Segenggam Interpretasi tentang Rezeki

Standard

Dalam beberapa kesempatan dengan redaksi yang berbeda tapi satu hakikatnya, orang-orang berkata, bahwa jika Allah menggantungkan bagi kita 10 pundi rezeki di langit, tapi kita hanya mengeluarkan upaya yang hanya cukup menjemput 3 pundi rezeki maka 3 itulah yang jadi milik kita. Mereka menggunakan logika ‘siapa berusaha dia mendapat’ atau dalam bahasa yang lebih religius adalah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasibnya sendiri.

 

Tercenung dan merasa ada yang mengganjal. Ada benarnya, dan hati ini juga membenarkannya. Hanya saja, itu,ada yang mengganjal. Belum sepenuhnya sepakat.

Karena di lain kesempatan, telinga ini pernah menangkap, dan matapun pernah membaca, bahwa rezeki manusia sudah ditetapkan semenjak penciptaannya. Bahwa pernah pula orang shalih berkata, ‘kenapa harus risau? Apa yang telah Allah tetapkan untukku tidak akan jatuh pada orang selainku. Dan apa yang Allah tetapkan luput dariku tidak akan pernah pula sampai padaku.’ dan seorang salafush shalih juga pernah menyampaikan bahwasanya tidaklah nyawa seseorang itu akan diicabut sebelum Allah menyempurnakan rezeki yang Allah tetapkan atasnya.

Hati ini lebih tenang dengan pendapat yang ini. dialektikanya panjang. Tapi silakan yakini saja mana yang hati anda lebih tenang kepadanya. Karena hatilah sang pemberi fatwa. Karena tenangnya hati adalah indikator benarnya jalan yang kita tempuh, dan bilamana ia gelisah mungkin ada yang perlu kita koreksi, entah dalam niat, dalam cara, dalam orientasi, dalam pemaknaan, dalam hubungan, atau perangkat perjalanan selain itu.

Kemudian belakangan kembali berpikir tentang ini. Lalu sampai pada suatu sudut pandang.

Bahwa hatiku yakin benarlah adanya rezeki itu telah tetap bersama lahir, jodoh, dan mati. Dan yakin pula (alhamdulillah) bahwa seseorang dimudahkan untuk apa-apa yang telah ditetapkan untuk dirinya. Dan bahwa tidak akan luput sesuatu yang ditulis sengaja buat kita dan tidak pula akan sampai sesuatu yang ditakdirkan luput dari kita.

Tapi juga benar bahwa seseorang beroleh sesuai usahanya. Tergantung apa yang dia usahakan pada akhirnya. Jika baginya rezeki adalah harta dan ia terus-menerus mencari dan menimbun harta, maka jika berkehendak Allah akan mengkonversi  sebagian besar  rezekinya dalam bentuk harta. Dan boleh jadi itu halal-halal saja. Artinya kaya tapi tetap syar’i. Begitu bisa, insya Allah.

Tapi siapa bilang rezeki itu cuma berwujud harta, dalam bilangan uang?

Bukankah keluarga yang harmonis, anak yang shalih lagi cerdas, kesehatan yang barakah, kemudahan dalam beribadah, murahnya pertolongan orang pada diri, ilmu yang kita peroleh, tempat tinggal yang baik, pertemuan dengan orang baik lagi bijak, nafas yang tidak disertai polusi, hati yang lembut, pikiran yang cemerlang, tubuh yang sempurna, ampunan dosa, sifat mudah memaafkan, harta yang cukup, dan jiwa yang kaya juga bagian dari rezeki.

Bagaimana dengan hujan, dengan cerah, dengan bunga yang tumbuh di halaman, dengan makanan kita seharian ini, kesempatan untuk menuntut ilmu, beasiswa, kosan yang murah, istri yang shalihah/suami yang shalih, kakak yang perhatian, adik yang manis. Bagaimana dengan diskon di supermarket, manisnya jeruk yang kita dapati sementara teman kita beroleh yang masam. Apakah wajah manis diiringi ucapan salam antar saudara tidaklah dihitung sebagai rezeki?

Pernahkah anda hampir tertabrak kendaraan, namun lantas luput?

Pernahkah pingsan di jalan lalu ada saja yang menemani hingga siuman atau melarikan anda ke rumah sakit?

Apakah flash disk dan komputer anda bebas dari virus?

Pernahkah anda kehilangan sesuatu lantas menemukannya atau diganti dengan yang lebih baik dari sisiNya?

Bukankah itu juga beberapa konversi dari rezeki?

Kembali lagi akhirnya pada apa yang kita cari. Dan bagaimana kita memaknai juga berpengaruh pada determinasi orientasi. Pada penentuan apa yang akan kita cari, apa yang kita ingin kejar, apa yang kita harapkan. Maka saya pun memilih untuk berada di tengah-tengah. Membenarkan bahwa rezeki kita tidak akan luput dari kita dann bahwa Allah tidak pernah lupa membagi rezeki pada makhluknya. Membenarkan pula bahwa yang kita peroleh sesuai dengan derajat kesungguhan kita mengupayakannya. Dan juga terus berusaha untuk membenarkan (baca: meluruskan) niat dan pencarian ini dalam segala bentuknya.

Karena ulama masa lalu itu bajunya compang-camping, bertambal-tambal, tapi hafal ribuan hadist dan seisi Al Qur’an. Dan ilmulah hakikat rezeki bagi mereka.

Karena seorang sahabat Allah berkahi dengan keturunan yang shalih hingga anaknya mencapai kisaran angka 100.

Karena adapula yang Allah konversikan rezekinya dalam bentuk kekayaan jiwa. Dalam sifat yang senantiasa qanaa’ah dan tangan yang gatal bila hari itu belum bersedekah.

Pun ada manusia yang Allah berkahi ilmunya hingga bertindak layaknya tanah subur, yang bila hujan menerpa mukanya, ia menyerapnya lantas dari celahnya tetanaman tumbuh bercabang-cabang. (Alm) Ustadz Rahmat Abdullah misalnya. Menjadi murrabbi itu nikmat lho, rezeki. Karena tanah toh tidak selalu subur. Kalaupun subur belum tentu hujannya turun.

Ada orang yang hartanya pas-pasan tapi sekalinya masuk rumah sakit ada asuransilah, ada yang bayarinlah. Dan masuk rumah sakitnya pun hanya beberapa kali, (untuk wanita) saat melahirkan misalnya? Dan Allah jauhkan dari segala DB dan segala tipes, dan segala kanker dan segala astma, dan penyakiit lain-lainnya.

Jangan lupakan juga yang Allah jaga hartanya. Sehingga tidak kemalingan, tidak dicopet, tidak kehilangan.

Itu semua rezeki dalam pemaknaan saya yang ekstra sempit.

Dan yang di sisi Allah itu tentulah lebih baik.

Semoga Allah menjaga kita dari ketamakan. Dari keserakahan dan sifat kikir. Dari kecintaan pada dunia. Dan dari kecintaan pada apa-apa yang tidak Allah dan RasulNya SAW cintai. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s