Inti Debu

Standard

Aku adalah inti,

Inti dari atom dari debu yang tak bosan melayang.

Melayang, atau dilayangkan.

 

Di antara angin debu-debu menyapa cahaya,

Terjerembab ke tanah merah,

Tak paham cara menolak untuk lekat.

 

Bersama debu-debu lain aku merasakan terbang,

Ringan,

Tak ada jejak, tak ada gelanggang,

Menghilang, dalam penerimaan,

Yang berkelindan dengan rasa melepaskan.

 

Aku hanya inti,

Inti atom  debu,

Tanpa nama berkelana, mengagumi titik-titik cahaya.

Hening.

Membiarkan segala lainnya mengambil peran untuk bersuara.

 

Aku adalah inti debu,

Yang diuntai benang-benang waktu,

Dilepaskan ke udara untuk pecah bersama abu,

Meluncur turun membanting bumi tanpa rasa,

Digamit air yang melepaskan diri dari kumparan awan lantaran bosan.

 

Aku hanya inti debu.

Tak pecah, tak satu, tak lesap, selalu di situ.

Kadang lekat, kadang terhimpit batu,

Kadang basah dilanda hujan yang lupa mengirim kabar datang.

 

Aku hanya inti debu.

Beri aku waktu,

Diapit cahaya, diayun udara,

 aku akan kembali terbang.

Ada. Sekaligus hilang.

 

08.14 WIB

16 Oktober 2018

Anggun Nadia

“segala di titik rendahku, membawaku kembali padamu.”

Advertisements

Mengenang Sore

Standard

Adalah rampungnya hari yang aku tunggu,

Menghilang di tepi waktu,

Bersahutan dengan rindu yang mencipak air di danau batu.

 

Sejuta waktu pada sejuta hari terakhirku,

Aku mengabaikanmu.

Adalah engkau sore yang kataku dengan setia akan kutunggu,

Pun adalah engkau, sore yang selelahnya aku, terabaikan dalam bisu.

 

Sore adalah sore,

Yang selalu kalah mentereng dari senja yang konon dipulas jingga,

Yang sederhana dan tak repot dinyana.

 

Adalah engkau sore yang kabur,

Sebelum dunia saling menikam dan pohon-pohon mengeluarkan jurus mematikan,

Sembunyi di balik sirip anak-anak ikan,

Meninggalkan semua yang bisa kau tinggalkan di belakang.

 

Hanya hatimu yang kau rengkuh dalam-dalam.

Kau bawa serta, kemanapun malam membawamu pulang.

Dalam diam,

Di lautan manusia yang kehilangan kesadaran.

 

12.10 WIB

15 Oktober 2018

Anggun Nadia

Tunas-Tunas Tertunda

Standard

Beberapa tahun lalu saya membaca tentang Pohon Bambu Cina, entah dimana. Inti ceritanya berkisar tentang mode hidup si pohon yang agak beda cerita. Nun di  masa SD sebagian kita pernah bereksperimen dengan pohon tauge, kecambah. Yang kemunculan tunasnya beda tipis waktunya dengan kemunculan akarnya.

Pohon Bambu Cina beda. Spesies ini menghabiskan sekitar 6 tahun untuk lebih dahulu menumbuhkan akar-akarnya. Belum. Belum sama sekali belum menampakkan tunasnya di atas tanah. Tahun-tahun awal kehidupan si Bambu Cina dihabiskan melubangi batu, mencari celah air, membentuk pijakan yang kokoh.  Tak ada daun tak ada batang. Segala tentangnya hanyalah akar yang bagi kita yang hidup di atas tanah ini, tak jua kunjung kelihatan.

Sedih? Tidak sih.

Karena pondasi tumbuh yang dibangun menahun ini menampakkan fungsinya saat si pohon mulai bertunas, keluar memecah tanah. Nun di saat pohon-pohon yang bertunas dan tumbuh besar duluan harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa tumbuh lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya sekarang, Bambu Cina yang tertunda tunas dan tumbuh ke atasnya ini naik terus menjangkau langit.

Dalam enam bulan setelah tunasnya, Bambu Cina bisa menjulang setinggi 20 meter dengan kualitas bambu yang luar biasa kokoh dan tak kenal patah. Pohon ini tumbuh melampaui tinggi pohon lainnya. Meninggalkan pohon-pohon yang bertumbuh sekian meter dalam sekian tahun lamanya. Sementara yang lain tak bisa tumbuh lebih tinggi, akar Bambu Cina yang digembleng selama enam tahun itu menjadi pondasi tumbuh yang memungkinkan tubuh atas tanahnya menjangkau langit lebih dan lebih tinggi lagi. Kokoh semenjak akarnya.

Filosofi Bambu Cina senantiasa segar di ingatan saya, sejak kali pertama saya membacanya entah kapan entah dimana. Hingga hari ini, iya tepat hari ini, saya membaca sejenis pohon serupa yang tak kalah hebatnya. Orang-orang mengenalnya sebagai Kurma.

