Kalo Makannya Cepet, Kerjanya Cepet…(?)

Standard

Assalamu’alaikum wrwb…

Ba’da ta’awudz, basmallah, dan shalawat, catatan ini ditulis…

Siang ini Allah pertemukan dengan saudara-saudara yang sepekan ini bertatap muka dengan kami di sebuah forum pelatihan. Pelatihan analisis media 4, diselenggarakan oleh Institute For Sustainable Reform. Tiga pekan insya Allah, dengan tiga gelombang, insya Allah. Hari ini puncak acara pekan kedua, presentasi makalah.

Tidak. Catatan ini tidak ingin bercerita tentang senandung sepekan itu. Catatan ini hanya ingin mengikat sekelumit obrolan kami lebih lama dan lebih lekat di ingatan. Siang itu, sabtu 16 juli 2011, di lantai 1 MD Building, TB. Simatupang, kami berempat (jadi berlima beberapa saat kemudian) membentuk lesehan melingkar, makan siang.

Dari mana ke mana entah bola ocehan dilempar-ditangkap. Dan sampailah kami pada seutas kalimat, ‘katanya sih, kalo orang yang makannya cepet itu kerjanya juga cepet.’  ‘dan salah satu etnis (diedit, -red) kalo mau kerja sama sama orang baru, orang barunya diajak makan dulu.’

dan aku memilih diam. Mencerna, berpikir, belum menemukan logika bersihnya. Tentu sudah sering mendengar pernyataan itu. Tapi belum ‘berhasil’ menyepakatinya hingga hari ini.

Lalu berpikir…

Memangnya dimensi kualitas karakter dan kinerja seseorang itu hanya masalah kecepatan apa?

Rasanya tidak sepakat.

Bukankah idealnya ada banyak faktor?

Sejauh pengamatan saya, ada tipikal orang yang makannya cepat tapi nggak bersih. Sisa sana-sini. Ada juga yang cepat tapi belepotan. Ada juga yang cepat menyelesaikan sesi makan tapi sebenarnya makanannya belum ‘selesai’ dimakan (alias mubadzir).

Kenal juga dengan seseorang yang kecepatan makannya sedang. Mungkin lebih sering tertinggal dibanding teman-temannya. Bukan karena dia lambat. Tapi cenderung karena dia yang paling bersih makannya (temen-temennya suka pada sisa).

Entah kenapa, tapi sepanjang pengalaman yang saya lalui, saya lebih cocok dengan kerja orang model terakhir. Mungkin tidak terlalu cepat. Tidak juga lambat. Tapi tuntas. Efektif. Efisien.  Bukankah itu juga kualitas?

Entahlah. Ini hanya sekelumit pikiran.

Mungkin sebagian yang membaca tulisan-tulisan saya akan berpikir, ‘betapa isengnya orang ini, hal sepele saja bisa jadi pusat perhatian.’ terserah. Itu kan perspektif pandang yang baca. Silakan saja. Siapa toh tidak bisa mengendalikan pikiran siapa.

Ini benar-benar hanya lecutan pikiran.

Sebuah pertanyaan yang membundar di kepala saya.

Sampai saat ini tetap saja belum (dan nampaknya tidak akan) sepakat dengan pernyataan di atas. Karena masih juga berpikir bahwa banyak hal sejatinya tidak bisa dipandang linear. Interdependen, saling mempengaruhi. Dan multifaktor. Masih meyakini itu.

Tapi meski demikian, masih ingin menyeruak lebih dalam ke alam pikiran mereka yang yakin bahwa kecepatan makan berbanding lurus dengan kecepatan kerja. Senang sekali jika suatu hari Allah membolehkan saya mendengar atau membaca lebih banyak tentang logika di balik adagium itu.

 

Depok, Pondok Putri Natasha

14 Sya’ban 1432 H / 16 Juli 2011

20.38 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s