Sebuah Kisah tentang Kerja Keras

Standard

rabu siang di semester 6 kuliahku…

seperti biasa, kelas yang diajar seorang dosen ekstra kaya. kaya materi, kaya pikiran, kaya pengalaman, kaya apalagikah? bercerita seperti biasa.

kali ini tentang rasa sebuah kerja. ia teringat dahulu ketika masih muda, ketika gajinya masih 1,5 juta tahun 1991 seingatnya,,

pernah ia makan siang di bilangan glodok sebuah pasar dimana pedagang cina berkumpul bergumul dengan waktu dan tawar-menawar siang itu ketika sang dosen belum bisa dibilang kaya seorang anak mengajarnya satu pelajaran tentang hidup dan kerja keras pelajaran yang menurutnya akan ia simpan sepanjang ingatan ia makan, makan jeroan, yang bertahun setelahnya enggan ia makan makan di sebuah warung kepunyaan ncik-ncik

di tengah lahapnya ia, seorang anak enam tahunan menghampirinya ‘koh,koh, beli ini koh,,’

dosen kami melirik yang dibawa sang anak sesuatu di dalam wadah anyaman bambu, besek kalau kata penduduk di kitaran rumah kami, di suatu tempat di sumatera

dialog berlanjut…

dosen kaya bertanya itu apa

‘mochi-mochi koh..’ ‘beli koh’

sejatinya dosen saya bukan orang china tapi orang-orang sering menganggapnya china, filipina, ambon, padang, arab, hingga menurutnya jika suatu kali ia berkata dirinya keturunan turki dan china orang-orang dengan mudah akan percaya

‘berapa harganya’ tanya sang dosen kaya

‘5000 koh’ itu harga yang mahal ketika itu

‘mungkin sekarang setara 30.000’ cerita sang dosen

‘kamu nggak sekolah?’ dosen saya bertanya

‘nggak koh, ongkosnya nggak cukup buat sekolah.’

dosen saya menatap mata sang penjaja kecil bocah keturunan, chinese jelas tapi bukan itu yang memukaunya mata. mata anak itu berbeda. mata yang berjuang untuk hidup menurut sang penatapnya kisut diantara kerja keras. bukan seperti penjaja kecil di kantin-kantin kampus. yang menjaja dengan manja dan mata memelas.

lepas dari dramatisasi sang dosen atau bukan fakta bahwa dosen kaya ini telah mewawancarai ribuan orang dan meletakkan kepercayaan setelah menatap mata orang yang diwawancarai tidak lagi terbantahkan menurutnya, ia paham. mata mana akan melaju kemana.

dosen kami tidak suka mochi ia menolak membeli dan justru menawarkan segenggam uang senilai dua ribu rupiah ‘saya tidak suka mochi, kamu ambil ini saja.’

dan tebak apa yang anak ini lakukan!

ia menolaknya! ‘nggak kooh,,ini harganya lima ribuu..’

apa itu?

ia tidak mau menerima kecuali hasil kerja kerasnya ia tak mau cuma-cuma

baginya harga yang patut ia terima hanyalah seharga apa yang dijaja dan itu membekas dalam sekali di hati si dosen kaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s