menyoal malaysia

Standard

berapa hari nggak OL. kangen.

sedih sekali melihat muka pertiwi dicoreng berkali2.. klaim batik, angklung, lagu rasa sayange, tari pendet, dan sepupu2nya, ada yang sudah, ada yang proses… intinya sama, kalim terhadap apa yang bukan orisinil miliknya.

lepas dari motif malaysia dan arogansinya mengklaim sana-sini produk budaya indonesia, kritikan tajam saya lontarkan pada menbudpar. kecewa sekali menyaksikan beliau dengan wajah sok tenangnya melontarkan tanggapan2  normatif terkait ulah tetangga kita. saya hanya berpikir, sendainya saya adalah dia, pundak saya akan sedemikian beratnya bahkan untuk sekadar menopang kepala ini. terjadi di tahun2 amanah saya, di bawah kontrol saya, dan saya dicurangi hingga berkali2. kasus yang sama.

terbayang beberapa saat silam. obama memasang wajah serius menyatakan bertanggung jawab penuh terkait momen saling tuding kedua partai mayoritas AS, dalam kasus penyelewengan dana atau kredit macet satu perusahaan multinasional AS. lupa apa? ada yang bisa melengkapi? maaf…

dalam kasus indonesia versus malaysia, saya berharap pemerintah mengupayakan ketegasan konkret. kenapa juga produk budaya itu tidak dipatenkan segera. bukankah dulu seudah pernah malaysia melakukan klaim serupa. inikah indikasi kegagalan dan atau keterlambatan bangsa ini mengolanh informasi kemudian mengambil pelajaran??? sayang sekali saudara…

di beragam lini, rakyat pun bersuara. di facebook saja, teman2 saya ramaia mengangkat isu ini dalam notesnya, status updatesnya, komen, dan seterusnya. satu sisi positif dari momentum ini. yakni mengemukanya semangat nasionalisme dari rakyat pada umumnya. pernah suatu malam saya pulang kampung naik kendaraan umum. saat itu kami berada di atas kapal menuju sumatera. televisi yang dipasang di ruangan kami menyiarkan berita seputar klaim terbaru malaysia atas tari pendet khususnya. durasi totalnya cukup lama. karena memang klaim tersebut diangkat sebagai topik, dimana beberapa berita menyiarkan satu topik dalam beragam angle dan narasumber, hingga kilas balik dan penelusuran jejak keaslian produk budaya ini. seorang bapak di ruangan itu mengumpat malaysia, saya lupa tepatnya apa. yang lain berkomentar manimpali. tidak, kami, mereka juga tidak saling kenal. kecuali satu identitas bersama, bahwa kami sama2 bagian dari negeri ini. dan kami sama2 tidak merelakan bagian negeri yang lain ‘dicaplok’ dari bermacam sisi oleh bangsa lain.

kami cinta negeri ini. meski baru bisa mengumpat, berkomentar, menulis status updates, katakanlah itu tidak konkret. tapi saya percaya satu hal. bahwa gelora kesatuan di dada kami adalah sesuatu yang konkret. dan itu tidak terbantahkan. seandainya tidak terlalu sopan, ingin saya berkata “terima kasih malaysia” untuk mengajarkan kami betapa berharganya perasaan kesatuan ini. betapa indah kemilau nasionalisme dan kebanggaan kami pada tanah air ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s