Cinta Yang Aneh : Kau Membuatku Sakit, Tapi Aku Mencintaimu

Aku jatuh, aku sakit

Aku jatuh, aku sakit

Aku jatuh, aku sakit

 -0-

Aku jatuh, aku sakit

Aku jatuh, aku sakit

Aku jatuh, aku sakit

-0-

Aku bangkit

-0-

Aku berjalan seperti biasa

Aku terantuk, jatuh terguling-guling di tanah yang miring

 -0-

Aku jatuh, aku sakit

Aku jatuh, aku sakit

-0-

Aku anak nakal tapi

Tidakkah kau menyadari itu?

 -0-

Aku jatuh, aku sakit

Aku menangis

-0-

Tapi aku tertawa-tawa

Tertawa lantaran jatuh, kotor, terguling-guling

Justru.

=,)

-0-

 Jatuh

Memberi jeda pada hidup untuk kembali merenung

-0-

Jatuh adalah waktu yang tepat untuk menangis

Kau tau?

Seperti aku menyukai hujan, aku menyukai tangis

=,)

 -0-

Jatuh, sakit, sedih, mengajarkan kita banyak hal

Untuk melipat satu, tangis dan tawa sekaligus

Meluaskan ruang untuk lebih banyak menghirup udara

Memberi jeda untuk kembali bertanya

Adakah ini benar jalan kita

-0-

Aku jatuh, aku sakit

Aku suka

Justru

Karena keduanya adalah liku

Nadi sejati hidup itu

Dan taukah kamu?

 -0-

Aku bersyukur karena aku nakal

Anak nakal bisa menangis sambil tertawa

Aku bersyukur karena aku nakal

Terjerembab dalam dialektika cinta yang aneh

Sakit. Tapi suka

=,D

Kembali ke sisi awan, langit, air, udara, dan bintang

10 April 2012

04.59 WIB

Aku Menyukaimu

Aku menyukaimu,

Karena kau setia membina tangisku diantara jatuhmu

Aku menyukaimu,

Karena bersamamu orang-orang tidak memperhatikan, karena apa mata ini berair

Aku menyukaimu,

Bersamamu kepalaku meringan,

Beban-beban penat rontok bersama rintik

Aku menyukaimu,

Sangat.

Karena kau memberiku rasa sejuk

Karena kau adalah sensasi bebas yang tak selalu bisa aku kecap

Karena kau, adalah alasan bagi rumput untuk kembali tumbuh setelah diinjak.

Aku menyukaimu,

Menyukai caramu menumbuhkan pucuk-pucuk harapan

Aku menyukaimu,

Menyukai dirimu tiap kali kau memupus debu

Aku menyukaimu,

Menikmatimu membenamkan diri pada keluasan danau atau laut

Menyatunya, menjadi sangat berwibawa

Aku menyukaimu kala kau titis,

Aku menyukaimu kala kau merembesi celah-celah tanah, meninggalkan basah,

memadatkan debu diatas tanah

Nun, dari sudutku sekarang

Aku merindukanmu

Hujan.

Kapan kita boleh sama-sama lagi?

Ciputat, 9 April 2012

Tangga Cekat Seribu

Aku menanjak, jalan ini mendaki

Aku berteriak.

Seribu kata mendesak lidah, menunggu diluncur, tapi tau, mungkin saja tak kan pernah terluncur.

Seribu sesak menjangkau nafas,

Menggigit senja, menghabiskan panjang sabar

Menelantarkanku di peron stasiun bisu, di pagi-pagi buta

Gelap menyingkir,

Bintang membuyar.

Dingin fajar menelusup, menangkupku pada tungku yang menyala di atas es

Hatiku beku

Lantas mencair

Lalu luber, entah kemana menuju

Matahari pagi berbisik pada rumpun-rumpun bambu,

Ssssttt….’sebentar lagi, sayang. Aku akan datang’

Tapi bagaimanalah,

Nyatanya matahari dan rerumpun bambu tak pernah bersepakat dalam kata yang satu.

