Titip

Tanganku pendek, maka aku tak mampu menjangkau ke situ. Aku berusaha, tapi malah memperbesar luka. Padahal, aku berpura-pura enteng hanya agar langkahnya ringan. Sayangnya hatinya sudah keburu pecah. Yang ada, aku menumpahkan satu ton garam ke luka yang menganga di dadanya. Maaf tidak lagi penting. Kata yang sama sudah jadi mantra untuk menutup hati yang... Continue Reading →

Goblin

Sepekan terakhir beberapa adegan dalam drama ini berkelibatan di kepalaku. Ada tiga adegan yang paling sering muncul. Pertama, saat Eunt Tak berkali-kali gagal mencabut pedang dari tubuh Goblin. Eun Tak gagal karena menurut takdir dewa, pedang hanya bisa dicabut ketika cinta keduanya telah mengakar kuat di hati masing-masing. Ironis. Kedua, saat Goblin menggenggam tangan Eun... Continue Reading →

Dalam Hidup…

Dalam hidup, akan ada titik dimana kita telah menjadi terlalu lelah untuk menghujat rasa sakit. Tidak ada lagi selera untuk menanggapi sumpah serapah, kata-kata keji, tuduhan tanpa dasar, dan ketakutan yang disamarkan dalam amarah. Kala itu, siapapun yang menyumpahimu tak kan lagi kau rasai. Titik itu adalah titik dimana kita telah begitu lelah menanggung hidup.... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