Ranum

Standard

Jika manusia diibaratkan buah, maka waktulah yang menentukan tingkat kematangan kita.

Selalu? Tidak juga, sebagian buah matang karena dikarbit. Nampak indah, nampak merah, padahal setengah mentah.

Dalam perjalanan ini aku menemukan, banyak orang yang terganggu dengan pertambahan usia, dan segelintir orang yang memeluk pertambahan usia dengan hangatnya.

Mereka yang ada di kategori pertama, entah kenapa, merasa ulang tahun adalah hal yang menyiksa. Begitu khawatir dengan keriput, dengan aneka tanda-tanda tua. Semuanya berlomba ingin kelihatan muda, meski sesungguhnya tua.

Mereka yang dikategori kedua lebih nyaman dengan dirinya. Mereka tak begitu mempermasalahkan soal pertambahan usia. Mereka nyaman dengan dirinya, tersenyum hangat pada tiap-tiap harinya. Orang-orang di kategori ini rasa-rasanya makin tambah umurnya, bertambah pula keindahannya. Hebatnya, in my personal experience, mereka adalah orang-orang baik yang sungguh-sungguh baik (bukan kelihatan baik atau pura-pura baik). Aku percaya, orang-orang berhati baik yang belajar dari tempaan hidup untuk selalu menjadi lebih baik, semakin hari akan semakin cantik (both men and women).

Kembali ke buah sebagai ibarat.

In my personal theory — in which you don’t need to completely agree, mereka di kategori pertama ibarat buah karbitan. Fisiknya matang tapi dalamnya tidak sematang penampakannya. Mereka mendewasa dalam raga, tapi sedikit banyak tertinggal dalam pematangan pola pikir dan/atau karakter persona. 

Sementara, orang-orang di kategori kedua seperti buah yang ranum. Lambat berkembang tapi belajar banyak dari tiap tamparan kehidupan. Matang dengan alami, sesuai kurun waktunya sendiri. Tanpa polesan, tanpa banyak dicampurtangani. Mereka di kategori ini matang luar dalam : ranum. Sehingga matang dengan harum. Dalam raga mereka menua, dalam pikiran, hati, karakter, dan tindak perbuatan mereka mendewasa. Kita mengenalnya dengan istilah mudah tapi sulit diperoleh. Yakni, bijaksana.

Kebijaksanaan itu tidak bisa muncul tiba-tiba. Ia adalah buah kerasnya hidup, pelajaran yang disarikan diantara  tawa dan air mata. Ia adalah kelapangan hati diantara himpit batu-batu dunia. Kemampuan melihat dengan jernih ketika semua mata air menjadi keruh. Kebijaksanaan, adalah keluhuran yang datang dari kematangan kita dalam menghadapi dunia di luar kita di satu sisi, dan diri kita sendiri di lain sisi.

Kebijaksanaan itulah, yang konon dalam pengalaman pribadiku mengamati orang-orang di kategori dua, yang menjadikan senyum mereka lebih bermakna. Kata-katanya mendalam dan kamu bisa dengan mudah beresonansi dengan hikmah kehidupan yang mereka bagikan. Pilihan hidupnya dibangun di atas berbagai pertimbangan, alih-alih impulsif diambil dadakan. Karenanya, bagiku mereka bertabur seperti bintang. Makin malam makin terang. Makin dewasa makin indah adanya.

Ranum. Adalah istilahku bagi mereka di kategori dua. Orang-orang dewasa tempatku bernaung ketika dadaku sesak minta istirahat. Ketika kepalaku penat dan dunia ini pekat. Mereka pohon-pohon besar, tempat bernaung bagi ulat seperti kondisi yang acapkali sekarat.

Pemurni. Di sisi mereka kita merasa tenang. Rasanya seperti memandang malam penuh dengan bintang.

Untuk paman dan bibi yang senantiasa ada tiap kali aku tak berdaya,

Anggun Nadia.