Tidak saling paham.

Bahkan mungkin tidak saling mengatakan.

Hanya lelakon dalam panggung kesepian yang kita cipta diantara dayu dawai-dawai waktu.

Aku pernah cerita, tentang kisahku di malam gelap itu

Dan ini kelanjutannya

Potongan-potongan,

Karena bukan tempatnya, untuk menampilkan semua

Segini saja.

Terima saja.

Aku tertidur dalam gelap, sesaat

Cukup untuk mengibaskan kantuk dari jantungku

Aku terbangun, embun jatuh menembus retina nadiku

Banyak cahaya, menyembul dari altar-altar hari

Dari awan, dari dangau-dangau, dari sela dedaunan

Aku silau

Mataku belum sempurna menangkap matahari

Menyipit, merundukkanku di pagi yang dingin

Mengerjap-ngerjap

Di depanku kumpulan daun mulai terpisah, lepas dari gelap menyeruput terang

Menyisipkan berkas pulasan hijau,

Penanda dirinya, daun.

Batu-batu mulai tersibak.

Kabut malam terangkat.

Tanah aneka gradasi menghampar, dijatuhi daun dan ranting yang jatuh tanpa malu

Bersama embun, meluncur, menelusur garis-garis tanah yang keriput.

Aneka warna, merebak mengikut sinar yang turun makin detik

Aku terpana sesaat,

Tersadar bahwa aku terjebak dalam realitas waktu

Malam untuk menangis

Pagi untuk menangis

Siang untuk menangis

Sore untuk menangis.

-hujan kamu di mana? Aku merindukanmu-

Aku belajar banyak semalam tadi

Menangkup reguk, untaian hikmah yang meregang di balik lipatan halaman ceritera

Tapi di pagi pun, ternyata sama menakutkan dengan malam.

Ah, tidak.

Ini hanyalah bahwa, hari ini aku saja yang sedang lemah

Aku yang sedang takut

Aku yang sedang gamang dengan bayanganku sendiri.

Rembulan terbentang, memudar menjauhi matahari.

Langit semakin biru, dan awan-awan berarak putih.

Dunia menukil cerah, menghimpun warna dalam satu wadah. Dirinya. Jagad semesta.

Ingat tidak, semalam aku bilang pada kalian, bintang-bintang.

Aku bingung. Takut. Terbenam dalam ketidaktahuan, ketidakpastian.

Pagi ini aku duduk menyela rumput,

Menjatuhkan embun yang memang sudah rindu berpulang ke pangkuan bumi.

Mengatakan hal yang sama.

Bingung. Takut. Tidak mengerti. Tidak tau mau kemana, mau bagaimana.

Sama saja ternyata.

Petang, malam, pagi, dan siang, realiitas waktu

Takdir yang tidak terbantahkan.

Dan aku tetap,

Di sudutku, berpikir untuk bergerak.

Namun, berdiri limbung pada sebatang kayu, jembatan dua jurang, bukan hal yang mudah

Atau aku yang terlalu menganggapnya susah.

Tuhan, sebentar lagi aku jatuh

Dan aku sudah ingin jatuh.

Tangkap aku Tuhan,

Sebelum tubuhku berdebam, beradu bentur dengan tanah kecokelat-cokelatan.

Dan aku sudah ingin menyerah,

Tuhan, hentikan aku.

Karena aku sangat-sangat cemas,

Kali ini, aku ingin kalah.

=,(

Tuhan, Bagaimana Ini?

Tuhan,

Bagaimana ini?

Aku menemukan diriku tersesat, tapi aku menikmatinya

Menginginkan diri sendiri jatuh, terperosok lebih dalam

Tuhan,

Bagaimana ini?

Aku mulai nakal,

Pelan-pelan aku lepas kendali

Semakin hari semakin manja dan semakin lemah terhadap diri

Tuhan, sebentar lagi aku jatuh, pegangi aku Tuhan, sebelum aku benar2 membentur muka tanah.

Tuhan,

Bagaimana ini?

