Ghostwriter : Perjalanan/baru dimulai…Perjalanan baru/dimulai

Standard

hari ini 27 Mei 2010…

postingan kali ini adalah isi full sebuah paper UAS semester 6. mata kuliah analisis kritis media massa di Indonesia..

eksplorasinya lari kemana-mana, tapi inilah, hasil kejar-kejaran dengan waktu dan orang2 tidak dikenal itu…

satu topik hebat yang ke depannya Insya Allah akan lanjut jadi tema skripsi saya.

satu topik hebat yang mencuat pasca obrolan sore bersama Rifa dan Asri.  yang makin menarik setelah berbincang ala kira-kira dengan Fandi. dan makin mengobarkan semangat setelah berhari-hari berguru pada mbah google dan mbah JSTOR (makasih UI karena kamu udah berlangganan jurnal online ini, sayang kamu nggak sekalian ngebayar buat Routledge juga nih,,,brrrr!)

topik yang terus berkembang dari meja ke meja konversasi. terus menjadi kaya oleh keberanian mencekcoki para ghostwriter hasil snowball sana-sini. dan ini dia! sebuah awalan!

nantikan sesi selanjutnya!

don’t miss it ya.

Pemantik…

Eksplorasi tema ini berangkat dari kecurigaan penulis bahwa telah terjadi komodifikasi isi dalam tiap karya intelektual keluaran si ghostwriter. Komodifikasi isi kemudian bersanding cantik dengan komodifikasi tenaga kerja, dalam hal ini lagi-lagi si ghostwriter. Asumsi bermula dengan proposisi bahwa si ghostwriter sejatinya mengalami opresi berupa eksploitasi ide dan kemampuan menulis. Hasil tulisannya kemudian menjadi komoditas yang ia pertukarkan dengan uang yang bergerak dari kantung pengguna jasanya. Setelah hak originalitas berpindah dari ghostwriter pada pengguna jasa, karya intelektual kemudian disalurkan melalui media massa. Dan kembali menjadi komoditas baik bagi media massa maupun bagi pengguna jasa tadi untuk dijual pada khalayak. Media massa memperoleh keuntungan finansial. Sementara pengguna jasa memperoleh keuntungan baik dalam bentuk finansial (royalti), maupun sosial politik (berupa popularitas dan pengakuan sebagai penulis).

Gagasan mengenai ghostwriter ini berkembang terus dalam beberapa hari terakhir. Pencarian literatur pun berlanjut. Hingga suatu sore, di sebuah jurnal online karya Deborah Brandt, satu kalimat pemikiran Hitt menjawab dengan tegas dan membuka mata penulis mengenai hubungan media massa, pengguna jasa, dan ghostwriter.

‘…just as we know that the book industry increasingly relies on the fame of national politicians and other celebrities to produce ghostwritten books that will boost sales[1].’

Pemikiran Hitt ini setelah ditilik berkali-kali ditambah dengan ruang konversasi dengan beragam orang, menyampaikan penulis pada beberapa pertanyaan. Mengapa ada yang bersedia menjadi ghostwriter jika kebutuhan manusia salah satunya adalah eksistensi diri? Jika alasannya ekonomi, jangan-jangan terjadi eksploitasi di sini. Bahwa sebenarnya jauh lebih baik bagi orang-orang ini untuk menerbitkan karya atas namanya sendiri, namun karena satu dan lain faktor mereka memilih menjual karyanya dan membiarkan orang lain mengakuisisi karya mereka. Dan benarkah telah terjadi komodifikasi isi dan tenaga kerja dalam rantai pertukaran ini? Tiga pertanyaan ini yang akhirnya memantik penulis untuk mengerucutkan pemikiran pada simbiosis yang terjadi antara pengguna jasa, ghostwriter, dan industri buku.

Landasan Pemikiran

Ekonomi Politik

Teori Ekonomi Politik lahir dari rahim pemikiran kritis pasca kekakuan aliran Marxis. Teori ini fokus pada hubungan antara struktur ekonomi, dinamika industri media, dan ideologi media (yang pada akhirnya tercermin dalam isi media tersebut). Jika melihat dari persepektif ini, media (massa) tidak lebih dari satu bagian dalam sistem ekonomi yang juga sangat dekat pada sistem politik.[2]

Teori ini menjelaskan bahwa pasar dan ideologi memiliki pengaruh besar dalam penentuan isi (content) media. Perbedaan isi media antara satu dengan yang lainnya bergantung pada kepemilikan dan modal yang dimiliki. Curran, Gurevitch, dan Woollacott (1982) menganggap bahwa media berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan dan menanamkan kesadaran palsu bagi khalayak:

