Sholat yuk,,, biar dapet duit!

Standard

Anak2 surga. Salah satunya bernama Della. Perkenalan kami dimulai di ruang bpm kalau tidak salah. Saat kepengurusan 2008 lalu. Mereka sekolah di SDN pondok cina. Hari ini della masih lengkap dibalut seragam olahraganya, sementara temannya – saya belum tahu namanya siapa – sudah berganti pakaian bebas. Mereka berlarian di lantai mushola al hikmah. Musholla fisip ui tercinta, tempat yang aku kagumi ketika pertama menginjaknya. Karena masjid –bahkan masjid- sekolahku kalah beberapa langkah dibanding mushalla ini.
Keduanya kemudian berwudhu. Ketika jamaah usai, mereka baru akan mulai. Berdua saja, setelah mengenakan atasan mukena dan merapikannya di depan kaca, mereka pun shalat. Unik sekali. Mereka shalat tanpa bawahan mukena. Tentu bukan mukenanya yang saya maksud. Toh shalat memang tidak harus pakai mukena kan? Yang harus itu menutup aurat.
Mereka benar2 shalat hanya dengan atasan mukena, bagian bawahnya tidak tertutup sempurna. Saya memilih untuk diam. Salah mungkin, mungkin juga tidak. Tergantung perspektif mana yang anda gunakan toh! Faktanya adalah mereka berdua belum baligh. Fine!
Saya masuk ke secret FSI di sebelah mushalla kami. Mau mengambil tas. Bertemu seorang teman yang sama senyum2 seperti saya. Dia bilang anak2 itu ribet sekali wudhunya. Salah satu mengajak temannya, “shalat yuk, biar dapet duit!” polos sekali kan? Itulah istimewanya anak2… mereka polos seperti kertas tanpa bercak. Saya tidak bilang kertas putih. Bayi boleh jadi kertas putih. Tapi anak2 adalah kertas polos, apapun warna dasarnya, dan bagaimana pun cara celupan itu mewarnai mereka. Mereka tetap saja polos. Simpel, hidup, main, main, dan main. Dengan caranya masing2… meski dalam diam, meski di depan tv, sambil lari2, menyusun sepatu di rak, dengan beragam tingkah mereka bermain. Memainkan permainan dengan caranya sendiri.
17 oktober 2009
Kemarin akhirnya tau. Nama temannya della itu dila. Deket yak namanya. Untung nggak kembar. Hahaha. Hari ini kak kiki-arfan walimahan. Sayang, nggak bisa kesana. Tugas prodio akhirnya pending juga. Tapi yasuw lah… apa boleh buat. Kan sudah berusaha. Insya Allah rasa percaya ini masih terjaga. Bahwa Allah melihat upaya. Kata seorang teman, tuliskanlah mimpi2mu dengan pensil. Dan serahkan penghapusnya pada Allah. Biar Allah yang tentukan mana yang tetap dan mana yang mesti dihapuskan. Karena Dialah yang paling paham mana yang terbaik sebagai jalan.
Allah. Nggun udah usaha. Tapi kalo belum optimal akhirnya, sungguh hamba tak pernah lebih mengetahui dari majikannya. Mahasuci Engkauu ya Tuhan Segenap Semesta. Lelah ini, upaya ini, pilihan2 kami, prioritas yang kami tempatkan. Kami akan senantiasa percaya, Engkaulah Sebaik2 Pembalas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s