Usai hujan, tepian danau, arah Science Park

Standard

Sabtu, 5 desember 2009

Aku sampai pada titik paling mellow dari kitaran hari-hari belakang. Mungkin sebulan perjalanan, lebih bisa jadi.

Hujan mengguyur kampus, dalam tetesan yang terdengar kletak-kletuk. Mengingatkanku pada sepatu berhak 3cm yang lala beli untuk dipakainya kemarin, kelas sidang. Yang akhirnya ku jajali juga – menggantikan kaki lala yang pegal – di jalan pulang pusgiwa – pocin, 8.45 malam hari.

Hujan selesai. Kupikir tak ada ‘cerita’ setelah itu. Setengah kantuk aku melangkah. Melintasi PAU dan fasilkom, menyelasar tepian calon perpustakaan kami. Kabut. Embun. Basah. Becek. Tanah yang cokelat lembab. Terus, menuju pusgiwa.

Aku ingin belok kemana seharusnya aku belok. Tertahan sayang, mataku terpaku pada pinggiran science park yang kelabu. Di atas danau dan pucuk yang basah, kabut menyeringai. Memberi aku senyum yang menapakkan ingatanku pada jejak awal kami. Pemira ikm ui 2009. Bebungaan masih basah, nampak embun, air danau, dan kabut berkejaran mewarnai petak-petak kenangan yang Tuhan sajikan di akalku yang belum optimal aku fungsikan.

Terpaku pada reranting sebuah pohon –entah apa namanya- memayungi bunga sepatu di taman kecil, dekat ukiran silver SCIENCE PARK. Hijaunya indah, seperti ranting2 kegemaranku. Ranting yang menghasilkan pulasan cantik manakala kutangkap dengan kamera. Sempurna untuk ukuran favoritku. Retinaku menangkap tempat itu. Tempat pertama kali kami berkumpul. Berkenalan, merumuskan, mencari, meraba tanah kami duduk kalau-kalau ada paku, tempat buka puasa bersama, tempat wajah2 asing akhirnya kuterima dengan riang. Aku tidak kenal, aku tidak tahu, belum pernah seperti ini, tapi begitulah. Kekuatan ini membuatku terus maju.

Jadilah, diantara ranting dan dedaunan basah, tempat itu abadi bersama satu dua jepretan kamera ponsel. Kecil, jauh, tapi maknanya yang dekat. Sedekat embun, tanah basah, rumput hijau, kabut, udara lembab, dan kesyahduan danau sore itu. 5 desember 2009, usai hujan.

Semula aku berdiri di atas jalur sepeda, aku turun, meninggalkan tapak pada petakan semen yang berujung tepat di bawah pohon ini, pinggiran danau yang memisah Science Park dan calon perpus pusat. Mencari-cari sudut yang paling manis. Dan menyerahkan momen itu pada kedigdayaan kamera. Ponselku sama silvernya dengan ukiran SCIENCE PARK ini.

Ada mungkin 5 menitan aku di situ, membidik hamparan hijau yang kami ‘jajah’ dahulu. Tanah rumput di mana kami merancang hari ini dengan bebas, dahulu. Bersila di antara optimisme dan antisipasi, antara harapan dan celah kekalahan, antara bertahan dan maju atau gagal dan terhenti. Bersila di antara kata serba ‘mungkin’. Antara danau yang tenteram dengan balairung yang perkasa. Antara dinamisnya jalur sepeda dengan air yang nyaris tak berkecipak. Adakah yang lain ingat? Atau jangan2 aku yang kelebihan waktu luang, melamunkan hari yang sebelumnya tak pernah kubayangkan.

Smsku pending ke lala-minta bawain le pheeto. Teringat aku pada laptop dan pusgiwa. Aku bilang batal akhirnya, biar aku ke sana saja. Dua-duanya pending. Aku beralih, kembali pada kenyataan. Menelusuri belakang gedung SP, menemukan paving block yang ramai diselingi rumput. Di samping gedung ketika pertama aku mengukur jakun, dan terus. Sms itu terkirim dan lala menyanggupinya. Janiian di pocin katanya.

Aku berputar mengelilingi rektorat kembali menyusuri koridor. Dan terhenyak sedetik ketika sadar jalan nanti mempertemukan lagi aku dengan tempat itu. Semangatku naik sedikit, aku senang kesempatan ini. Berdekatan lagi dengan danau, kabut, tanah basah, embun, pucuk berlilinkan air, dan bangku-bangku semen itu. Aku berhenti mengangkat kamera lagi. Menimbun lebih banyak kenangan tentang hari2 yang tak terhindarkan akan segera berlalu. Tuhan beri aku satu sudut yang spesial, lihat saja wallpaper si silver. Sepotret bangku semen, sendiri mengambil sisi kanan tanah cokelat yang basah, rumput hijau, batang kecil yang baru seumur jagung ditanam-lebih mirip ranting, dan danau memantulkan bayangan pohon2 naungan. Cantik. Dan tak terlupakan. Masih ingatkah anggun, itu bangku apa? Itulah bangku tempatmu menunggu wajah2 asing dan amanah yang belum pasti kalian pikul. Jam 4an sore kala itu. Ketika ‘bunga fisip’ mekar di kisaran juli September, akhir2 insure. Damai yang segera saja mencuri hatimu. Ketenangan, hembusan semilir, hijau, bersih, dan cukup terjauhkan dari kehebohan ala kampus ini. Satu bangku semen, paling ujung, pinggir danau balairung, arah SCIENCE PARK. Tempatku jatuh hati pada kepanitiaan ini.

Tuhan memberiku tahun yang sangat berarti. Diawali tiga minggu insure yang menarik libur malasku ke tengah hangatnya tawa dan persahabatan seperti keluarga. Berlanjut dengan pemira yang juga tak banyak beda dalam kenangan dan makna. Setengah tahun yang merenggut cinta dan perhatianku. Yang ingin selalu aku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s