Orang-orang bertarung dengan banyak hal dalam hidupnya.

Aku juga.

Tapi dalam hal ini, aku bertarung dengan diriku sendiri.

Tuhan,

Bagaimana ini?

Tidak Ingin Ini…

Semalam aku tidak pulang, voice over hingga malam.

Nginep di kosan mba suko.

 

Paginya, untuk ‘pertama kalinya’ setelah sekian lama, aku tidur pulas setelah shubuh.

Hingga jam 7 pagi.

 

Aku bangun. Tapi rasanya kosong. Tidak enak.

Tidak. Rasanya berbeda.

Dan walaupun lelah, aku lebih suka asramaku.

 

Aku sempat berpikir untuk menyelesaikan tahun ini, lalu pindah ke ciputat.

Aku pikir aku akan lelah, bolak-balik macam ini hampir tiap hari.

Masih mengemban amanah ini-itu sepulang kantor.

Dan masih berhutang skripsi.

 

Tadi pagi, yang rasanya kosong itu.

Aku jadi tau. Rasanya begitu.

Punya kosan yang dekat dengan kantor memberi ruang untuk punya lebih banyak waktu tidak produktif.

 

Mungkin unuk pertama kalinya, aku merasakannya.

Tidak produktif. Sangat. Tidak menyenangkan. Ada yang hilang. Aku kehilangan.

 

Mungkin ruh.

Yang hilang itu, mungkin bernama ruh.

 

Aku memang lemah.

Sedikit naik, lalu melemah kembali.

Tapi aku mencintai sensasi naik, walau baru mampu, kucicip sekelebat.

 

Sore ini bertemu, pojok kata-kata Tuhan.

Tuhan bilang,

‘Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama, kesempitan.’ (QS. Al Hajj : 78)

Sepotong Bilangan untuk Adaptasi

Ini cerita soal load capacity.

Tentang sabar, tentang hari-hari yang berat, penuh tanda tanya, penuh helaan nafas panjang, penuh  lika-liku uji.

 

Aku belajar di hari-hari belakangan ini.

Kita butuh waktu untuk adaptasi.

Untuk melihat, merancang, implementasi, evaluasi, dan mulai lagi. Dari langkah paling pertama tadi.

 

Kita bukan manusia yang terlahir langsung bisa berdiri.

Bergerak saja butuh berhari-hari untuk stabil.

Ini tentang ketergesaan dan kesalahan-kesalahan yang kita buat.

Kecil-kecil di awal.

Yang penting, apakah esoknya lantas kita perbaiki, ataukah kita diamkan dan ribut kita carikan argumen pembelaan.

 

Untuk semua orang yang meletakkan kepercayaannya pada diri ini.

Terima kasih.

Senang sekali menjangkau banyak, dari spektrum inspirasi yang kalian pancarkan kemanapun kalian pergi.

Maaf.

Karena mungkin tidak -atau belum- sebaik yang kalian cita-citakan atasku.

Maaf. Untuk kesalahan di hari pertama, kedua, dan ketiga, kita menggarap cita-cita ini bersama.

Maaf. Untuk kekacauan yang tak berhasil kutangani bahkan semakin menjadi lantaran satu dua lalai yang membukit.

Maaf. Untuk pekerjaan yang tak tuntas dengan sempurna.

Maaf. Untuk load capacity yang tidak langsung melar tiap amanah baru kalian suntikkan.

Aku butuh waktu.

Kita semua butuh waktu.

Untuk beradaptasi.

Dan memperbaiki diri.

 

Ayo!

Kita mulai lagi, pagi ini!

Bismillahirrahmaanirrahiiiim….

