Kita bertemu
Di suatu saat, di suatu tempat,
Kita berpisah
Di saat yang lain
Untuk tak pernah tau ada apa di depan
Berjalan. Menapak dan terus menapak
Meninggalkan sebagian, menemui sebagian
Sebagian kalian terlupakan bersama guliran masa
Aku tak menemukan rindu terekam di memoriku
Mungkin karena saat kita bertemu aku masih teramat kecil untuk mengerti
Bahwa takdir kita tidak pernah main-main terjadi
Sebagian kalian mengendap dalam kenangan
Tidak pernah hilang
Karena kita telah menyatu, masing-masing menjadi sosok yang baru
Kita telah (saling) belajar
Mengeja jejak, menelusur hikmah di balik masing-masing sosok
Tak kan mati. Karena kalian hidup bersama aku.
Sebagian lagi tetap di sini entah sampai kapan
Tak taulah entah, dengan rela atau terpaksa
Orang-orang datang dan pergi
Selalu begitu. Sama saja setiap hari.
Hanya bekasnya yang beda.
Sebagian mereka datang dalam hidupku
Mengajarkan satu dua ejaan baru
Lalu pergi
Tanpa bersalaman lebih dulu
Kau, termasuk di situ
Pergi, setelah beberapa hari sebelumnya membagi banyak hal denganku
Singkat. Padat. Dan jelas sekali kau pergi sore itu
Aku tidak merutukimu. Itu hakmu
Aku hanya menguatkan rasa percayaku,
‘jika memang harus pergi, pasti akan pergi’
‘jika memang harus kembali, pasti akan kembali’
Aku ikut saja
Meski kepalaku masih berat memikirkanmu
Meski sebagian diriku, menyayangkan itu
Dan sebagian lagi, tetap menempatkan kau di sini, di sudut yang sama dengan yang semula kau bertempat di sana
Aku pernah bilang bukankah?
Aku kemari untuk melarikan diri, dari diriku sendiri
Jika ini tempat yang benar untuk berlari menuju,
Aku berdoa semoga kau akan berlari pulang kemari
Kita sama-sama lari
Dengan alasan, dengan jalan,dengan tujuan yang tidak harus sepakat
Tapi kita sama-sama lari
Kemari.
Mencari. Apa yang kita cari.
Dan kau pergi. Padahal baru bertemu kemarin pagi.
Mungkin memang harus begini.
Mungkin juga tidak. Ini belum selesai, bisa jadi.
Aku masih menunggu, malam-malam kau membagi dirimu denganku
Membagi semua lelah kisahmu
Menempatkanku bertahun lebih tua dari usiaku
Kita duduk dan berdiri di bawah malam
Mendengarkan kisah paling gelap, yang tak sempurna kita bagi dengan orang-orang
Dan kau pergi
Dan aku tak melepasmu
Dan aku berharap kau kembali
Menyelesaikan pencarian kita sama-sama di sini
Manusia bisa jatuh, dan bangkit selamanya adalah pilihan
Manusia bisa kalah, tapi manusia sejati tidak menyerah pada keadaan sepanjang nafasnya adalah benar
Dan aku menantikan kau kembali
Menegaskan tidak ada yang salah dengan kita
Jika saja tak ada misi di balik cerita kita di sini
Jika saja tujuan kita sependek datang, duduk, dan pergi
Pergi saja. Aku ingin melepasmu dengan senyum dan bilang,
‘jalan hidup itu pilihan’
Tapi takdir kita membebat
Hingga kaki terbelit dan kita ‘jatuh’ kemari
Dan itu bukan kita yang pilih
Kita ‘diarahkan’ untuk memilih
Rencana terbaik yang tak mampu kita baca sempurna
Karena terlalu remehnya kita di depan bentang sempurna cerita versiNya
Kembali saja, setelah pikiranmu tenang dari badai
Kembalilah nanti, karena misi kita belum selesai
Di sini, di tempat kau dan aku bersama-sama hingga pagi yang lalu,
Ada yang lebih besar dari sekadar memasukkan huruf ke kepala
Kita bilang pada Tuhan, ‘kita ingin lari’
‘kita butuh diselamatkan’
Jika kemudian Dia bawa kita kemari
Tidakkah tidak sepantasnya kita menarik diri sebelum Dia sendiri yang menarik kita dari sini?
Harus meluaskan hati
Membuatnya lapang sampai langit pun kalah lapang
Harus melembutkan sangka
Sampai mampu menepis tiap bisik hati yang hina
Harus menukar lelah dengan sabar
Sampai tak lagi ada hari kecuali tawa dan tangis meleleh sama-sama
Pulanglah. Karena pelajaran kita belum selesai.
Ciputat, 16 desember 2012
Tentang ‘Aisyah Rina