“The role of the media here is that of legitimation through the production of false consciousness, in the interest of the class which owns and controls the media,”[3]

Tidak hanya institusi media, khalayak dalam industri media juga dilibatkan. Smythe (1977) bahkan dengan berani menyatakan bahwa produk utama dalam industri media adalah khalayak. Masyarakat, bagaimanapun caranya, harus dijaga agar tetap mengonsumsi sesuatu karena konsumsi adalah satu bagian dari rangkaian sistem ekonomi yang tidak dapat dimusnahkan.[4] Dalam konteks industri buku, khalayak adalah pembaca, yakni konsumen itu sendiri.

Salah satu bagian penting dari teori ekonomi politik dikenal dengan nama komodifikasi. Kemunculan komodifikasi lebih dipicu dari segi permainan pasar (ekonomi) daripada unsur politik yang mempengaruhi media. Vincent Mosco yang mengacu pada Adam Smith yang berhaluan ekonomi politik klasik berpendapat bahwa komodifikasi merupakan proses pengubahan nilai guna menjadi nilai jual.[5] Dalam The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal Ia membagi praktik komodifikasi dalam komunikasi menjadi empat bentuk: Commodification of Content, Audience Commodification, Cybernetic Commodity, dan Commodification of Labor.

  1. The Commodification of Content (Komodifikasi Isi) adalah proses komodifikasi dalam komunikasi yang merubah bentuk pesan, mulai dari kode biner hingga sistem pemaknaan, menjadi produk dagang.[6]
  2. Commodification of Audience (Komodifikasi Khalayak) menyatakan bahwa khalayak-lah barang dagangan utama bagi media massa atau industri media. Program-program yang muncul melalui media massa digunakan untuk mengonstruksi khalayak.
  1. Cybernetic Commodification terbagi menjadi dua, yaitu Intrinsic Commodification dan Extensive Commodification. Intrinsic Commodification merupakan pemikiran alternatif dari konsep komodifikasi khalayak yang menekankan produk sampingan dari komodifikasi khalayak yang berupa rating. Rating tercipta dari hubungan antara jumlah khalayak, komposisi khalayak, dan pola penggunaan media oleh khalayak. Meehan yang menawarkan pemikiran ini menyatakan bahwa yang dijual bukan pesan atau khalayak, tetapi rating, dan hanya rating. Sedangkan estensive commodification menggambarkan upaya memperluas praktik pengomodifikasian hingga merambah tataran sosial, politik, dan ekonomi dan merasuk sampai ke institusi-institusi lain seperti pemerintahan dan pendidikan.[7]
  1. Commodification of Labor atau komodifikasi tenaga kerja yang dimiliki oleh industri hiburan. Dalam komodifikasi tenaga kerja ini terdapat dua proses yang bisa diperhatikan. Pertama, komodifikasi tenaga kerja dilakukan dengan cara menggunakan sistem komunikasi dan teknologi untuk meningkatkan penguasaan terhadap tenaga kerja dan pada akhirnya mengomodifikasi keseluruhan proses penggunaan tenaga kerja termasuk yang berada dalam industri komunikasi. Kedua, ekonomi-politik menjelaskan sebuah proses ganda bahwa ketika para tenaga kerja sedang menjalankan kegiatan mengomodifikasi, mereka pada saat yang sama juga dikomodifikasi.[8]

Ghostwriter

Ghostwriter adalah istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang terlibat dalam proses substansial dari penulisan sebuah karya intelektual yang kemudian akan diakui bukan atas namanya, melainkan atas nama capital owner[9] yang membayar sang penulis bayangan. Ini merupakan kesepakatan antara penulis dengan pembayarnya[10]. Karya intelektual tersebut dikenal sebagai ghostwriting. Dapat berupa ghostwriting speech[11], ghostwriting books (seperti novel, buku, dan campaign kit), academic ghostwriting (sebagian Ghostwriter bersedia menerima tawaran untuk mengerjakan tugas sekolah[12], skripsi, tesis, disertasi, jurnal, dan sejenisnya[13]), dan lain-lain.