Orang-Orang di Perjalanan Waktu

Kita bertemu

Di suatu saat, di suatu tempat,

Kita berpisah

Di saat yang lain

Untuk tak pernah tau ada apa di depan

Berjalan. Menapak dan terus menapak

Meninggalkan sebagian, menemui sebagian

 

Sebagian kalian terlupakan bersama guliran masa

Aku tak menemukan rindu terekam di memoriku

Mungkin karena saat kita bertemu aku masih teramat kecil untuk mengerti

Bahwa takdir kita tidak pernah main-main terjadi

 

Sebagian kalian mengendap dalam kenangan

Tidak pernah hilang

Karena kita telah menyatu, masing-masing menjadi sosok yang baru

Kita telah (saling) belajar

Mengeja jejak, menelusur hikmah di balik masing-masing sosok

Tak kan mati. Karena kalian hidup bersama aku.

 

Sebagian lagi tetap di sini entah sampai kapan

Tak taulah entah, dengan rela atau terpaksa

 

Orang-orang datang dan pergi

Selalu begitu. Sama saja setiap hari.

Hanya bekasnya yang beda.

 

Sebagian mereka datang dalam hidupku

Mengajarkan satu dua ejaan baru

Lalu pergi

Tanpa bersalaman lebih dulu

 

Kau, termasuk di situ

Pergi, setelah beberapa hari sebelumnya membagi banyak hal denganku

Singkat. Padat. Dan jelas sekali kau pergi sore itu

 

Aku tidak merutukimu. Itu hakmu

Aku hanya menguatkan rasa percayaku,

‘jika memang harus pergi, pasti akan pergi’

‘jika memang harus kembali, pasti akan kembali’

Aku ikut saja

Meski kepalaku masih berat memikirkanmu

Meski sebagian diriku, menyayangkan itu

Dan sebagian lagi, tetap menempatkan kau di sini, di sudut yang sama dengan yang semula kau bertempat di sana

 

Aku pernah bilang bukankah?

Aku kemari untuk melarikan diri, dari diriku sendiri

Jika ini tempat yang benar untuk berlari menuju,

Aku berdoa semoga kau akan berlari pulang kemari

 

Kita sama-sama lari

Dengan alasan, dengan jalan,dengan tujuan yang tidak harus sepakat

Tapi kita sama-sama lari

Kemari.

Mencari. Apa yang kita cari.

 

Dan kau pergi. Padahal baru bertemu kemarin pagi.

Mungkin memang harus begini.

Mungkin juga tidak. Ini belum selesai, bisa jadi.

 

Aku masih menunggu, malam-malam kau membagi dirimu denganku

Membagi semua lelah kisahmu

Menempatkanku bertahun lebih tua dari usiaku

Kita duduk dan berdiri di bawah malam

Mendengarkan kisah paling gelap, yang tak sempurna kita bagi dengan orang-orang

 

Dan kau pergi

Dan aku tak melepasmu

Dan aku berharap kau kembali

Menyelesaikan pencarian kita sama-sama di sini

 

Manusia bisa jatuh, dan bangkit selamanya adalah pilihan

Manusia bisa kalah, tapi manusia sejati tidak menyerah pada keadaan sepanjang nafasnya adalah benar

Dan aku menantikan kau kembali

Menegaskan tidak ada yang salah dengan kita

 

Jika saja tak ada misi di balik cerita kita di sini

Jika saja tujuan kita sependek datang, duduk, dan pergi

Pergi saja. Aku ingin melepasmu dengan senyum dan bilang,

‘jalan hidup itu pilihan’

 

Tapi takdir kita membebat

Hingga kaki terbelit dan kita ‘jatuh’ kemari

Dan itu bukan kita yang pilih

Kita ‘diarahkan’ untuk memilih

Rencana terbaik yang tak mampu kita baca sempurna

Karena terlalu remehnya kita di depan bentang sempurna cerita versiNya

 

Kembali saja, setelah pikiranmu tenang dari badai

Kembalilah nanti, karena misi kita belum selesai

 

Di sini, di tempat kau dan aku bersama-sama hingga pagi yang lalu,

Ada yang lebih besar dari sekadar memasukkan huruf ke kepala

Kita bilang pada Tuhan, ‘kita ingin lari’

‘kita butuh diselamatkan’

Jika kemudian Dia bawa kita kemari

Tidakkah tidak sepantasnya kita menarik diri sebelum Dia sendiri yang menarik kita dari sini?

