulu ketika senja membahanakan malam aku terduduk.

Malam menanjak aku terpana, dunia berbeda warna, rupa tak ternyana.

Orang-orang menawarkan lilin, menjanjikan sekelibat harap.

Kecil, bergeming riuh dalam diam.

Aku berteriak, sunyi dalam isakku yang parau,

Manalah sanggup lilin kecil ini menawar kelam yang digdaya.

Nun, aku melempar lamunan,

kiranya bagaimana nasibku setelah lilin ini padam.

Hingga iapun mencapai akhir manfaat.

Buih akan berlalu, adapun yang bermanfaat akan tinggal.

Ia berakhir, dalam hakikat yang sama tepat dengan korek api, dengan senter, dengan pucuk-pucuk metafor cahaya lainnya.

Dan berlalu pula, tetes demi tetes darah jiwaku.

Menukik meninggalkan awan sanubari yang gersang.

Menghimpun pilu dalam hujan.

Mengalur – alir, mengikut kehendak sang Empunya Kehendak.

Binatang malam menghidupkan konser nada-nada minor dalam khasnya yang hanya Tuhan yang mampu baca orkestrasi lengkapnya.

Mengalur-alir, menghanyutkan gelora dalam pekatnya takdir yang tak terkira.

Hingga hanyut. Hingga tersangkut. Hingga robek, tercabik-carik.

Gelora itu mati tanpa sempat diukirkan nisan.

Waktu adalah makhluk Tuhan yang tak menyimpan istilah berhenti atau turun dalam tangga kerjanya.

 Melanjutkan hidupnya dalam segala rupa suasana.

Entah siapa mati, siapa lahir.

Siapa bertemu, siapa tercerai, waktu tak peduli.

Ia begitu, semua takdirnya terkait dengan kata lalu.

Melaluinya, dilalui, masa lalu, lalu (?), dan berlalu. Selalu.

Siang-malam, seperti juga pertukaran bulan-matahari, adalah bagian dari lenguh panjang simfoni hidup sang waktu.

Dan aku?

Hanyut sangkut mengikut arus yang membelit sesak.

Sesak dalam isak yang sama labilnya dengan cahaya lilin.

Sekarang goyang, sebentar lagi padam,

begitu peringatnya.

Gelora di mana…

Rengekanku tercekat pekat.

Tau kau gelora itu apa? Ah, entah. Mungkin seperti matahari.

Tanpanya langit hati jelaga, biru tinggal kenangan.

Gelora itu matahariku. Hidup dalam jiwaku. Kala itu.

Gelap menjalar segala antara. Menyeruput indah rupa dan warna. Menyisakan kesetaraan atas segala yang hadir di atas tanah.

Sama. Tak beda. Menihilkan pesona wajah-wajah hiasan dunia yang durjana.

Menyisihkan kepalsuan, menghapus riasan, memandangnya : sama.

Mungkin malamlah satu dari sekian instrumen Tuhan untuk mengajarkan arti kata adil.

Mengembalikan segar ingatan pada akar kebajikan, alih-alih ternganga mengiyakan titah bunga-bunga.

Mungkin Tuhan menugas dirinya untuk meliput bumi dengan aura hitam yang menggentarkan.

Agar manusia menjadi paham, sejatinya cantik itu tak berdaya tanpa cahaya.

Maka indah itu memang bukan pada apa yang kelihatannya.

Tapi pada apa yang melekat di dasar pengabdiannya.

Apa? Tadi kau bilang apa?

‘Pengabdian pada siapa?’

 — Ah, kau. Memangnya kau sendiri mengabdi pada siapa. —

…pada apa yang melekat di dasar pengabdiannya.

Pada niat. Pada tujuan. Pada cita. Pada cinta. Pada ketulusan. Mengais fonem-fonem kebenaran.

Pada  luhurnya tindakan yang mewariskan kebijaksanaan.

Ketika malam melompat dari do ke re, ke mi, ke fa.

Aku belum bisa membaca rencana yang Tuhan bentangkan.

Sebuah strategi panjang untuk menghindarkanku dari keburukan yang mencuat akibat terlalu panjangnya siang.

Siang tidak panjang, hanya saja aku sering enggan melepaskan mentari pergi.

Karena aku mencintainya, sejak lama.

Karena aku mengejarnya, bertahun-tahun, melupakan keniscayaan bahwa ialah cahaya besar. Metafor sumber cahaya yang mungkin usianya akan sama panjang dengan usia peradaban manusia.

Makhluk di mana-mana sama saja. Menuju takdir yang Tuhan tetapkan atasnya.

Mengarah pada selesai.

Mengangguk bahwa hanya Sumber Cahayalah yang Maha Hidup.

Allah, (sumber) cahaya langit dan bumi.

 —

Ketika panjatan malam belum menapak perempat batang / sungguh gelap itu menggerhanai matahariku. Gelora hidupku. Padam asaku. Menyalakan gulita yang memadamkan maya pada.

Terduduk, tersudut, menangis.

Merajut nestapa, membuntalkannya hingga kokoh satria.

Membakarnya, menempelkan pada luka yang merah.

Merah? Ah, hitam. Sama hitam dengan langit di atas sana.

Ternyata semua antara yang ramai diributkan orang jadi tak ada begitu malam unjuk perkasa.

Substansi kata setara, sementara adil adalah pilihan, selama-lamanya.

Pelan-pelan aku menikmatinya.

Tidak bisa ke mana-mana membuatku tenggelam dalam pikiran.

Persil diriku yang masih menghadirkan terang.

Bersambung….

Lampung, 8 Agustus 2011

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s