Para pemakai jasa Ghostwriter sebagian besar adalah orang berpengaruh, mereka yang memiliki banyak ide dan cerita namun tak punya banyak waktu untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan[14] atau tidak memiliki kapabilitas yang cukup untuk menuliskan ide tersebut[15]. Derajat keterlibatan seorang Ghostwriter dalam penulisan teks berlainan sesuai kesepakatan. Ada yang berperan sebagai editor kemudian namanya dicantumkan sebagai editor, ada yang memperoleh suplai data kemudian mengartikulasikannya menjadi tulisan, ada yang menjabarkan ide besar yang tidak sempat diwujudkan dalam bentuk teks oleh pemiliknya, ada juga yang murni menggunakan pikirannya sendiri untuk menulis keseluruhan teks yang dihasilkan.

Sebuah profesi formal dapat saja bertumpang tindih dengan pekerjaan seorang Ghostwriter. Misalnya dalam sebuah kampanye politik, tim kampanye merancang dan membuat materi kampanye demi kepentingan kandidat yang diusung. Beberapa dari mereka bahkan bisa terlibat banyak dalam pembuatan buku untuk meningkatkan nilai jual kandidat. Buku tersebut kemudian diakui si kandidat dan publik sebagai hasil tulisan kandidat. Karena itulah Ghostwriter lebih dikenal sebagai sebuah istilah dan bukan profesi formal. Jikapun di beberapa negara Ghostwriter dapat bernaung di bawah payung sebuah agency atau secara independen mengiklankan diri dan kemampuannya sebagai Ghostwriter, umumnya pekerjaan ini adalah pekerjaan sampingan dengan tetap memiliki profesi formal sebagai identitas kerja.

Capital owners berasal dari kalangan yang sangat beragam. Keragaman latar belakang para capital owner ini mengakibatkan tarif yang diperoleh seorang Ghostwriter juga sangat beragam. Selain dipengaruhi latar belakang capital owner, besarnya tarif juga sangat bergantung pada keahlian, ‘nama’ yang disandang si Ghostwriter, pengalaman, dan tentu saja bentuk karya intelektual yang dihasilkannya. Capital owners dapat berasal dari kalangan politisi, akademisi, selebriti, pemuka sosial, maupun eksekutif. Untuk konteks Indonesia, seorang Ghostwriter bahkan dapat digunakan oleh pelajar dan mahasiswa yang enggan mengerjakan sendiri tugas akademisnya[16].

Menilik Simbiosisnya…

Sebuah Ghostwriting text ternyata mampu mempertukarkan nilai sosial dengan teks yang dihasilkan. Tergambar hubungan antara pendapatan nominal bagi si penulis bayangan, karya intelektual yang diatasnamakan, dan nilai sosial-ekonomi (dan politik untuk kasus tertentu) bagi si capital owner. Lebih jauh lagi, ghostwriting text adalah komoditas yang sangat menguntungkan bagi industri buku. Sebagaimana diungkap oleh Hitt (1997) dalam Brandt (2007),

‘…just as we know that the book industry increasingly relies on the fame of national politicians and other celebrities to produce ghostwritten books that will boost sales[17].’

Pernyataan tersebut mengukuhkan asumsi bahwa sebuah simbiosis telah dihasilkan melalui teks-teks bayangan yang beredar di masyarakat. Brandt menuturkan bahwa capital owner yang memiliki nama besar, katakanlah seorang politisi atau seorang selebriti, seringkali mampu mendongkrak nilai jual sebuah tulisan. ‘nama’ dalam hal ini, seolah bertransformasi ke dalam bentuk mata uang. Ghostwriting text tadi, seandainya dijual dengan nama asli penulisnya (dengan kondisi penulisnya tidak sepopuler capital owner) tidak akan terjual sama banyak ketika teks tersebut diakui sebagai tulisan si capital owner. Selain karya intelektual yang mengalami komodifikasi dalam lingkaran ini, jelas bahwa ‘nama’ dan status sosial yang diwakilinya juga mendapati hal yang senada.

‘The politicians’ status brings status to the writing; they are connected to it by name, and it is this connection that authorizes the writing and warrants the reading of it[18].’

Karya intelektual garapan penulis bayangan ini merupakan komoditas yang lantas ditukarkannya dengan sejumlah bayaran dari capital owner. Di titik ini karya intelektual tersebut bergerak dalam kerangka komodifikasi isi. Komodifikasi isi berlanjut menekuni rantai pertukaran. Selepas akuisisi, komodifikasi isi terjadi lagi, capital owner menukar karya intelektual tersebut dengan hati khalayak. Buku yang terjual secara ekonomis menghasilkan royalti bagi penulisnya. Capital owner berhak menerima seluruh royalti, ia tidak lagi perlu membaginya dengan si penulis asli. Status sosial juga meningkat, menulis sebuah buku diasosiasikan dengan kreativitas, bakat, intelektualitas, kemampuan, dan pengetahuan-dengan kata lain, otoritas[19]. Menulis adalah kegiatan rumit yang tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik. dengan kacamata ini wajar jika kegiatan menulis dianggap prestisius. Jika dikolaborasi dengan nama besar capital owner, popularitasnya akan melonjak.

