Piramida salah interpretasi

Standard

Kalau boleh menyatakan pendapat, saya sepakat dengan orang-orang yang mengkotakkan hakikat di tumpukan teratas dan syariat di tumpukan paling bawah piramid. Jika benar logika piramid yang digunakan, berarti cara membacanya kurang lebih, bagaimana menjalankan syariat dengan baik dan benar dalam kacamata Allah untuk bisa mencapai level ketinggian hakikat.

 

Sayangnya logika piramid ini sering kali dipelintir. Pemahamannya hanya sebatas yang paling bawah adalah paling rendah, yang paling atas adalah yang paling tinggi. Pertama kali memori saya diisi dengan urusan syariat vs hakikat adalah ketika saya masih duduk di bangku SMA. Berlanjut hingga …saya lupa tepatnya kapan. Waktu itu menyalakan tv yang sedang menayangkan sebuah sinetron religi di salah satu stasiun tv swasta. Kiyai dalam sinetron itu dalam beberapa kesempatan menyinggung lagi urusan syariat vs hakikat. Inti pesannya adalah, syariat itu bahasannya orang awam, dan hakikat itu barulan bisa dipahami oleh mereka yang levelnya advance.

 

Pesan itu diartikulasikan lewat pernyataan yang kurang lebih demikian, ‘waahhh,,susah kalo ngomong sama orang awam. Omongannya syariat doank.’ lantas saya berpikir, bukannya syariat itu warisan risalah Rasulullah SAW ya? Bukankah Rasul SAW juga selalu membimbing sahabat untuk menerapkan syariat ya? Jadi kalau logika ‘syariat itu bahasan orang awam’ berarti Rasul SAW itu awam donk???

 

Memang apa hakikat shalat? Apa hakikat rukuk dan sujud? Apa hakikat surat Al Fatihah? Apa hakikat puasa, zakat, sedekah, dan lainnya? Pertanyaan  besarnya adalah, bagaimana cara mendapatkan hakikat tanpa menjalankan syariat?  Kalau hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, lantas ibadah bagaimana yang tanpa syariat, tanpa aturan dan tuntunan. Tanpa kerangka. Piramid macam apa yang berdiri tanpa fondasi?

 

Saya bukan ulama, hanya sekali lagi, kalau boleh menyatakan pandangan, bagi saya syariat dan hakikat itu sama pentingnya. Beda levelnya di mata Allah tapi sama-sama harus diupayakan. Syariat katakanlah berada di level paling dasar sebuah piramida. Artinya, piramida iman kita itu tidak akan berdiri kokoh kalau pondasinya ini tidak dibangun dengan kokoh.  Sementara hakikat sebagai puncak piramid akan sangat menentukan nilai sebuah ibadah di mata Allah. Apakah ia dijalankan hanya lantaran ritual ataukah memang secara maknawi pelakunya paham dan ikhlas dengan apa yang dikerjakannya. Pemaknaan hakikiah inilah yang membawa seseorang mampu menyelami makna syariat yang dituntunkan dalam Islam, dengan seizin Allah tentunya.

 

Keduanya sama-sama butuh pemahaman sungguh-sungguh. Butuh keseriusan dan pemaknaan mendalam untuk menyampaikan kita pada tujuan kehidupan : memurnikan ketaatan hanya untuk Allah ta’ala, Allah ghayatuna. Allah tujuan kami. Kita butuh dua-duanya. Biar saja dunia mengklasifikasi pelakunya sebagai orang awam. Kebenaran itu tidak butuh justifikasi, pembenaranlah yang membutuhkannya. Bukankah hak untuk menilai dan menghakimi sesungguhnya terletak di tangan Allah? Maka berusahalah dengan kinerja terbaik yang mampu diri ini tampilkan. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman,

 

“(yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan  diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu).”

_Q.S An Najm : 38-42_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s