 

Harus meluaskan hati

Membuatnya lapang sampai langit pun kalah lapang

 

Harus melembutkan sangka

Sampai mampu menepis tiap bisik hati yang hina

 

Harus menukar lelah dengan sabar

Sampai tak lagi ada hari kecuali tawa dan tangis meleleh sama-sama

 

Pulanglah. Karena pelajaran kita belum selesai.

 

Ciputat, 16 desember 2012

Tentang ‘Aisyah Rina

Emosi Jiwa dan Penyakit yang Potensial Muncul

Diposting ulang dari tweet @MRIPusat, akun Masyarakat Relawan Indonesia, sebuah jejaring relawan di bawah koordinasi Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Tweet ini diolah dari informasi yang tertera di buku The Healing and Discovering, The Power of Water, karya Dr. Masaru Emoto.

Selama 5 menit MARAH, PANIK, dan KHAWATIR, maka imun sistem tubuh kita depressi 6 jam.

Dendam, menyimpan kepahitan, imun tubuh kita mati. Disitulah bermula awal segala penyakit STRESS, Kolesterol tinggi, pemicu Darah Tinggi dan juga Jantung, rhematik, arthritis, Stroke (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

Jika MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

Jika sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

Jika sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah trkena penyakit GINJAL.

Jika suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

Jika kita mudah EMOSI dan cendrung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

Jika sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (memori dan kontrol fungsi tubuh berkurang).

Jika sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

Jika sering MEMBANTAH dan selalu meyalahkan pendapat orang lain, maka kita bisa terkena penyakit SEMBELIT (susah buang air besar).

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi, karena dgn bersyukur, maka “hati” ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh utk mengusir segala macam penyakit.

Cerita tentang Air Tawar

Mengapa Rasulullah SAW melarang kita minum sambil berdiri?

Ternyata secara medis, dalam tubuh manusia terdapat penyari sfringer. Saringan tersebut dapat terbuka ketika kita duduk, dan tertutup manakala berdiri. Air yang kita minum belum 100% steril untuk diminum. Bila kita minum sambil berdiri, maka air tidak tersaring sfringer, langsung masuk ke kantung kemih, sehingga dapat menyebabkan penyakit kristal ginjal.

Terapi air tawar :

  1. Minum 2 gelas setelah bangun tidur dapat membersihkan organ-organ internal.
  2. Minum 1 gelas air, 30 menit sebelum makan dapat membantu fungsi seluruh pencernaan + ginjal.
  3. Minum 1 gelas air sebelum mandi, dapat menurunkan tekanan darah.
  4. Minum 1 gelas air sebelum tidur dapat mencegah stroke dan serangan jantung.

Ajari Kami Kesederhanaan, Tuhan

Lagi, dinukil dari buku Kaya Lewat Jalan Tol. Diolah dari halaman 96 – 101.

… Sederhana bukan berarti tidak boleh kaya…Esensi sederhana lebih pada jiwa, pada diri yang paling dalam.

Kesederhanaan ketika kaya adalah ketika kita mampu berbagi dengan kekayaan itu.

Kesederhanaan ketika kuat adalah ketika kita mampu melindungi dan menolong sesama.

Kesederhanaan ketika menjadi pemimpin, yakni tetap sahaja, tidak sombong, dan sangat menginginkan agar ia dan yang dipimpinnya bisa dekat dengan Allah.

Kesederhanaan ketika sukses adalah ketika kita semakin mampu berempati kepada orang-orang yang menderita.

Kesederhanaan ketika populer adalah tetap sahaja, tidak besar kepala, dan memandang popularitas sebagai ujian, bukan kebanggaan.

Kesahajaan akan muncul dari jiwa yang sederhana. Kesederhanaan adalah jujur bertanya pada diri, apakah keinginan kita sejajar dengan apa yang diinginkanNya.

Karena selamanya, kesederhanaan adalah keindahan di mata Tuhan.

Kekayaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan. Dan ia tidak selalu terletak pada kekayaan.