Simbiosis mutualisme terjadi dalam hubungan industri buku dengan capital owner. Media massa dalam kasus ini industri buku, memfasilitasi kebutuhan capital owner untuk meraih popularitas. Di saat yang bersamaan, nama besar dan status sosial si capital owner digunakan industri buku untuk menarik lebih banyak konsumen. Keduanya meraup keuntungan yang diharapkan. Dengan bahasa yang berbeda, capital owner dan industri buku melakukan komodifikasi isi pada karya intelektual dan menyodorkannya pada khalayak. Hal yang sama terjadi pada ‘nama’ si capital owner tadi. Industri buku, sebagaimana pendapat Hitt, memperoleh hasil penjualan yang lebih besar dengan mengkomodifikasi nama si capital owner. Muncul pertanyaan, lantas bagaimana dengan kondisi Ghostwriter? Apakah ia juga merasakan hubungan mutualisme yang sama? Ataukah justru merasa teropresi dengan eksplotasi yang dilakukan capital owner atas tuangan gagasan dan eksistensinya?

Dalam rantai pertukaran ini, para Ghostwriter mempertukarkan karya intelektual yang dihasilkannya dengan bayaran yang diperolehnya dari capital owner. Ketika ditanya tentang eksploitasi, dua Ghostwriter yang berhasil penulis hubungi mengaku tidak merasakan dirinya dieksploitasi. Mereka dibayar dengan sangat memadai. Satu dari dua Ghostwriter ini telah akrab dengan dunia Ghostwriting kurang lebih 7 tahun dan menghasilkan 10 ghostwriting books. Ia pernah bekerja sebagai jurnalis dan meluncurkan buku-buku atas namanya sendiri. Jika dibandingkan, nominal yang diterimanya dari sebuah ghostwriting book jauh lebih besar daripada yang diterimanya dari penjualan buku-buku atas nama pribadinya[20].

Jika dilihat dari kacamata ini, pertanyaan apakah eksploitasi terjadi jawabannya dapat beragam. Artinya, derajat eksploitasi sendiri kembali pada hubungan kasuistis antara Ghostwriter dan capital owner. Sepanjang bayaran yang diterima terbilang memadai, ghostwriter sejatinya tidak merasa dirinya tereksploitasi dan untuk itu pula mereka bersedia menyembunyikan eksistensi personal di balik meluncurnya sebuah karya intelektual.

Kaca mata ekonomi politik berucap sedikit lain. Ketika para ghostwriter sedang menjalankan kegiatan mengomodifikasi (mengkomodifikasikan isi teks : mempromosikan isi teks pada khalayak dan menjual benefitnya pada capital owner), mereka pada saat yang sama juga dikomodifikasi oleh capital owner. Meski secara nominal keuntungan yang diperoleh ghostwriter lebih besar dengan pertukaran model ini, akan tetapi pada dasarnya, bayaran yang mereka terima jauh tidak sebanding dengan ‘efek samping’ dan ‘efek jangka panjang’ yang capital owner peroleh dari rantai pertukaran ini.

Akan tetapi, penulis melihat bahwa ‘efek samping’ dan ‘efek jangka panjang’ memang hanya akan terjadi ketika rantai pertukaran ini berjalan. Jika ghostwriter menjual karya intelektualnya atas nama sendiri tanpa melalui rantai pertukaran tadi, ada kecenderungan si ghostwriter ini tidak akan mendapati ‘efek samping’ dan ‘efek jangka panjang’ yang sama dengan yang diperoleh capital owner. Hal ini terjadi karena, pada dasarnya kedua ‘efek’ tersebut merupakan hasil kolaborasi antara teks milik ghostwriter dan nama besar milik capital owner. Ketika keduanya dipisahkan, otomatis sinergi ‘efek’ pun akan berantakan. Itulah kenapa Hitt berasumsi bahwa industri buku berhutang banyak pada rantai pertukaran ini. Karena pola manapun yang dipilih akan berimbas langsung pada besaran pendapatan yang berlarian ke kantung industri. Posisinya memang sama-sama sebagai penyalur, tetapi keuntungan yang dijanjikan karya intelektual hasil kolaborasi dan karya intelektual murni jelas berbeda. Oleh karena itu, penulis menarik kesimpulan bahwa tali simbiosis yang menghubungkan capital owner, ghostwriter, dan industri buku berbentuk mutualisme. Jika dipisahkan maka sinerginya juga akan pecah. Satu hal yang perlu digarisbawahi, penulis tidak menggunakan kaca mata etika dalam melihat fenomena ini. Sehingga perdebatan seputar etis-tidak etis, bohong-tidak bohong, dan pantas-tidak pantas dengan sengaja tidak diberi tempat dalam tulisan ini.


