Sepenggal Kisah tentang Istikharah

Standard

25 April 2011. Bincang-bincang jelang siang “…..”

Kecil-kecil cabe rawit : “hah? Kok istikharah sih? Istikharah itu bukannya kalo mau nikah ye?”

Jaket anti peluru : “yee,,,lw kira istikharah cuma buat orang nikahan??!!”

“……………”

—————————–

Hari yang sama, celoteh makan siang “…………..” (dengan sedikit penyesuaian redaksi)

Kecil-kecil cabe rawit : “ntar ente lepas wisuda mau kemane? Mau balik ke kampung?”

Jaket anti peluru : “mmm…belom tau. Lagi ngajuin proposal. Belom dijawab sama Allah?”

Kecil-kecil cabe rawit : “hah?? Proposal?!”

Jaket anti peluru : “kenapa lagi…? Dikira proposal nikah…? Emang proposal Cuma buat nikah?! Banyak kali yang bisa pake proposal. Ada proposal akademis, proposal bisnis,life plan proposal, macem-macem. Ajuin aja ke Allah, nanya, Allah ridhanya ama yang mana.”

Kecil-kecil cabe rawit : “ooohh… Dikirain mau nikah…”

“……………………”

———————————

Sore di hari yang sama,

“……………”

Menyendok sapo tahu : “aku tuh lagi bingung, blablablabla….”

Sibuk dengan cumi goreng mentega : “oh, istikharah aja.”

Menyendok sapo tahu :  “kalo istikharah tu harus netral banget ya, nggak boleh ada kecenderungan?”

Sibuk dengan cumi goreng mentega : “nggak juga insya Allah. Pernah baca, katanya sih itu termasuk kesalahpahaman orang-orang thd istikharah.”

Menyendok sapo tahu : “ohh, aku tuh ngiranya gitu…”

Sibuk dengan cumi goreng mentega : “rasulullah saw itu ngajarin istikharah buat semua kondisi. Jadi coba deh kalo ada apa-apa istikharah dulu. Ya, dicoba dulu lah.

Menyendok sapo tahu : (angguk-angguk)

“………..”

Sibuk dengan cumi goreng mentega : “aku sih kalo orang bilang bingung, jawabannya insya Allah kemana-mana sama, istikharah aja..n_n. Ada doanya tuh. Bagus dan ngena banget menurutku…”

“………..”

——————————

Berhari-hari sebelumnya, selepas matahari menyembul di kosan kami,

“…………..”

Yang belajar dari tuan rumah yang baik : “istikharah aja…” (no! Ini sama sekali bukan tentang nikah ya konteksnya…!)

Tuan rumah yang baik : “mmm….iya jadi sebenernya gw sih cenderungnya ngelakuin yang blablabla… Kan susah ya, kalo mau istikharah kan harus bener-bener nyerahin sama Allah.” (nggak ada kecenderungan maksudnya)

Yang belajar dari tuan rumah yang baik : “oh, itu. Mmm… Nggak tau juga sih, tapi kalo gw berusaha ngikutin hadis yang  istikharah itu untuk segala urusan (“Rasulullah saw mengajarkan shalat istikharah kepada kita dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan kepada kita surat-surat al qur’an.– HR. Bukhari) jadi gw berusaha untuk istikharah sekalipun gw udah punya kecenderungan. Karena kan kalo gw tidak melakukan istikharah untuk minta jawaban langsung. Kan  Allah jawabnya beda-beda ya, ada yang dikasih mimpi, ada yang dimudahkan ke satu jalan dan ditutup dari jalan-jalan lainnya, ada yang diberi keyakinan, dst, nah gw tuh belum pernah deh insya Allah seinget gw dikasih jawaban langsung. Tetep harus menimbang secara rasional, tetep ngitung cost and benefit, tetep mikir-mikir juga, tetep nyari jawabannya juga. Jadi gw memang nggak istikharah buat minta sekedar jawaban, tapi lebih untuk menjadi yakin, bahwa nantinya setelah istikharah itu, apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang datang dari Allah. Insya Allah.

