Sebuah kisah tentang seorang bapak tua

Standard

menurut kalian teman itu siapa?
yang menyeka air mata ketika kita sedih?
yang tertawa dan bercanda bersama kita?
yang berjalan, makan, belajar, dan menemani kita shopping?
siapa? bolehlah siapa saja mendefinisikan teman sebagai apapun yang ia kehendaki
aku hanya ingin berbagi
tentang sebuah kisah yang menukil hidup seorang tua selepas pensiun.

bapak tua ini lahir di tahun 1949
hitung saja, usianya telah mencapai 61 tahun
sudah lanjut…
ia pensiunan departemen pertanian yang menikmati masa pensiun sejak kurang lebih 6 tahun silam
ia hidup di ujung selatan pulau sumatera
di dalam rumahnya yang cukup luas, penuh pohon, di kota madya yang kecil itu
bersama istri, kadang bersama anaknya
tapi sangat jarang bersama anak-anaknya

lebih dari 6 tahun lalu
masa sebelum kata pensiun merenggutnya dari rutinitas kerja
rumah itu adalah sebuah rumah manis
tidak beraturan apalagi rapih
tapi rindang dengan pohon, dan cantik berhiaskan rumput dan kolam-kolam ikan
juga ribut dengan suara kucing, cicak, dan ayam
dihuni oleh lima manusia
sepasang orang tua yang menghidupi anaknya dengan cukup
dua anak laki-laki yang jangkung
dan seorang anak perempuan yang bingung jika diminta senyum

rumah itu berantakan
sebentar saja rapinya, selebihnya kembali lagi bersama keributan di pojok-pojoknya
sang bapak perangainya malas beres-beres rumah
tapi hobi berternak ikan dan ayam
juga menanam buah-buahan
istrinya bekerja sebagai guru SMP
yang terampil memasak dan menjahit
anak pertamanya lahir setahun setelah pernikahannya di tahun 1977
anak keduanya paling pintar di antara anak-anaknya
terkenal di mana-mana
anak ketiganya melanjutkan hidup dengan biasa
tidak istimewa, hidup menjadi sederhana di hadapannya

keluarga kecil ini penuh dengan konversasi
bicara di sana, bicara di sini
semua bentuk emosi diungkapkan secara verbal
senang, sedih, apresiasi, hujatan, apapun

semua pria di keluarga ini punya banyak teman
hobi sekali melancong dan bepergian
baru kembali ketika petang, bisa lebih malah
bertukar obrolan
meski tidak sepenuhnya berisi hal penting
yang penting adalah mengobrol
menemui orang

buah-buahan ranum pada panennya
dan rerumputan menghijau subur di tahun-tahun itu
dan konversasi adalah nadi rumah ini

hari mencapai petang dan tahun-tahun berganti
kalender turun dan naik berganti baru di dinding rumah si bapak
ubannya semakin banyak
ubannya dan uban istrinya
tapi konversasi makin minim terjadi

anak pertamanya sempat melenceng bersikap
menyayangkan kehidupan mereka yang hanya ‘cukup’
mengurung diri dalam dunia ketidakpuasan dan terus-menerus menuntut orang
dan melonggarkan diri sendiri

anak keduanya yang terkenal pintar dan pernah sekolah di negeri orang
melanjutkan studinya di pulau tersubur indonesia
subur sekaligus padat
jika wanita, penulis-penulis itu akan menyebut pulau ini ‘sintal’
sesekali menelepon, sesekali setahun pulang mengunjungi bapak dan ibunya
anak pertama menyusul ke tempat yang sama beberapa saat setelah melepas adiknya

anak bungsunya, masih ceria dan jutek di saat yang sama
terus bertambah umur
hingga akhirnya
hengkang juga dari rumah
melanjutkan studinya di kota sebelah berjarang hampir 2 jam dari rumah
hengkang ke dunia barunya
yang jauh dari kemapanan yang biasa
menyicipi perlahan bahwa rasa dunia itu beda-beda
memasuki hari-hari yang mulai tidak biasa

dan konversasi kian waktu kian langka
sang bapak pun pensiun di usianya ke 55
dan teman pun jadi lebih sulit ditemuinya
dan konversasi menjadi mahal bagi penghuni rumah ini

pelan tapi pasti
rumput menua dan tak diurus lagi
tidak ada yang akan duduk dan berbincang beralaskan ia lagi
pohon buah makin hari makin tidak produktif
rupanya paham bahwa buahnya takkan habis oleh dua yang tersisa
dua dari lima tuannya

kucing-kucing datang dan pergi
ayam banyak yang mati
kolam sesekali kekeringan dan penuh sampah daun alpukat
eceng gondok mati, hilang sudah mahkota ungu di atas gembung batangnya
dapur bersuara seadanya
tak perlu masak banyak-banyak
anak-anaknya bertebaran di luar beralih dari satu warteg ke warteg lain

masih tetap berantakan
konversasi berasal dari tv dan dialog sang bapak dengan angin dan koran
suara manusia bertukar deru motor dan penggorengan
bahkan angin terdengar kian nyaring

dan uban di kepala sang bapak dan istrinya hampir menutup seluruh kepala
kecerobohan sering terjadi
kesepian menghuni rongga demi rongga nadi
tidur pelan-pelan jadi obat
agar tak digubris dirinya oleh sepi