[1] Deborah Brandt. 2007. “Who’s the President?”: Ghostwriting and Shifting Values in Literacy. College English, Volume 69, Number 6. National Council of Teachers of English. P549.

[2] Denis McQuail, McQuail’s Mass Communication Theory 5th Edition (London: SAGE Publications Ltd., 2005), 99.

[3] Pamela J. Shoemaker and Stephen D. Reese, Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content 2nd Edition (New York: Longman Publishers USA, 1996), 230.

[4] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques 3rd Edition (Thousand Oaks: Sage Publications, Inc., 2005), 56.

[5] Vincent Mosco, The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal (London: SAGE Publications Ltd., 1996), 141.

[6] Ibid., 146.

[7] Ibid., 150–156.

[8] Ibid.,157.

[9] Capital owner adalah istilah yang penulis gunakan untuk menyebut para pengguna jasa Ghostwriter.

[10] Penuturan MM, penulis yang juga Ghostwriter . Telah menghasilkan 10 karya ghostwriting dalam 7 tahun.  Wawancara via email, balasan diterima pada 23 Mei 2010.

[11] Matthew W. Seeger. (1992). Ethical Issues in Corporate Speechwriting. Journal of Business Ethics, Vol. 11, No. 7 (Jul., 1992), pp. 501-504. Springer. http://www.jstor.org/stable/25072300

[12] Anonymous. The Ghost Writer Explains. The English Journal, Vol. 28, No. 7 (Sep., 1939), pp. 535-538. http://www.jstor.org/stable/805449

[13] Ibid.

[14] http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/11/ghost-writer-dan-hantu-di-dunia-kreatif/

[15] Ibid. wawancara dengan MM. 24 Mei 2010.

[16] Fakta ini penulis peroleh melalui wawancara dengan seorang Ghostwriter berinisial IS, seorang mahasiswa salah satu fakultas sosial di UI yang biasa dibayar untuk menyelesaikan tugas akhir teman-temannya. Wawancara via telepon dilakukan pada Senin, 24 Mei 2010, pukul 08.00 WIB.

[17] Deborah Brandt. 2007. “Who’s the President?”: Ghostwriting and Shifting Values in Literacy. College English, Volume 69, Number 6. National Council of Teachers of English. P549.

[18] Ibid. hal. 550

[19] Deborah Brandt. 2007. “Who’s the President?”: Ghostwriting and Shifting Values in Literacy. College English, Volume 69, Number 6. National Council of Teachers of English. P550.

[20] Wawancara dengan MM. Email balasan diterima pada 24 Mei 2010

Advertisements

One response »

  1. wuih, pertanyaan gw kejawab. gw selama ini penasaran, knp mau deh si ghost writer nulis buat orang, knp ga dia publish pake nama sendiri? ternyata begitu.

    eh tp sebenernya gw agak kurang sepakat sih klo simbiosis antara status si capital owner dgn tulisan si ghostwriter segitu eratnya. gw justru ngeliat kecenderungan simbiosisnya erat di area di mana penghargaan atas hak kekayaan intelektual masih rendah namun penghargaan atas orang2 yg prominent tinggi, contohnya di Indonesia. Jadi, istilahnya, orang yg blom punya nama itu susah masuk (padahal belom tentu orang yang belom punya nama jelek tulisannya) sehingga membuat ghostwriter membutuhkan tunggangan nama besar untuk mempublish karyanya.

    Menurut gw, di negara yang penghargaannya atas hak kekayaan intelektualnya tinggi, penulis baru, asal tulisannya berkualitas, bisa2 aja menembus pasar. Contohnya udah banyak, kayak Harry Potter (tadinya JK Rowling kan ga terkenal), Eragon, dan banyak karya lain yang ditulis oleh penulis2 baru.

    Namun, pendapat gw itu agak mengenyampingkan kebutuhan si capital owner sih. Gw mencoba ngeliat dari aspek ghostwriter. Maap2 klo ternyata pendapat gw melenceng, hehehe

    cups ♥
    *jiji dah, hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s