“………………..”

————————–

bismillahirrahmaniirrahiimmm….

Dan ingatlah bahwasanya,

Rasulullah saw menegaskan, “istikharah tidak akan mendatangkan selain kebaikan.”

“Rasulullah saw mengajarkan shalat istikharah kepada kita dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan kepada kita surat-surat al qur’an. (HR. Bukhari)

Karena sejatinya,

Rasulullah saw juga telah bersabda, “di antara kebahagiaan anak manusia adalah keridhaannya atas apa yang telah diputuskan Allah, dan diantara kesengsaraan anak manusia adalah apabila ia meninggalkan istikharah kepada Allah. Juga diantara kesengsaraan anak manusia adalah jika ia membenci apa yang telah diputuskan oleh Allah.”

Menabung bahagia dengan 2 rakaat bukan fardhu, kemudian membaca :

“Ya Allah, sesungguhnya dengan pengetahuanMu, aku memohon bantuanMu untuk menentukan pilihan, dan dengan kekuasaanMu, aku meminta kemampuan (untuk melakukannya), dan aku meminta karuniaMu yang agung. Sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa. Sesungguhnya Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau adalah zat Yang Maha Mengetahui atas hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah baik untukku yaitu untuk agamaku, kehidupanku di dunia, dan akhir dari urusan ku — atau beliau bersabda : untuk awal dan akhir urusanku — maka berilah kemampuan kepadaku untuk menjalankannya dan berilah kemudahan kepadaku. Kemudian berilah berkah kepadaku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah buruk bagiku yaitu bagi agamaku, kehidupanku di dunia, dan akhir dari urusan ku — atau beliau bersabda : untuk awal dan akhir urusanku –, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkanlahh diriku darinya, dan berilah kemampuan kepadaku untuk (melakukan) kebaikan, kemudian berilah keridhaanMu kepadaku untuk melakukannya’ (kemudian ia menyebutkan hajatnya).”

(HR. Bukhari)

Karena nun jauh di dasar pengetahuan,

Istikharah itu artinya meminta yang lebih baik kepada Allah — istikharaallaahu.

Agar Allah memberikan apa yang terbaik untuknya — kharallaahulahu.

Yang diserahkan itu hasil akhirnya, bukan kecenderungannya. Apa salahnya mengaku pada Allah kalau punya kecenderungan pada pilihan A, namun tetap menyerahkan takdirnya pada pilihan-pilihan Allah. Menyerahkan urusannya agar sejalan dengan apa yang Allah sukai terjadi atasnya. Bukankah Allah mengetahui apa yang dinyatakan dan apa yang disembunyikan. Yang diserahkan itu hasil akhirnya, masalah kecenderungan tinggal bilang saja pada Allah, “yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubana ‘aladdiin…” — wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu —

Bahkan tidak hanya ketika ragu,

Rasul saw bersabda terkait ini, “jika seseorang diantara kamu berkeinginan mengerjakan sesuatu (baik ragu ataupun tidak).

Dipertegas dengan ucapan Jabir bin abdillah r.a,

“Rasulullah saw mengajarkan shalat istikharah kepada kita dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan kepada kita surat-surat al qur’an. (HR. Bukhari)

Dan berhati-hatilah dengan kecenderungan, jangan-jangan ia tak lain adalah bisikan hawa nafsu. Apalagi di titik mana ia mengganjal langkah manusia untuk istikharah pada Rabbnya terlebih dahulu lantaran ‘sudah yakin, buat apa istikharah’.

Sebuah interpretasi,

Istikharah itu berdiri di atas penyerahan diri dan persangkaan baik kepada Allah.

Bukankah Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-hambaNya?

Kebaikan itu datangnya dari Allah. Dan keburukan itu tidak lain karena saya pun hanyalah seorang hamba. Wallahu’alam bishshawwab.

———————————-

Disarikan dari,

Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid. 2006. Istikharah, Rahasia Sukses Anda. Jakarta : Cakrawala Publishing.

Amru Khalid. 2003. Ibadah Sepenuh Hati. Solo : Aqwam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s