teman-teman baginya tinggal satu dua orang
mana yang berteman atas dasar tulus
mana yang ingin memanfaatkan ia yang ulet tapi terlalu naif
mana yang mengeruk untuk sesaat, sekadar cari senang berbincang
mana yang teman
mana yang bekas teman
lalu teman itu apa?
jangan-jangan ia pun tidak mau mempertanyakannya

karena bertanya berarti mengambil risiko
risiko mengeliminir sebagian yang gagal masuk dalam definisi teman baginya
dan berarti kesepiannya makin menjadi
ah, mungkin baginya lebih baik tidak berpikir
jalani saja sudah
ingin hidup apa adanya saja

istrinya masih berkutat dengan murid dan pekerjaan domestik
ia melancong ke ruang tamu satu teman ke teman lain
menghidupkan kembali konversasi yang sungguh mati ia rindukan
terus hingga istrinya berdecak-decak mengomel
sampai si istri lelah dan cuma melihat dengan pasrah

hari berlalu dengan beragam kisah
pelan tapi pasti
hewan peliharaan pun bertransformasi jadi teman
begitu berharganya
hingga ia berat meninggalkannya
barang sehari dua

ia berbicara pada kucing, pada ayam
bergumam di pinggir kolam
lalu makan kemudian pergi tidur
pergi melupakan rasa sepi yang menghantuinya
membayang di langkahnya yang masih saja tegap meski usianya kian lanjut

orang-orang tidak mengerti dia
atau terlambat mengerti keseluruhan kisah ini
tapi begitulah sepi
pelan tapi pasti
menghampiri
hingga saat tersentak dari mimpi aku sadar satu hal
alangkah indahnya jika ada satu yang kembali
menghidupkan lagi surga kecil
di ujung hari yang sisa

Advertisements

One response »

  1. Bismillahirohmaanirrohiiim
    Allahumaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghira.
    Ya Allah…damaikanlah hati kedua orangtua kami, mudahkanlah hari-hari mereka dengan petunjukMu, ramaikanlah batinnya dengan rahmatMu, ringankahlah bebannya engan pertolonganMu, bahagiakanlah keduanya dengan kasih-sayangMu, panggillah mereka (dan kami semua) dengan khustul khatimahMu, dan bahagiakanlah keduanya dengan kemurahan SyurgaMu.

    Ya Allah yang Maha Melihat….Engkaulah yang paling tau jumlah uban dikepala kedua orang tua kami. uban itu sebagai simbo0l bagaimana mereka sudah memikirkan kehidupan kami sejak kecil. sejak tangis kami merepotkan mereka…sejak kenakalan kami memusingkan mereka…sejak kebandelan dan kekeraskepalaan kami menyita waktu dan pikiran mereka.
    Limpahkanlah kasih sayang Mu ya Allah untuk mereka…

    Ya Allah yang Maha Menciptakan….Engkaulah yang maha mengerti, betapa keriputnya tangan dan tubuh orangtua kami, menyisakan sedikit energi atas seluruh jerih payah yang tersisa. jerih payah untuk menghidupi kami…mencukupi hak dan kebutuhan kami sampai kami seperti ini. Ya Allah, turunkanlah rahmatMu untuk mereka (dan kami semua). sehingga mereka bisa menikmati Hidayah dan kasih sayangMu…..untuk mempersiapkan pertemuan denganMu.

    Ya Allah yang Maha Berencana. dengan rencanaMu, Engkau tetapkan masa hidup seseorang. bisajadi kami yang menulis, membaca dan mendoakan ini akan mendapati perjumpaan denganMu lebih awal dari orangtua kami. tapi ya Allah ya Robbi….mudahkanlah akhir hayat mereka, rahmatilah akhir waktu mereka, tunjukkanlah jalanMu di akhir kehidupan mereka nanti dan anugerahkanlah khusnul khatimah untuk mereka (dan kami semua).

    Ya Allah yang Maha Pengampun. dengan kasih sayang dan cinta Mu, Engkau bisa mengampuni dosa-dosa seluruh makhlukmu. kupintakan ampunan itu untuk orang tua kami, yang mungkin karena kekurangpahaman, keterbatasan pengetahuan, kekurangoptimalan ibadah mereka banyak melakukan kekhilafan dan kesalahan. ampunilah mereka ya Allah…….murahkanlah maghfirhmu untuk Mereka, maafkanlah kekurangan dan kesalahan mereka ya Allah. selamatkanlah kedua orang tua kami didunia dan akherat ya Allah….

    ya Allah yang Maha Penghibur…hiburlah kedua orangtua kami di sisa waktu mereka dalam segla bentuk kesepian itu. maafkanlah kami yang tidak bisa menemani mereka di harihari tua mereka. ampuni kami yang tidak sering menengok mereka…yang hanya bisa tersedu dan merajuk dalam haru doa untuk mereka.

    ya Allah yang Maha menyatukan hati…..kumpulkanlah hati-hati kami dalam ikatan ibadah dan kedekatan kepadaMu, sehingga kami bisa lebih optimal mempersiapkan perjumpaan denganMu, dan berharap bisa berada dalam cintaMu di dalam surgaMu, bertemu dan berkumpul di akherat nanti dalam golongan orang-orang yang beruntung dalam cintaMu.

    Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhiroti khasanah, wakinna azzabannar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s