 

Jadi ceritanya, dalam sebuah kajian pekan kemarin, saya mendengar satu pernyataan yang diulang oleh beberapa narasumber, yakni tentang pohon kurma yang bisa mengalirkan air. Saya penasaran. Memang gimana caranya sebuah pohon mengalirkan air. Browsing pun dimulai, hingga mampirlah saya ke beranda maya seorang teknisi jebolan ITB.

Serupa dengan Pohon Bambu Cina, Pohon Kurma memiliki fase yang sama yang konsisten bahkan dalam ekosistem yang lebih ekstrem semisal gurun. Di fase awal hidupnya, Kurma berkonsentrasi mencari air. Tak peduli seberapa dalam air sembunyi, ke sanalah akarnya akan menemukannya. Tidak tumbuh ke atas kecuali telah sampai ke sumber air yang dibutuhkannya. So? Bisa panjang sekali itu akarnya dan bisa lama sekali itu pencariannya.

Benar-benar makhluk yang tabah dan sabar…

 

Tidak hanya kisah seputar akar yang unik dari Kurma. Konon, ada teknik seru menanam kurma di gurun. Menurut blog yang saya baca, untuk menumbuhkan kurma di gurun, biji kurma mesti dipendam sekitar 2-3 meter sebelum akhirnya ditimbun dengan bebatuan. Mekanisme alami pertumbuhan kurma memungkinkannya bersabar sampai menemukan jalan air. Begitu akarnya sampai ke suplai air, tunasnya  akan mulai tumbuh dan eitsss.., uniknya adalah si tunas ini akan berjuang memecah batu yang menimbuninya terlebih dahulu.

Fungsi batu penimbun sebenarnya adalah untuk memaksimalkan pertumbuhan akar. Sehingga, tunasnya tidak akan tumbuh kecuali setelah akarnya demikian kokoh, cukup air, dan kuat menopang usaha tumbuh si tunas yang mesti berjibaku melawan batu-batu hambatan. Batu-batu itu pun perlahan bergeser memberi ruang, atau malah terpecah hancur dan terpaksa membuka celah bagi tunas untuk akhirnya muncul ke permukaan.

Keren kan?

 

Dalam satu dua momennya, cerita dua spesies ini mengingatkan kita pada kehidupan. Tentang kita yang merasa berjalan demikian lambat. Tentang kita yang merasa tertinggal dalam begitu banyak aspek. Rasa kerdil, inferior. Kadang bercampur rasa frustrasi melihat hidup orang lain yang jalannya bebas hambatan padahal kelakuan dan pilihan-pilihannya dalam hidup serba dipertanyakan.

Tapi acapkali jalan ceritanya memang mesti begitu.

Mesti menunggu. Bukan semata agar belajar sabar. Tapi lebih dari itu agar menjadi kuat, kokoh, dan tegar.

Mesti bertarung dulu. Kala yang lain sibuk main di taman bunga, satu dua orang diantara kita dihempas ke medan perang yang tak ada habisnya. Bukan agar mati muda.  Mungkin agar segala bunga dan kemudahan hidup jadi lebih manis maknanya. Bukankah hanya yang mengenal sakit yang mampu menghargai sehat. Dan hanya yang mengalami malam yang tau persis arti penting siang. Dan sebaliknya.

 

Mungkin memang begitu.

Tidak ada yang bengkok dalam jalan hidup kita. Yang bengkok adalah sudut pandang kita. Sementara jalannya sendiri didesain langsung oleh Yang Maha Mencipta. Kita lurus dalam rencanaNya, meski kadang tak senada dengan rencana kita.

Jangan-jangan, tentang kita dan fase hidup kita, tidak ada yang lebih lambat atau lebih cepat. Karena tiap individu lahir sepaket dengan desain uniknya. Tidak untuk diperbandingkan satu sama lainnya. Medan dan Jayapura beda dua jam lamanya, tapi tidak berarti Medan terlambat  dan Jayapura menang duluan kan? Kita merasa lambat dan merasa cepat, mungkin karena tertambat pada satuan waktu yang manusia buat.

Nun barangkali di semesta yang lebih tinggi, dimana setiap kita terikat hanya pada satuan rencana Tuhan, tidak ada perbandingan lambat dan cepat antar satu dengan lain manusia. Yang ada hanya diorama hamba yang patuh mengikut skenario Tuhannya.

Referensi :

https://hdmessa.wordpress.com/2016/06/02/falsafah-pohon-kurma/

 

Alasan dan tujuan, adalah latar belakang yang senantiasa mengiringi rencana Tuhan.

13.23 WIB , Jumat, 01 Juni 2018

Nyari apa nemunya apa.

Masih belum kejawab juga, soal bagaimana kurma mengalirkan air ke tanah yang gersang.

Anadia Fatimah