Sebuah rencana tentang jalan kita selepas berguru di pa’depok’an

Standard

seperti biasa di kala aku banyak pikiran
lompat-lompat
seperti kutu dalam kerimbunan rambut
atau seperti kepik di antara rumput

aku belum cerita, aku berpikir untuk lulus dan kemudian pulang kampung
membaktikan setidaknya 2 tahun untuk mencicipkan rasanya bakti anak pada orang tuanya
mengajar, mengumpulkan uang, membuat bisnis tanaman, pakaian, makanan, hingga barang-barang
belajar menjahit, merajut, buka toko handy crafty. seperti mimpi ku kala itu
tidak ingin menikah dulu
dua tahun itu untuk mereka, bukan untuk yang lainnya
juga terpikir jadi dosen unila
komunikasi tentu, mengajar diantara lemahnya sistem pendidikan komunikasi di tanah kami
kembali ke NF, mengajar
mencukupkan diri dengan gaji barang satu atau dua juta
berkebun, berternak, mengaktifkan kembali kolam-kolam
lalu menumbuhkan rumput
menghidupkan kembali kehidupan rumah kami yang hilang
bersamaan dengan lekangnya tempat itu
dari canda-tawa kami
anak-anak tak kenal bakti
mengurus rumah,  terus berbisnis
menargetkan toefl 650 dua tahun kemudian
membaca lebih banyak, dan tetap dengan internetnya
menjahit baju-baju lucu, mendesain, menggambar, menggunting
kerja sederhana
asalkan bahagia
perpustakaan dengan lemari pribadi
menulis novel di kala malam
bercerita bertemankan bulan dan bintang-bintang nan tinggi
dengan le pheeto alias cacing rasa jeruk
yang setia dalam kedewasaan
asalkan cukup
mencicipkan setidaknya dua tahun
buah keringat mendidik anak-anak
pulang sebagai dewasa yang cerdas
segemilang nama yang ia sandang
‘pikiran yang cemerlang’

membuat kue dengan oven baru mamah
makan kue dengan riang
membuat, menghiasnya, dan memajang,
menjual dengan bangga
sebangga aku ketika melihat pemira ikm ui 2009 merangkak mendapati tepukan
menulis dan terus menulis
akankah aku menunggu tv jaringan terwujud?
ah, aku tidak begitu berminat

merancang-rancang
apa gerangan sepeninggal 365 hari di kali dua itu
s2 kah? menikahkah? kembali ke kitaran tanah tempat sebelumnya kuhabiskan masa kuliah
bekerja dan menebus kehausanku akan dunia
akan pembuktian diri bahwa sesungguhnya aku bisa
hanya saja kemarin aku memilih jalan yang lain

rumah kami. aku rindu rumah kami
mengembalikan ia sesuai namanya, ‘rumah kami’
rumah tempat hati-hati kami bernaung dalam damai
bukan ‘rumah metro’
satu dari sekian tempat singgah
yang ‘kebetulan’ bertempat di metro
mengembalikan nama itu
‘rumah kami’
surga kecil kami
dahulu, sebelum aku tercerabut dari akarku
dan dihempas ke altar penuh dosa
di mana lumpur, gincu, kotoran, dan parfum bercampur jadi satu
memilahnya? oh jangan tanya,,,
sampai tubuhku berbalur luka aku memilahnya

setelah kukembalikan surga itu
menopangnya dengan pohon kemudahan yang melimpahkan buahnya
baru aku bisa melanjutkan kembali
mimpi-mimpi yang aku rajut hingga dua tahun sebelum itu
mencium kembali wangi buku-buku di raknya
mengingat kembali lelagu nostalgia
lengkap dengan syair negeri-negeri mimpi
mengankan lagi salju, bunga, payung, dan mantel
dan keteraturan khas gedung-gedung eksotis
jalan-jalan manis dengan seniman jalanan yang tak henti menuangkan karya dalam waktu
menggerakkan kembali roda pencapaian ambisi
tentang counter hegemony dalam bentuk aliran alternatif
bukan musik, tapi produk
berpikir dalam lamunan
tentang seseorang
dengan wajah indahnya yang tak jua aku paham
karena gelap
dengan kabar Pemilik Surga yang tercetus dalam lantunan
menginginkan dan mengangankan
tapi nanti
dua tahun setelah pulang berbakti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s