Advertisements

Tentang Aku dan Singa yang Sedang Tidur

Standard

Singa itu tidur. Dia singa yang kuat, berani, inovatif, dan bijak. Tapi dari luar, auranya membuat makhluk lain pikir panjang sebelum mendekat.

Aku adalah kutu yang aktif dan terus-menerus lapar.

Anggap saja dahulu aku hinggap di burung  gagak, sempat pula berpindah-pindah tempat. Inangku awalnya bervariasi. Tergantung kemana angin dan arah garukan binatang-binatang itu mengusirku pergi.

Gagak  hitam itu adalah awal perjumpaanku dengan singa. Singkatnya ketika gagak melintas di atas singa yang baru menyelesaikan jam makan siang, angin mengibasku jatuh. Aku jatuh. Limbung. Kepalaku pening tujuh keliling. Rasanya mau muntah. Aku lapar, haus, ingin rasanya dikasihani, ditolong, dan diberi jalan keluar.

Aku meluncur, jatuh berdebum. Pingsan, bangun untuk muntah untuk kemudian kembali hilang kesadaran. Pada hari kesekian aku bangun kelaparan. Aku makan saja, sembarang gigit entah dimana, aku tak begitu ingin memahaminya. Aku pulih perlahan, menikmati hidup yang  kadang serasa goyan-goyang. Sebagai kutu yang baru bangkit dari pingsan sekian kali 24 jam, yang kutahu saat itu adalah makan, makan, dan makan. Beruntung inang baruku punya banyak darah.

Setelah lewat sekian lama aku baru tertarik jalan-jalan. Mengeksplorasi tubuh inang baruku yang terasa goyang-goyang. Aku tau ini bulu, tapi tidak tau di bagian mana tubuh makhluk apa. Aku menyibak bulu terluar, duniaku sedang tenang, inangku sedang diam. Aku melompat keluar, ingin tahu ini dimana. Aku tercengang sesaat. Ternyata, aku pingsan dan makan di balik bulu ekor singa. Pantas kadang dunia ini limbung. Tak ajeg, goyang-goyang.

Singanya tidur. Dalam tidurnya ia menarik napas dalam kemudian mendengkur. Hewan lain kabur. Meski tidur, melihat singa tetap serasa melihat hantu bagi manusia. Pengalamanku memberiku cukup kapasitas untuk menimbang dan mengukur. Aku tahu makhluk ini takkan bangun meski aku menggigit di  sini dan mengundang sesama kutu membuat rusuh di lehernya. Aku jalan saja seenaknya. Melompat dari bulu ekor semeter dua meter. Lanjut jalan kaki sampai bosan. Aku menuju punggung, mampir ke kaki, lewat perut, menuju kepala, ke  sisi kumis singa tepatnya.

Perjalanan panjang membuatku lapar. Aku menggigit singa, pindah dari satu bagian ke bagian lain di kepalanya. Sesekali aku berpapasan dengan kutu lain. Mereka sangat ramah, salah satunya dengan sigap berkenalan denganku dan mengundangku pesta. Aku mulai menyukai singaku ini. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, aku bisa hidup sebagai kutu di tubuh singa.

Parabel Aku dan Singa : Ep.1

12.09 WIB

Anggun Nadia

A Hole In Me

Standard

I sat down with both of you. I sat down too, with the other in another kind of ceremony.

I talked, and smiled. I laughed, then cried. I thought I belong, before finally woke up and nodded. That I was neverĀ  belonged to anywhere nor anyheart.

I always alone. Even in the crowd. I hope to change it. Sometimes worked, sometimes not. My heart fluttered and my head flustered. I didn’t want to think, just wanted to pass by. Silently with no cry.

Nothing will stay forever, except the cycle of looking – finding – and loosing. No need to cry too much. No need to restrain and be like a good girl all the time. We’re just travellers, the passer by.

Remember,

Those who have wings are never meant to stay. So are they, so am I.


January 7th, 2018

Anggun