Kalo Allah mau nolong…

Standard

Sekarang lagi minggu2 uts. Masya Allah… tugasnya banyak bet dah. Secara jumlah mungkin nggak, tapi beban kumulatifnya yang berat. RD MPK belom ngapa2in, Prodio suaranya timbul tenggelam, gaptek, yang tugas uts bahkan belum paham disuruh apa. KKAP Alhamdulillah tadi udah. Besok komglob, kelas, close book. Rabu komstrat yang belum disentuh, minimal proposal 7 halaman. Anggun belum paham, tapi insya Allah yakin bisa handle itu. Yang gw bayangin itu mirip sama tugas KKAP. Analisis masalah terus masuk perencanaan PR. Siangnya cultural studies, open book. Kamis MPK, ngumpulin RD terus open book juga. Dilanjut prodio, judulnya sih nggak ada ujian kelas. Tapi diminta bikin playlist, plus segala script percakapan yang entah apa istilah radionya itu, lengkap seprofil2nya, sejam durasinya. Masya Allah… gaptek lagi. Jumat, ngumpulin hard kopi PTK. Ya Allah, jangan biarin wiki anggun dihapus Ya Allah, kalo nggak nti nggun nggak punya nilai uts.

Mau sedikit berbagi. Lagi bingung mikirin tugas2 segambreng, dan mikirin headset buat prodio. Nggak punya headset, sampe berniat beli. Bingung beli yang mana. Coz, kayaknya masalah utama yang bikin suaranya banyak noise itu bukan di mic-nya. So nggak bisa nyalahin headset, ini titik masalahnya belum ketemu. Udah jam lima. Belum ke kober beli headset. Ke atm dulu ambil duit. Baru aja ngantri, dari kana nada yang nyapa. Lita. Dan meluncurlah pertanyaan itu, “lit, punya headset?”
“ada.”
“hah, serius ada? Headset yang gini (menutupkan dua genggaman ke telinga. Praktekin cara ‘kerja’ headset)”
“iya.ada.”
“beneran? Pinjem dunk.”
“yuk.”
“mau ke asrama (dia lagi ngantri di atm sebelah)?”
“iya. Makanya abis ini ya…..”
So on… begitulah kurang lebih. Pertolongan Allah. Datang entah dari mana. Tidak pernah menyangka. Tapi muncul di saat tak terduga, tepat sesaat sebelum aku terjun bebas, menyerah, pasrah.
Lalu maghribnya mama papa telepon. Nyemangatin, ngingetin ibadah sama makan yang bener. Doa orang tua. Mengingat itu bebanku terangkat sedemikian rupa. Dan aku batal merasa sepi, sendiri, terperosok. Aku lantas mengingat, betapa banyak karunia Tuhanku yang Ia titip padaku. Lalai aku syukuri. Ia memberkati ku dengan doa sebagai senjata. Menjadikan bagiku saudara di jalanNya sebagai perpanjangan tangan pertolongan. Ada orang tua, yang mudah sekali doa keduanya diijabah. Tinggal kutitip kesulitanku agar dibacakan ‘mantra’. Lalu sampailah ke langit menemui Tuhan semesta. Dan lagi2, kekuatan penolong itu datang dalam wujud yang tak ternyana. Tak tau datang dari mana. Tapi ada. Selalu ada.
Aku lelah. I’m not that perfect! Aku belum berhasil untuk tersenyum dan semangat sepanjang waktu.ada kala aku pun layu. Orang bertanya aku kenapa? Aku juga tidak mampu mengeja apa saja yang terjadi padaku dalam satu kalimat jawab. Tak bisa. Belum mampu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s